Kisah Nabi Ilyas As

Nabi Ilyas (Elia) merupakan keturunan keempat Nabi Harun. Ilyas diutus untuk mengingatkan raja Israil agar kembali menyembah Allah.

“Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu): Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas. ” (QS. Ash-shaafaat [37]: 129-130).

Baca kisah Nabi Ilyas As selengkapnya di bawah ini.

Sebelum Nabi Ilyas Diturunkan

Setelah raja Sulaiman wafat, kerajaannya diwariskan kepada anak-anaknya yang menjadi raja pengganti. Kerajaan terpecah dua, wilayah Yerusalem dikuasai oleh bangsa Yehuda, sedangkan wilayah utara dikuasai oleh Israil. Masing-masing mengangkat pemimpinnya sendiri. Yehuda dipimpin Rehabeam dengan penasihat seorang nabi bernama Semaya. Sedangkan Israil dipimpin oleh Yerobeam.

Meskipun kedua kerajaan ini terpisah secara administratif, namun semua rakyat selalu datang ke Yerusalem untuk melakukan ibadat. Melihat hal itu raja Yerobeam merasa khawatir. “Jika rakyat tetap pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Rumah Tuhan (Baitul Maqdis) seperti yang mereka lakukan sekarang ini, mereka akan kembali mendukung Rehabeam, raja Yehuda. Kerajaanku bisa hancur dan aku tak lagi menjadi raja.”

Didorong oleh rasa khawatir tersebut, raja Yerobeam lalu membuat dua patung sapi emas lalu berkata kepada rakyat Israil, “Bangsa Israil! Sudah cukup lama kalian pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang inilah Tuhanmu yang telah membawamu keluar dari Mesir” (sambil menunjuk ke patung sapi emas).

Lalu Yerobeam membuat kuil dan rumah peribadatan untuk menyimpan patung tersebut. Yerobeam juga mengangkat para imam besar yang bukan dari keturunan Lewi.

Jika kita baca kisah Nabi Yakub, telah dinubuwahkan, telah menjadi ketetapan Allah, bahwa raja Bani Israil berasal dari keturunan Yehuda sedangkan para imam atau pemimpin agama berasal dari keturunan Lewi. Yerobeam telah melangkahi nubuwah Tuhan.

Lalu, jika ingat kisah Musa, tentu kita juga menyaksikan penyembahan sapi emas yang dibuat oleh Samiri yang membuat umat kembali menyembah berhala. Pola yang sama terulang kembali. Ketika orang kehilangan rasa tunduknya kepada Allah, maka akan mudah sekali hatinya condong pada kekuasaan.

Demi mempertahankan kekuasaanya, Yerobeam membuat sendiri ‘tuhan’, dan peribadatannya. Selama 20 tahun Yerobeam memimpin Israil dan menciptakan tradisi baru sesuai keinginannya.

Kerajaan Israil selalu mengalami konflik perebutan kekuasaan. Raja-rajanya tidak pernah ada yang bertahan lama. Sementara berhala makin banyak mengisi rumah ibadat. Bahkan saat masa pemerintahan Raja Ahab, ia membuat patung Dewi Asyera sebagai lambang dewi kesuburan dan kemakmuran.

Masa Kecil Nabi Ilyas

Nabi Ilyas (Elia) merupakan keturunan keempat Nabi Harun. Harun merupakan nabi sekaligus saudara kandung Nabi Musa. Saat kelahirannya, muncul cahaya terang benderang yang membuat gempar penduduk. Mereka segera menyadari, bahwa telah lahir seorang utusan Allah yang akan mengalahkan kejahatan.

Sejak kecil Ilyas telah menunjukkan kesuciannya. Usia 7 tahun, Ilyas telah menghafal semua isi kitab Taurat. Sejak kecil Nabi Ilyas lebih senang berada di hutan bermain bersama hewan.

Turun wahyu pertama saat Ilyas berusia 35 tahun, untuk mengingatkan raja Israil agar kembali menyembah Allah. Namun raja Israil tidak mematuhi peringatan dari Ilyas. Lalu dikatakan, bahwa kota Samaria akan dilanda kemarau panjang selama 3 tahun 6 bulan lamanya. Lalu Nabi Ilyas melanjutkan perjalanan kembali ke gunung.

Kemudian disampaikan kepada Ilyas untuk menemui seorang ibu yang memiliki seorang anak laki-laki. Ilyas tinggal di sana dan diberi makan oleh perempuan tersebut. Ketika anak laki-laki itu wafat, Ilyas menghidupkan kembali anak tersebut dengan kuasa Allah.

Bencana kemarau menyebabkan kelaparan. Raja Israil, Ahab, telah meminta para imam berdoa kepada berhala dan Dewi Asyera, namun kemarau berkepanjangan tetap berlanjut.

Akhirnya, raja Ahab mengerahkan semua orang untuk menemukan Nabi Ilyas agar ia memohonkan kepada Allah mencabut bencana tersebut.

Nabi Ilyas berhasil ditemukan oleh seorang beriman bernama Obaja. Obaja adalah pegawai istana yang diam-diam tetap menyembah Allah sejati. Obaja takut jika ia membawa Ilyas maka ia akan dituduh telah menyembunyikan Ilyas. Karena memang tak pernah ada seorang pun yang sanggup menemukan Ilyas.

Meski seluruh penjuru negeri telah ditelusuri oleh pasukan kerajaan terlatih. Semua rumah digeledah. Hutan dijelajahi. Bahkan raja Ahab turut mencari di mana keberadaan Ilyas. Tanpa disertai rasa keimanan mereka tak berhasil menemukan persembunyian Ilyas.

Hanya Obaja, yang dengan keimanannya ditolong Allah untuk bertemu dengan hamba beriman lainnya, yaitu Nabi Ilyas. Obaja adalah orang yang membantu 100 nabi untuk bersembunyi dari kejaran Izabel, permaisuri raja, seorang penyembah berhala.

Izabel tidak ingin ada penyembah Allah. Ia ingin negerinya bertuhankan berhala. Jika ada yang mengganggu kemauannya, ia tak segan memberi hukuman.

“Wahai nabi, serahkan dirimu kepada raja. Aku tak sanggup menghadapi tuduhan raja. Ketahuilah, saya adalah penyembah Allah sebagaimana yang engkau sembah. Saya sungguh-sungguh beribadat kepada Tuhan sejak kecil. Saya turut menyembunyikan 100 nabi dari kejaran ratu Izabel, dan saya pula yang memberi mereka makan dan minum. Sekarang datanglah kepada raja. Sebelum ia menghukum kami semua.”

Ilyas menjawab, “Demi Tuhan Yang Mahakuasa yang saya layani, saya berjanji akan datang sendiri menghadap raja hari ini juga.”

Ketika Ilyas menghadap raja, ia meminta agar Ahab mengerahkan seluruh patung berhala dan imam penyembah berhala untuk menemuinya di Gunung Karmel.

Ilyas menyeru kepada Bani Israil, “Sampai kapan kalian mau tetap mendua hati? Kalau Tuhan itu Allah, sembahlah Tuhan! Kalau kalian menganggap Tuhanmu Baal, maka sembahlah Baal.”

Semua yang mendengar terdiam mendengar perkataan Ilyas.

Lalu Ilyas memaklumatkan, ia dan para nabi Baal akan membuat kurban sebagai persembahan kepada Allah. Siapa yang diterima kurbannya maka akan turun api dari langit membakar daging kurban tersebut. Umat menyetujui.

Kata Ilyas, “Karena kalian lebih banyak dari aku, silakan kalian lebih dulu memilih sapinya dan menyiapkannya, tetapi jangan menyalakan api pada kayunya. Setelah itu berdoalah kepada tuhanmu. Jika ia berkenan maka akan didatangkan api dari langit untuk membakar kurban persembahan kalian.”

Lalu para penyembah berhala melakukan berbagai ritual, namun tidak ada perubahan apa pun. Tidak ada api yang menyala, sementara hari sudah lewat siang.

Tiba giliran Ilyas untuk menyerahkan kurbannya. Sapi yang ia pilih kemudian dagingnya dipotong-potong dan diletakkan pada sebuah meja yang tersusun dari 12 batu. 12 batu melambangkan ke12 suku, para putra Yakub.

Sebagaimana dalam kisah Musa, saat Musa memukulkan tongkatnya pada 12 batu yang darinya memancar mata air, sehingga masing-masing suku memiliki sumber airnya sendiri.

Setelah itu Ilyas berdoa, “Ya Tuhan, Allah yang disembah oleh Ibrahim, Ishak, dan Yakub, nyatakanlah sekarang ini bahwa Engkaulah Allah di Israil, dan saya hamba-Mu. Nyatakanlah juga bahwa segala yang saya lakukan ini adalah atas perintah-Mu. Jawablah, Tuhan, jawablah saya agar umat ini tahu bahwa Engkau ya Tuhan, adalah Allah, dan bahwa Engkaulah yang membuat mereka kembali pada-Mu.”

Lalu datanglah api dari langit menyambar kurban Ilyas berikut 12 batu yang tersusun. Pada saat rakyat melihat hal itu mereka tersungkur ke tanah sambil berkata, “Tuhan itu Allah! Sungguh Tuhan itu Allah! ”

Mereka mengaku beriman kepada Ilyas. Namun keimanan mereka harus diuji. Mereka harus menghancurkan semua berhala yang ada. Rakyat patuh pada perkataan Ilyas.

Berkata Ilyas kepada Raja Ahab, “Baginda pulanglah dengan keretamu karena sebentar lagi hujan akan turun.” Dalam sekejap langit menjadi mendung, dan angin kencang bertiup serta hujan lebat pun mulai turun. Hujan turun setelah tak pernah ada setetespun air turun dari langit selama 3 tahun 6 bulan.

Raja menceritakan semua yang ia lihat kepada Ratu Izabel. Izabel menjadi marah karena semua ‘tuhan’ berhalanya telah dihancurkan. Izabel memerintahkan pasukannya untuk menangkap Ilyas. Ilyas kemudian berjalan keluar negerinya dan melakukan perjalanan selama 40 hari lamanya menuju Gunung Sinai.

Gunung Sinai adalah tempat Musa menerima wahyu Taurat. Lalu Tuhan mewahyukan kepada Ilyas, “Pergilah ke Damaskus (negeri Syam) lalu pergilah ke kota. Angkatlah Hazael sebagai Raja Siria, demikian pula angkatlah Yehu sebagai Raja Israil, dan kepada Elisa, bimbinglah ia agar menjadi nabi sebagai penggantimu. Ketahuilah, aku akan menyelamatkan 7.000 orang di Israil, yaitu orang-orang yang tetap setia kepada-Ku dan tak pernah sujud menyembah patung Baal atau menciumnya.”

Setelah menerima wahyu dari Allah, Ilyas turun dari Gunung Sinai untuk melakukan yang telah diamanahkan Allah kepadanya.

Kisah Nabi Ilyas dan Orang Buta

Suatu ketika Ilyas bertemu seorang saleh yang buta tengah menangis. Ilyas bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudara?”

Pria buta menjawab, “Aku menangis karena tidak bisa melihat Nabi Ilyas, kudus Allah itu.”

Nabi Ilyas menegur orang tersebut karena tak perlu menangis hanya karena tak bisa melihat seorang nabi.

Pria buta menjawab, “Wahai fulan, jelaskan padaku, kenapa engkau menegur keinginanku untuk melihat seorang nabi Allah yang telah membangkitkan orang mati dan menurunkan api dari langit itu?”

“Ketahuilah, wahai saudara, Ilyas tidaklah seistimewa itu, ia tak dapat melakukan apa pun seperti yang kau katakan tadi. Karena ia seperti engkau juga, sesama hamba Allah yang bahkan tidak mampu untuk menciptakan seekor lalat pun!” Jawab Ilyas.

Pria buta menjawab, “Engkau mengatakan demikian, mungkin karena kau pernah ditegur Ilyas atas dosa-dosamu hingga perkataanmu kepadanya sungguh tak pantas!”

Nabi Ilyas menjawab, “Semoga perkataanmu benar, wahai saudara, karena apabila aku membenci Ilyas, niscaya aku akan semakin mencintai Allah.”

Menjadi marahlah pria buta tersebut, “Demi Allah, mengapa kau berkata seperti itu? Dapatkah seseorang mengatakan mencintai Allah tapi membenci Nabi-Nya? Pergilah kau, aku tak mau bicara lagi padamu!”

Nabi Ilyas menjawab, “Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau hanya melihat melalui pikiranmu semata. Betapa besar bahaya penglihatan (raga) itu, karena engkau mengharapkan cahaya untuk melihat Ilyas sementara engkau membenci Ilyas dengan jiwamu.”

Pria buta itu masih melampiaskan amarahnya kepada Ilyas yang dianggap telah menghina Nabi-Nya.

Kemudian Ilyas menjawab sambil berlinang airmata, “Sungguh engkau telah berucap benar, wahai saudara, karena raga yang hendak kau lihat ini telah memisahkan aku dari Allah. Raga inilah yang membuatku menjauh dari hadhirat-Nya.”

“Siapakah engkau yang berani berucap demikian?” Tanya pria buta.

Ilyas menjawab, “Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sebenarnya aku inilah Ilyas.”

Namun pria buta tak percaya karena ia memang tak pernah melihat rupa Ilyas yang sebenarnya. Lalu murid-murid Ilyas membenarkan perkataan Ilyas, meyakinkan pria buta bahwa yang ada di hadapannya ini adalah Ilyas, Nabiyullah yang kudus.

“Jika memang dia betul Nabi Ilyas, maka hendaklah ia terangkan kepadaku dari keturunan siapakah aku ini? Dan, apa penyebab aku menjadi buta?”

Nabi Ilyas menjawab, “Engkau adalah keturunan Lewi (keturunan Yakub yang melahirkan garis imarn/pemuka agama), dan tentang sebab engkau menjadi buta, adalah saat engkau berada dalam rumah ibadah, saat tengah khalwat dengan Allah yang Maha Quddus, engkau telah memandang seorang perempuan dengan syahwat, maka Rabb kita menghilangkan penglihatanmu!”

Maka menangislah pria buta tersebut dan berkata, “Ampunilah aku, yaa Nabiyullah, karena aku telah meragukanmu dan berucap tak pantas di hadapanmu. Andaikan aku dapat melihatmu niscaya aku tidak akan berbuat kesalahan seperti tadi!”

Nabi Ilyas as. menjawab, “Semoga Rabb (Tuhan) kita mengampuni engkau, wahai saudara. Karena aku mengetahui bahwa engkau telah berucap benar tentang apa yang menyangkut diriku. Oleh karena itu, semakin aku membenci diriku maka semakin pula aku bertambah kecintaan kepada Allah. Dan jika engkau melihat aku, niscaya padamlah keinginanmu yang tidak diridhai Allah itu. Karena Ilyas bukanlah yang menciptakanmu, tetapi Allah-lah Dzat yang menciptakanmu.”

Kemudian Nabi Ilyas menyambung uraiannya sambil menangis: “Sungguh aku ini adalah seorang setan terhadap yang menyangkut dirimu, karena aku telah memalingkan engkau dari Pencipta-mu. Jika demikian, maka menangislah, wahai saudara, karena tiada cahaya bagimu yang memperlihatkan kepada engkau antara kebenaran dengan kebathilan. Andaikan ada cahaya itu padamu, niscaya engkau tidak akan meremehkan ajaranku. Dari itu kukatakan kepadamu, bahwa banyak yang ingin melihatku, dan mereka datang dari tempat yang jauh untuk sekadar melihatku, sementara mereka melalaikan nasihat-nasihatku. Karenanya, demi keselamatan mereka, lebih baik mereka tidak mempunyai mata. Karena, barangsiapa yang merasa senang dengan suatu makhluk, apa pun itu, sementara dia tidak bersungguh-sungguh dalam mencari keridhoan Allah, maka dia adalah orang yang telah membuat berhala dalam hatinya dan telah meninggalkan Allah.”

Kisah Nabi Ilyas dengan pria buta ini diriwayatkan di dalam Kitab Injil Barnabas. Kisah Nabi Ilyas ini diriwayatkan oleh seorang nabi yang bergelar Ruhullah, yakni Nabi ‘Isa Al-Masih setelah melalui waktu berabad-abad.

Ketika selesai menceritakan kisah ini, kemudian Nabiyullah yang mulia, Nabi ‘Isa sambil bernapas panjang berkata, “Sudahkah kalian memahami segala apa yang dikatakan Ilyas?”

Para murid Nabi Isa as. menjawab: “Sungguh kami telah memahami, dan kami heran setelah mengetahui bahwa di bumi ini tiada yang tidak menyembah berhala kecuali sedikit saja.”

Tinggalkan komentar