Kisah 25 Nabi dan Rasul

Siapa yang tidak pernah mendengar kisah 25 nabi dan rasul? Atau setidaknya salah satu di antara 25 nabi dan rasul tersebut? Sejak kecil semua umat beragama telah mendengar dan membaca kisah para nabi. Masih terngiang-ngiang kehebatan para nabi.

Ada Nabi Ayyub yang sabar, Nabi Yahya yang asketis, Nabi Musa yang bisa membelah lautan, Nabi Adam dan buah khuldi, Nabi Yusuf yang tampan, Nabi Ibrahim yang tak mempan dibakar, Nabi Daud yang ahli perang, Nabi Sulaiman yang bisa bicara dengan hewan, ada keajaiban kapal Nabi Nuh, unta Nabi Saleh, tangga Nabi Yakub, dan seterusnya.

Dikatakan dalam hadist,

“Daud adalah pembuat perisai, Adam seorang petani, Nuh tukang kayu, Idris seorang penjahit, dan Musa adalah penggembala.” (HR. Alhakim)

Tapi sebenarnya apa makna dari kisah para nabi dan rasul tersebut? Apa yang hendak dikabarkan oleh para nabi kepada umat? Apa kaitannya dengan kehidupan kita hari ini? Bagian mana dari kisah tersebut yang berfungsi menguatkan fu’ad, sebagaimana yang disebutkan Al-Qur’an? Jika hikmah adalah sari pengetahuan yang berasal dari khasanah Ilahiyyah, melalui perangkat apakah kita bisa mendapatkan hikmah tersebut?

Kisah nabi tak mengabarkan nostalgia kisah masa lalu, di mana umat demikian bebal untuk beriman kepada Allah. Bukan sekadar mengenang kisah kejayaan para nabi di masa lalu.

Kajilah sejarahnya, dan kita akan terperangah dengan tingginya peradaban masa itu, di mana kebijakan yang hadir di di zaman tersebut masih relevan hingga saat ini. Umat yang hidup di masa itu tak kalah cerdas dan mereka jauh lebih siap menghadapi peperangan.

Di balik kisah 25 nabi dan rasul yang heroik itu, ada pengorbanan luar biasa dari orang-orang yang telah menjadikan dirinya sebagai martir, sehingga menjadi ibrah bagi umat di masa depan.

Di balik kisah nabi yang penuh kemewahan mukjizat, tersimpan kerinduan mendalam dari para hamba yang mencari ridho-Nya.

Di balik kisah para nabi terdapat simbol-simbol yang merepresentasikan kehidupan manusia hari ini.

Pada hakikatnya, pertempuran antara ‘kebenaran’ dan kebatilan selalu terjadi setiap saat dalam diri masing-masing. Coba amati apa yang “bersuara” dalam hati kita.

Ada nabi dalam diri yang mungkin sudah ‘lemah’ suaranya karena ditindas oleh umat yang banyak. Umat dalam diri wujudnya bisa berupa hasrat, syahwat, waham, hawa nafsu yang tak sejalan dengan kehendak-Nya. Di dalam hati ini jangan-jangan ada berhalanya juga.

Manusia modern mungkin tak lagi menyembah berhala secara kongkret, tapi berhala yang bercokol di hati manusia bisa berupa hasrat terhadap kekayaan, jabatan, popularitas, daya tarik fisik, kecerdasan, logika, dan sebagainya.

Manusia modern merasa sudah menjalankan syariat sesuai tuntunan Al-Qur’an. Namun, realitanya kita masih terkendala dalam menerapkan ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasul di kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan yang kita punya lebih sering digunakan untuk memperkaya diri sendiri. Kita merasa sudah beragama padahal apa yang dilakukan dari hari ke hari masih diwarnai waham. Waham adalah ilusi tentang “kebenaran”. Ketika merasa diri sudah benar, merasa diri lebih baik, itu penanda bahwa kita belum termasuk mukhlasun lahuddiin.

Kisah kenabian ini akan membantu untuk mengilustrasikan peta perjalanan seorang hamba untuk kembali kepada Tuhannya. Kisah para nabi merupakan cerminan kisah diri manusia. Kisah yang selalu terjadi di sepanjang zaman.

Kitab suci memang sudah disempurnakan melalui Al-Qur’an. Rasul terakhir adalah Rasulullah, namun para nabi yang fungsinya tidak membawa risalah, bisa jadi masih bertebaran di muka bumi.

Mereka diturunkan untuk menyeru manusia untuk kembali memurnikan pengabdiannya kepada Allah. Selalu ada pola yang terulang di setiap zaman, tentu dengan bobot dan dimensi yang berbeda.

Baca masing-masih kisahnya di bawah ini.

Kisah Nabi Yahya dan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kepada Yahya: “Dan kesejahteraan bagi dirinya, pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS.…

Selengkapnya

Kisah Nabi Yunus ‘Alaihissalam

“Seandainya ia (Yunus) bukan termasuk orang-orang yang Almusabihin (orang yang mendekatkan diri kepada Allah), niscaya ia akan tetap tinggal di…

Selengkapnya

Kisah Nabi Ilyasa As

Kembali lagi kita menceritakan kisah nabi dan rasul, kali ini adalah kisah Nabi Ilyasa, pengganti Nabi Ilyas. Nabi Ilyasa menyampaikan…

Selengkapnya

Kisah Nabi Ilyas As

Nabi Ilyas (Elia) merupakan keturunan keempat Nabi Harun. Ilyas diutus untuk mengingatkan raja Israil agar kembali menyembah Allah. “Dan Kami…

Selengkapnya

Kisah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam

Berikut kami ceritakan kisah Nabi Sulaiman As, seorang yang dianugerahi oleh Allah SWT kekayaan yang melimpah ruah, tidak akan pernah…

Selengkapnya

Kisah Nabi Daud ‘Alaihissalam

Inilah kisah Nabi Daud As, nabi yang terkenal kuat dan memiliki suara yang paling indah. Baca kisah selengkapnya di bawah…

Selengkapnya
Back to top button