Kisah Nabi Nuh As

Kisah Nabi Nuh AS. Keturunan Idris yang bernama Nuh menjadi nabi sekaligus rasul pertama di bumi. Rasul adalah nabi yang membawa risalah untuk umat. Beliau rasul pertama yang dijuluki ulul azmi. Beliau dikenal dengan nama ‘Nuh’ yang berarti ‘menangis’ karena suatu peristiwa.

Suatu ketika Nuh melihat seekor anjing dan berkata betapa buruknya anjing tersebut. Tiba-tiba anjing tersebut berkata, “Apakah engkau sedang menghinaku, wahai Nuh? Jika kau menghinaku berarti kau menghina penciptaku. Siapa yang bisa memilih hendak dijadikan apa dia oleh sang Pencipta? Ia Maha Berkehendak atas apa yang dikehendaki-Nya,”

Mendengar jawaban anjing tersebut, Nuh menyesali lintasan pikirannya. Ia terus menangis, hingga dijuluki ‘Nuh’.

Ketika Nuh berusia 480 tahun, datanglah Jibril kepadanya dan berkata, “Aku adalah utusan Allah, Tuhan semesta alam. Aku datang kepadamu membawa risalah. Sungguh Allah telah mengutusrnu untuk umatmu.”

Nabi Nuh AS berdakwah selama 400 tahun, hanya 80 orang yang beriman dan menjadi pengikutnya. Nuh berseru kepada kaumnya, “

Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan; jika kalian mengetahui.”

“Mengapa kalian tidak percaya pada kebesaran Allah? Padahal Allah telah menciptakan manusia dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan, Allah menciptakan bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan, Allah jadikan bumi sebagai hamparan supaya kalian menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.”

Seruan Nabi Nuh As demikian menggelegar hingga terdengar ke segala penjuru dari ujung barat hingga ke ujung timur. Seruan Nuh menyebabkan berhala-berhala emas berjatuhan, membuat kaget semua orang. Berkali-kali Nuh menyeru kepada umat agar meninggalkan berhala dan menyembah kepada Allah.

Namun umatnya tetap memilih menyembah berhala, yang bernama: Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Akibat menyembah berhala, hidup mereka diatur berdasarkan hawa nafsu mereka sendiri. Di masa inilah ada raja yang pertama kali memeras arak, bermain judi, dan para lelaki menggunakan baju terbuat dari emas.

Ketika Nabi Nuh As berseru, masyarakat melempari beliau dengan batu hingga ia pingsan dan orang mengira ia telah mati, lalu mereka menyeretnya dan mengasingkannya. Namun dengan kuasa Allah, diturunkan burung-burung yang mengibas-ngibaskan sayapnya hingga Nuh kembali siuman.

Nabi Nuh As berkata kepada Allah,

“Ya Allah aku mohon pertolonganmu dengan berkat Nur Muhammad,”

“Ya Rabb-ku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan, sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar beriman, supaya Allah mengampuni mereka, mereka tetap mengingkarinya.”

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh As untuk membuat sebuah bahtera (perahu).

Baca juga:  Kisah Nabi Musa 'Alaihissalam

Nuh bertanya, “Ya Allah, apakah perahu itu?”

Allah menjawab, “Perahu adalah rumah kayu yang dapat berjalan di atas permukaan laut.”

Nuh adalah orang pertama yang membuat perahu yang besar. Lalu Allah menurunkan benih biji kayu jati yang harus ditanam selama 100 tahun. Setelah 100 tahun, pohon itu ditebang untuk dijadikan bahan pembuat perahu. Kemudian Jibril mengajarkan cara membuat perahu, bagaimana memotong kayu kemudian menyusunnya hingga kokoh.

Saat Nabi Nuh As mengerjakan bahteranya, langit tidak menurunkan setetes air pun, rumput tidak lagi tumbuh, hewan-hewan tidak berkembang biak. Kemarau panjang terjadi. Di tengah kemarau panjang Nuh malah membuat perahu.

Ketika itu 16.000 tahun yang lalu merupakan awal dari pencairan es besar-besaran. Perahu itu dibuat selama 40 tahun. Nuh mengatakan perahu ini yang menyelamatkan mereka dari banjir besar. Perkataan Nuh ditertawakan. Bagaimana mungkin bisa banjir? Sedang setetes air pun tak ada yang turun membasahi bumi?

Bagaimana umat masa itu bisa memahami bahwa Nuh adalah seorang nabi? Sedangkan mereka melihat Nuh tak lebih dari seorang manusia yang tidak memiliki keistimewaan, hanya seorang tukang kayu yang sibuk membuat perahu besar. Sampai-sampai masyarakat mengejek Nuh, mengatakan Nuh sudah beralih menjadi tukang kayu dan tak lagi menjadi penyeru.

Saat itu masyarakat tidak paham apa yang sedang dilakukan Nabi Nuh As. Mereka belum tahu perahu itu apa dan bagaimana menggunakannya. Ketika Nuh beristirahat, mereka mencoba membakar dan menghancurkan perahu tersebut, namun api selalu padam saat didekatkan pada perahu tersebut.

Kayu perahu demikian kuat hingga tak bisa dihancurkan oleh alat apa pun. Sebagian orang menyangka ini adalah sihir, sebagian lain makin bertambah imannya dan meyakini Nuh adalah utusan Allah.

Setelah perahu itu selesai dibuat selama 100 tahun lamanya, Allah mewahyukan akan memberikan sebuah tanda kapan kapal akan berlayar. Tandanya adalah akan memancar air dari dapur tempat pemanggangan rotinya Sam, putra Nabi Nuh As.

Sam memiliki anak bernama Arfakshad yang menjadi moyang para nabi-nabi, seperti Ibrahim, Ishaq, Ismail, Yakub, Yusuf, dan seterusnya. Maka Sam mengabarkan pada istrinya jika benar muncul tanda sebagaimana yang dikatakan Nuh maka itulah waktunya untuk bersiap masuk dalam bahtera.

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Allah berfirman; ‘muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan bawalah keluargamu juga orang-orang yang beriman. ” (QS. Hud [11]: 40).

Ketika dapur mulai memancarkan air, bersegera mereka memberitahu Nabi Nuh As. Nuh bangkit dari duduknya sambil mengucap Laa haula wa Iaa quwwata illa biIIahil ‘aliyin ‘adziim. Lalu Nuh berseru, “Wahai kaumku selamatkan diri kalian, selamatkan diri kalian, segeralah masuk ke dalam bahtera.” Air bah yang berasal dari es yang mencair tiba-tiba datang bagai sungai tanpa didahului hujan atau pun mendung.

Baca juga:  Kisah Nabi Ayub As

Bahtera itu dibuat untuk memisahkan antara umat yang beriman kepada Allah dan yang tidak beriman. Mereka yang iman akan taat menuruti nasihat Nabi Nuh As ikut ke dalam bahtera. Mereka yang tidak beriman tidak mau diajak hijrah. Mereka memilih tetap tinggal di tempatnya meski telah dikatakan akan ada bencana datang.

Ketika semua masuk dalam bahtera, Nuh berkata, “Naiklah ke bahtera sambil mengucapkan Bismillahi. ” Maka berlayarlah mereka di belantara air bah, terapung-apung di tengah badai seperti tabut Musa yang dilayarkan di sungai Nil.

Hujan dari langit tercurah tanpa henti, demikian pula air yang keluar dari bumi memancar deras. Hanya ‘genggaman’ Allah yang membuat perahu tersebut tetap terjaga hingga selamat sampai tujuan.

Di antara anaknya ada seorang yang tak beriman dan tak mau mengikuti Nabi Nuh As untuk ikut dalam bahtera. Kan’an adalah putra Nuh yang tidak mau hijrah. Ia memilih tetap tinggal di kampungnya, meski telah diperingatkan Nuh bahwa akan ada bencana datang.

Kan’an menjawab, “Hai ayah, aku akan mencari perlindungan ke atas gunung jika banjir datang.”

Kan’an memilih naik gunung untuk tempat berlindung daripada mengikuti ayahnya menaiki bahtera. Kan’an mengira gunung itu lebih kuat dan melindunginya.

Padahal tidak ada perlindungan di hari itu, selain perlindungan dari Allah Ta’ala. Banjir itu menutup gunung-gunung hingga hanya air yang terlihat memenuhi seluruh bumi. Tidak ada yang selamat kecuali yang berada dalam bahteranya Nabi Nuh As.

Bahtera itu adalah penyelamat yang Allah wahyukan kepada mereka yang beriman kepada nabi-Nya. Hanya mereka yang beriman yang akan mengikuti apa yang disampaikan Nuh. Iman belum sampai ke hati mereka, sehingga menganggap gunung lebih perkasa daripada kuasa Allah.

Gunung memang kelihatan lebih kokoh daripada perahu buatan Nabi Nuh As yang nampak lebih kecil. Namun, bahtera itu dibuat atas petunjuk Allah, dan Allah akan menjaga orang-orang yang mengikuti wahyu-Nya.

Hanya keimanan yang membuat seseorang percaya pada perkataan seorang nabi. Umat di masa itu tidak mengetahui kalau Nuh adalah seorang Nabiyullah. Mereka hanya melihatnya sebagai tukang kayu yang sibuk membuat perahu. Padahal di balik pekerjaan tersebut ada ‘amr Allah.

Banjir tersebut terjadi di seluruh bumi. Tak ada satu pun tempat di bumi yang tak diterjang banjir. Saat itu malaikat mengangkat Baitullah ke langit untuk diselamatkan. Kelak, di zaman Ismail, Baitullah dikembalikan dan ditinggikan.

Mereka ada dalam bahtera ketika air bah menerjang selama 40 hari 40 malam. Perahu Nabi Nuh As berlayar selama 6 bulan lamanya. Setelah itu mereka berlabuh di atas sebuah bukit bertepatan dengan tanggal 10 Muharram, Nabi Nuh As berkata,

“Maka ucapkanlah Alhamdulillahi, Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat. ” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 28-29).

Nabi Nuh As kemudian berpuasa yang diikuti oleh umatnya sebagai wujud syukur dan mohon petunjuk Allah. Ketika Nabi Nuh membuka pintu kapal, dilihatnya sinar matahari dan awan serta tampaklah busur yang berwarna-wami yang kemudian disebut pelangi.

Baca juga:  Kisah Nabi Ishaq As

Melihat pemandangan tersebut, Nuh berucap “Allahu Akbar!” Semua umat turut bertakbir mengikuti ucapan Nabi Nuh. Ketika melihat matahari, mata mereka menjadi silau saking sekian terlalu lama di dalam perahu tak pernah melihat matahari.

Lalu Nabi Nuh As memberitahu umat agar menggunakan celak untuk menahan silau cahaya matahari. Burung-burung mulai mengepakkan sayap menyambut cahaya matahari dan hewan-hewan mengeluarkan suara tanda syukur dan kegembiraan.

Untuk memastikan bahwa banjir telah benar-benar surut, maka Nabi Nuh As bermaksud mengutus seekor hewan untuk melihat keadaan sekitar. Burung merpati mengajukan dirinya untuk memantau keadaan sekitar.

Sekembalinya burung merpati ia membawa setangkai ranting dari pohon zaitun. Ranting zaitun itu menjadi pertanda banjir belum surut sempurna. Maka Nuh menunggu beberapa hari di dalam perahu. Setelah itu kembali Nuh mengutus merpati.

Setelah beberapa hari, merpati kembali kepada Nuh dengan kaki penuh tanah merah yang basah, ini menjadi pertanda bumi belum sepenuhnya kering. Tanahnya masih lunak untuk dipijak. Nabi Nuh kembali menunggu di dalam perahu hingga genap 40 hari lamanya.

Atas jasa merpati, Nabi Nuh memanjatkan doa, “Ya Allah, jadikanlah penuh keberkahan burung-burung merpati ini untuk para burung lainnya dan perbanyaklah keturunan-keturunannya serta disukai oleh banyak orang.”

Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh As,

“Wahai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atas mu dan atas umat-umat yang beriman.” (QS. Hud [11]:48).

Kemudian atas petunjuk Allah, Nuh melepas dan membebaskan semua hewan seperti sedia kala. Lalu Allah menurunkan hujan rahmat untuk membersihkan bumi. Alam kembali seperti sedia kala. Langit dipenuhi bintang saat malam, cahaya matahari hangat di saat pagi, siang dan malam berganti dengan jelas. Nuh tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah.

Sesuai petunjuk Allah, Nabi Nuh As dan umatnya bergerak ke timur dan membangun sebuah kota yang diberi nama Babylonia (kuno) yang berarti ‘yang terserak’.

Nabi Nuh As mulai menanam pohon. Mereka mulai membangun keluarga dan berkembang. Maka Allah mewahyukan agar umat hijrah dan menyebar. Namun mereka menolak. Mereka memilih tetap tinggal bersama Nuh. Mereka menjadi bergantung pada Nuh.

Lalu Allah membuat umat berbicara dengan bahasa yang berbeda. Mereka saling tidak paham dengan bahasa yang diucapkan satu sama lain. Akibatnya terjadilah miskomunikasi. Akibat salah paham mereka jadi berpisah dan menyebar saling menjauh. Dari sanalah umat manusia berkembang dan menyebar ke seluruh bumi.