Kisah Nabi Idris As

Idris merupakan suatu julukan. Disebut Idris dari asal kata ‘darasa’ yang memiliki arti belajar karena kegemarannya membaca shuhuf dari Adam dan Syits.

Sebutan lainnya bagi Nabi Idris As adalah Akhnukh (nenek moyang Nuh) atau Henokh dalam bahasa Alkitab. Nabi Idris termasuk nabi Allah yang tidak wafat. Ia diangkat ke langit sebagaimana Ilyas.

Kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Idris As sejumlah 30 shuhuf. Ia adalah orang pertama yang pandai tulis menulis menggunakan pena, jahit-menjahit menggunakan jarum dan kain, ahli perbintangan, serta ilmu alam dan matematika (hisab).

Selain memiliki ilmu yang sempurna, keyakinan yang kokoh, beliau juga mengerjakan amal saleh yang banyak.

Nabi Idris As membawa keluarganya hijrah keluar dari tanah kelahirannya sesuai tuntunan Allah hingga sampai ke tepi sungai Nil di Mesir dan menetap di sana.

Keluarganya bertanya, “Di mana daerah yang memiliki persamaan dengan tempat kita dulu?”

Idris menjawab, “Jika kita berpindah karena Allah, maka Allah akan memberi rezeki yang serupa dengan tempat kita dulu.”

Nabi Idris As selalu mengingatkan kepada keluarganya agar memurnikan peribadatan kepada Allah, karena cinta dunia dan cinta akhirat tidak akan berkumpul dalam satu hati, selamanya.

Nabi Idris As pula yang pertama kali mengeluarkan kata-kata hikmah dan nubuwwah yang tercakup dalam Book of Henoch, di antaranya:

  1. Kesabaran yang disertai keimanan kepada Allah akan membawa kemenangan.
  2. Orang yang bahagia adalah orang yang waspada dan mengharapkan syafaat dari Allah ta’ala berdasarkan amal salehnya.
  3. Barangsiapa yang tidak merasa cukup (dengan kehidupannya saat ini), maka tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya puas.
  4. Bila memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa, maka ikhlaskan niatmu, demikian pula untuk shalat dan puasamu.
  5. Dalam mimpiku aku melihat apa yang ingin aku sampaikan dengan lisan ragaku dan dengan nafas mulutku, bahwasanya Yang Maha Besar telah menganugerahkan manusia kemampuan untuk berkomunikasi dan memahami menggunakan qalb-nya (hati).
  6. Perhatikanlah semua yang ada di langit, bagaimana semuanya tidak berubah (melainkan berada) dalam orbitnya masing-masing, dan benda-benda bercahaya yang ada di langit, bagaimana mereka terbit dan terbenam secara teratur sesuai dengan musimnya, dan tidak melampaui batas terhadap apa yang telah ditetapkan terhadap mereka. Saksikanlah oleh kalian bumi, dan perhatikan semua yang ada di atasnya semenjak (penciptaan) pertama hingga terakhir, bagaimana teguhnya mereka (dalam ketaatan), dan bagaimana tak ada satu pun di dalamnya yang berubah, demikianlah seluruhnya adalah ciptaan Tuhan yang ditampakkan kepadamu.
  7. Kuatkanlah hatimu, karena hanya orang yang baik yang akan mengabarkan kebenaran kepada orang-orang yang baik; orang-orang yang benar akan bersukacita dengan sesamanya, dan akan menebar salam kepada satu sama lain.
  8. Cintailah kebenaran dan berjalanlah di dalamnya. Dan, janganlah mendekatinya dengan hati yang mendua, dan jangan menyekutukan diri dengan segala sesuatu yang datang dari hati yang mendua, akan tetapi berjalanlah (dengan kokoh) dalam jalan kebenaran, wahai anak-anakku. Maka ia akan membimbingmu ke jalan yang diberkahi, dan kebenaran akan selalu menjadi teman seperjalananmu.
  9. Dalam mimpiku aku melihat apa yang sekarang akan kusampaikan dengan lisan ragaku dan dengan napas dari mulutku: bahwasanya Yang Maha Besar telah menganugerahi manusia kemampuan untuk berkomunikasi dan memahami menggunakan hati (qalb)-nya.

Mengapa kisah Nabi Idris As disebutkan dalam Al-Qur’an mendapat martabat yang tinggi? Apakah ada kaitannya dengan diangkatnya beliau ke langit tanpa diwafatkan? Wallahu ‘aIam bishowwab. Nabi Idris merupakan salah satu nabi yang diangkat ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu.

Dikatakan dalam sebuah kitab, bahwasanya kekasih Allah, Henokh/Idris, yang berjalan bersama Allah dengan bersungguh-sungguh dan tidak memedulikan dunia ini telah dipindahkan oleh Allah ke firdaus dan akan tinggal di sana hingga hari pembalasan, dia akan kembali ke dunia bersama Elya/Ilyas.

Doa Nabi Idris As:

“Sungguh Engkaulah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu, maka tak ada sesuatu yang berat bagi-Mu, Engkaulah Yang Maha Bijaksana, Engkaulah Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui; dan tak ada apa pun yang tersembunyi darimu.”

Demikianlah kisah Nabi Idris As singkat, semoga menambah khazanah pengetahuan kita.

Akmal Bahtiar

Menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, aktif menulis berbagai topik populer, seperti sains, sastra, dan hiburan.
Back to top button