Kisah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam

Berikut kami ceritakan kisah Nabi Sulaiman As, seorang yang dianugerahi oleh Allah SWT kekayaan yang melimpah ruah, tidak akan pernah ada menyamai sebelum dan setelahnya. Juga dianugerahi berbagai mukjizat yang mengagumkan, di antaranya adalah mampu berbicara dengan binatang dan memiliki pasukan dari bangsa jin dan burung.

Simak juga kisah ketika Nabi Sulaiman memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Negeri Saba dengan sangat cepat, – sebelum mengedipkan mata.

Baca kisah selengkapnya di bawah ini. Ada banyak hal dan kisah menakjubkan yang akan menguatkan keimanan kepada Allah SWT.

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya).” (QS. Shaad [38]:30).

Masa Kecil Nabi Sulaiman

Tempat masa kecil Nabi Sulaiman
Ilustrasi suasana tempat masa kecil Nabi Sulaiman

Suatu ketika, Nabi Sulaiman kecil berpapasan dengan penasihat kerajaan, terlihat gurat bingung di wajah sang penasihat. Maka bertanyalah Sulaiman kepadanya, “Wahai paman, aku melihat wajahmu tidak secerah biasanya? Ada apakah gerangan? Adakah yang mengganggu pikiranmu?”

Penasihat kerajaan menjawab, “Wahai pangeran kecil, aku tengah dirundung bingung oleh akibat permintaan ayahmu, Raja Daud. Ia meminta dibuatkan cincin yang jika dipakai dapat membuat dirinya tenteram. Di mana harus kucari cincin seperti itu? Raja Daud selalu memiliki apa pun yang ia inginkan, tapi aku tidak mengerti cincin seperti apa yang dapat membuat tenteram pemiliknya? Apakah cincin yang terbuat dari emas berlian? Dari batu ruby permata? Zamrud? Atau perhiasan dari jenis apa? Sungguh aku merasa gundah memikirkan permintaan ayahmu. Apakah kau dapat membantuku wahai pangeran?”

Sulaiman kecil terdiam sejenak. Hati lembutnya turut merasakan kebingungan paman penasihat kerajaan untuk memenuhi permintaan ayahanda Daud.

Beberapa saat kemudian Sulaiman berkata, “Wahai paman, tak perlu membuatkan cincin dari permata. Karena materi tidak akan menambah kebahagiaan untuk ayahku, buatkan saja cincin dari besi untuknya, lalu ukirlah kalimat ini: ‘semua ini akan berlalu‘. Berikan pada ayahku dan yakinlah cincin ini akan membuat tenteram yang memakainya.”

Tak ada pilihan lain, penasihat kerajaan mengikuti saran Sulaiman. Sulaiman bukan hanya putra Nabi Daud ‘alaihi salam, namun ia juga dikenal memiliki kebijakan yang tiada tara. Sejak berusia sebelas tahun, ia sudah menampakkan tanda-tanda kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berpikir serta ketelitian di dalam mempertimbangkan dan menentukan suatu keputusan.

Karena itulah, sang penasihat menerima dengan baik saran dari Sulaiman kecil. Dibuatlah sebuah cincin dari besi. Lalu diukir seuntai kalimat sebagaimana yang disarankan oleh Sulaiman.

Ketika tiba waktu yang telah ditentukan, sang penasihat membawa cincin tersebut kepada raja Daud. Saat Raja Daud melihat cincin itu, keheranan meliputi dirinya. Apa istimewanya cincin ini? Kenapa hanya terbuat dari besi?

Sebagai raja, kekayaan Nabi Daud sangat banyak. Amat mudah untuk membuat perhiasan dari emas berlian, permata mutu manikam, dan batu mulia lainnya.

Namun tak lama, sang baginda Daud tertegun saat membaca ukiran kalimat di cincin tersebut ‘ini semua akan berlalu‘. Wajah sang Baginda memancarkan kepuasan. Inilah cincin yang ia cari, yang dapat membuat tenteram jika melihatnya.

Ya. Bukankah pada hakikatnya segala peristiwa, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan pasti akan berlalu? Semua kejadian sesungguhnya hanya bermain di perasaan kita sendiri. Hinggap sesaat di hati, kemudian pergi, lenyap tak kembali bersama waktu. Manusia tidak boleh terlalu larut oleh kesedihan maupun kesenangan sesaat, karena semua rasa itu akan berlalu seiring waktu.

Raja Daud sungguh tak menyangka permintaannya dapat dipenuhi dengan baik oleh penasihatnya. Raja Daud hendak memberikan hadiah yang banyak kepada sang penasihat karena telah membuatkan cincin yang sangat berharga, namun penasihat menolak pemberian raja.

“Kenapa engkau menolak pemberianku, wahai penasihat? Hadiah ini kuberikan sebagai tanda terima kasihku karena engkau telah membuatkan cincin yang menjadi pengingat bagiku. Agar aku tidak mudah larut dalam kesedihan maupun kesenangan sesaat. Kalimat di cincin ini dapat membuat perasaanku lebih tenteram,” sabda sang raja Daud.

“Wahai Paduka, bukan maksud hamba menolak pemberian. Namun sesungguhnya hamba tidak pantas menerimanya. Karena cincin yang paduka pakai itu sesungguhnya merupakan saran dari pangeran Sulaiman. Pangeran Sulaiman memahami apa yang bisa membuat hati paduka tenteram, hingga terciptalah kalimat pada cincin tersebut,” takzim penasihat raja menjawab.

Mendengar apa yang dikatakan sang penasihat, raja Daud merasa bersyukur dan gembira. Pangeran Sulaiman tumbuh sebagai calon raja yang telah memiliki kebijaksanaan dan kecerdikan.

Oleh karena kebijakan dan kecerdikannya, Sulaiman kecil sudah diajak ayahnya dalam menangani perkara perselisihan dan silang sengketa yang terjadi pada umat Bani Israil. Raja Daud telah menyiapkan Sulaiman sebagai penggantinya kelak untuk memimpin kerajaan. Sulaiman turut memberikan masukan atas keputusan yang dibuat ayahnya.

Contohnya saja, pernah ada dua orang datang mengadu kepada Nabi Daud. Seorang yang memiliki kebun mengeluh karena kebunnya dirusak oleh kambing. Tentu saja kambing-kambing ini berkeliaran akibat kelalaian dari pemiliknya.

Semestinya kambing-kambing tersebut digembalakan di tempat lain di dalam hutan sana agar tidak merusak ladang milik orang lain. Tanaman yang telah dirawat dengan susah payah dan siap dipanen pun menjadi rusak.

Setelah mendengarkan keluhan tersebut, Nabi Daud memutuskan, “Dalam masalah ini jelas pemilik kambing bersalah, ia teledor menjaga hewan ternaknya sehingga merusak kebun orang lain. Karenanya semua kambing-kambing ini harus diserahkan kepada pemilik ladang sebagai ganti rugi.”

Mendengar keputusan tersebut, pucatlah wajah si pemilik kambing, sementara pemilik kebun juga terlihat tidak bahagia.

Mendengar keputusan ayahnya, Sulaiman berkata, “Menurutku, pemilik kambing harus memperbaiki kebun yang rusak sampai seperti sediakala sebelum dirusak oleh kambingnya. Ia juga harus menyerahkan kambing-kambingnya kepada pemilik kebun, tapi hanya sementara. Selama kambing tersebut dalam pemeliharaan pemilik kebun, maka ia berhak mendapatkan apa yang dihasilkan oleh hewan tersebut, baik berupa bulunya, susu maupun anak kambing yang dilahirkan semasa perawatan. Setelah kebun selesai diperbaiki, maka kebun dikembalikan pada pemiliknya, demikian pula kambing dikembalikan pada pemiliknya. Sehingga masing-masing pihak tak ada yang dirugikan. Masing-masing dapat kembali menjalani pekerjaannya seperti semula.”

Nabi Sulaiman
Nabi Sulaiman memiliki kebijaksanaan dan kecerdikan.

Mendengar penjelasan Sulaiman, Nabi Daud terkesima kagum. Sungguh tanda-tanda kenabian telah jelas terlihat dari sikap dan penuturan Sulaiman dalam mengambil keputusan.

Demikian pula wajah puas terpancar dari pihak yang bersengketa. Hadirin yang menyaksikan turut lega mendengar keputusan tersebut. Mereka menerima dengan gembira keputusan tersebut.

Nabi Daud berkata, “Wahai, pihak yang bersengketa, penjelasan Sulaiman itulah keputusanku.”

Sulaiman Menjadi Raja

Gelagat Sulaiman akan menjadi raja pengganti Nabi Daud telah diketahui semua orang. Hal ini membuat resah Absyalom.

Sebagai putra pertama, Absyalom merasa lebih berhak memegang jabatan sebagai raja menggantikan ayahnya, Daud. Ia tidak setuju jika Sulaiman yang diangkat menjadi putra mahkota, calon pengganti raja.

“Ayahanda, aku tidak setuju jika Sulaiman dijadikan putra mahkota. Bukankah sebagai anak tertua aku lebih berhak menjadi pengganti raja?” Protes Absyalom kepada Nabi Daud.

“Anakku, itu adalah ketentuan Allah. Keputusan ini adalah merupakan petunjuk dari Allah, bukan ayah yang menentukan siapa calon penggantiku kelak,” Nabi Daud menjawab dengan sabar.

Namun, jawaban tersebut tidak menenteramkan hati Absyalom. Justru ia mulai menyusun rencana pemberontakan untuk merebut tahta. Absyalom mulai menghasut rakyat agar berpihak padanya. Dikatakan jika Daud, ayahnya, menjadi raja, rakyat tidak akan tenteram karena sibuk berperang.

Nabi Daud memang dikenal sebagai ahli strategi perang. Banyak peperangan telah dimenangkan yang membuat kerajaannya bertambah besar dan rakyat menjadi terlindungi karena tak ada yang berani mengganggu.

Namun Absyalom memutarbalikkan cerita, sehingga lama-kelamaan banyak rakyat yang termakan hasutannya untuk memberontak. Absyalom mulai membentuk prajurit untuk merebut tahta ayahnya.

Absyalom memberikan banyak bantuan agar rakyat berpihak padanya, meskipun harta yang diberikan merupakan harta pemberian ayahnya. Melihat rakyat mulai terpecah, Nabi Daud merasa khawatir akan terjadi pertumpahan darah. Rakyat akan menjadi korban jika pertempuran dibiarkan.

Nabi Daud kemudian mengumpulkan pengawal setia dan keluarganya. Mereka diajak mengungsi pergi menyeberangi sungai Jordan menuju ke gunung Zaitun. Kepergian Nabi Daud dan keluarga ke gunung Zaitun, dianggap sebagai tanda kekalahan oleh Absyalom. Absyalom mengangkat dirinya sendiri sebagai raja.

Sayangnya, di bawah kepemimpinan Absyalom, negara menjadi bertambah kacau. Rakyat dikenakan pajak tinggi. Sekeras apa pun rakyat bekerja, hasilnya tidak pernah bisa mencukupi akibat pajak yang tinggi. Absyalom memerintah dengan tangan besi. Siapa yang tidak setuju dengan keinginannya akan disingkirkan. Para musuh mulai mendekat karena melihat kepemimpinan yang lemah.

Nabi Daud menyaksikan kondisi rakyat yang tiap hari makin menderita. Hatinya menjadi terenyuh. Lalu Nabi Daud berdoa, memohon kepada Allah, langkah apa yang harus diambil untuk membantu rakyatnya. Allah memberi petunjuk kepada hatinya agar Nabi Daud merebut kembali kerajaannya dan memberikan tahta kepada yang paling berhak, yaitu, Sulaiman.

Nabi Daud kemudian menghimpun pasukannya dan mengumumkan pada para pengikut setianya untuk merebut kembali tahta kerajaan. Namun dengan suatu persyaratan, pasukannya dilarang menggunakan senjata kecuali saat sedang membela diri.

Maka terjadilah pertempuran tersebut. Pasukan Absyalom dapat didesak mundur dan pasukan Nabi Daud, dengan penolongan Allah, dapat merebut kembali tahta kerajaan. Negara pun kembali makmur dan sejahtera.

Baca juga:  Kisah Nabi Musa 'Alaihissalam

Setelah kejadian itu Sulaiman menjadi raja menggantikan ayahnya. Beberapa waktu kemudian, Sulaiman juga diangkat menjadi nabi sekaligus rasul. Nabi Sulaiman adalah sosok raja yang memiliki kecerdikan dan kebijaksanaan. Ia mewarisi sifat-sifat luhur ayahnya. Bani Israil mengalami puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Nabi Sulaiman.

Bani Israil mengalami puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Nabi Sulaiman
Bani Israil mengalami puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Nabi Sulaiman.

Kekuasaan Nabi Sulaiman membentang luas hingga ke negeri-negeri nan jauh. Tentara Nabi Sulaiman sangat banyak, meliputi bangsa jin dan burung. Nabi Sulaiman juga diberi mukjizat oleh Allah untuk menundukkan angin. Angin tornado yang demikian dahsyat, terasa bagai angin sepoi dan lembut bagi Sulaiman.

Angin juga menjadi kendaraan untuk mengantarnya menjelajahi seluruh negeri untuk bertemu rakyatnya. Angin berembus sangat cepat hingga perjalanan yang harusnya ditempuh selama satu bulan lamanya, dapat ia tempuh dalam satu hari saja.

Nabi Sulaiman selalu membimbing rakyatnya untuk selalu bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan. Semua rakyat taat menyembah Allah.

Hikmah dari Hewan

1. Kisah Nabi Sulaiman Memberi Makan Seluru Makhluk

Selama dipimpin oleh Sulaiman, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Mereka taat pada perintah Allah yang disampaikan oleh Nabi Sulaiman. Kekayaan Sulaiman demikian melimpah ruah. Kekuasannya meliputi negeri yang jauh hingga alam jin. Bahkan Nabi Sulaiman dapat berbicara dengan para hewan.

Karena berbagai kemudahan rezeki yang ia dapatkan, terbersit dalam pikiran Sulaiman untuk memberi makan seluruh makhluk selama satu tahun lamanya. Seluruh penduduk di negerinya, termasuk hewan dan jin tidak perlu bekerja selama setahun karena semua makanan akan ditanggung oleh Sulaiman.

Maka Sulaiman bermunajat kepada Allah memohon izin agar ia dapat melaksanakan hajatnya.

Dengan segenap kasih sayang, Allah menjawab, “Engkau sekali-kali tak akan dapat melakukan hal itu.”

Namun Nabi Sulaiman tetap bersikeras, ia ingin melihat kekuasaan Allah dalam memberi makan terhadap makhluk-Nya.

“Aku mohon izin untuk melakukannya sehari saja,” demikian Sulaiman memohon. Allah mengizinkan Sulaiman melakukan hal itu untuk membuktikan kekuasaan-Nya.

Demi mewujudkan hajatnya tersebut, Nabi Sulaiman mulai memerintahkan juru masak istana untuk membuat makanan sebanyak-banyaknya di suatu lapangan yang luas sekali.

Saking luasnya hingga untuk menempuh panjang hidangan makanan itu jika ditempuh dengan berkuda akan membutuhkan waktu satu bulan. Demikian pula ukuran lebarnya menelan waktu 2 bulan perjalanan berkendara menggunakan kuda balap.

Setelah Sulaiman menyiapkan segala sesuatunya, Allah berfirman kepadanya: “Hai Sulaiman, makhluk manakah yang akan engkau beri makan terlebih dahulu?”

Nabi Sulaiman menjawab: “Aku mohon agar Engkau mendatangkan seluruh makhluk dari darat, baik hewan maupun manusia, sekaligus penghuni laut untuk menyantap hidangan ini terlebih dahulu.”

Namun Allah tak segera menuruti permintaan Sulaiman. Allah hanya mendatangkan seekor ikan Nun, ikan paling besar di lautan. Ikan besar itu dipanggil menghadap.

Kisah Nabi Sulaiman Memberi makan Ikan Nun
Ikan Nun

Lalu ikan itu mengangkat kepalanya dan berbicara kepada Nabi Sulaiman, “Hai Nabi Sulaiman, sesungguhnya Allah telah menitipkan rezekiku berada di tanganmu hari ini,” ujar ikan Nun.

Sulaiman menjawab, “Makanlah sepuasmu hingga engkau merasa kenyang.” Ikan itu segera melahap hidangan yang telah disediakan oleh Nabi Sulaiman. Hanya dalam hitungan detik, seluruh hidangan yang telah disiapkan dengan susah payah, habis dilahap tanpa bersisa.

Setelah hidangan habis, ikan itu berkata, “Hai Nabi Sulaiman, sesungguhnya aku belum merasa kenyang, meski telah menyantap seluruh makanan yang engkau sajikan ini. Ketahuilah engkau telah menutup pintu rezekiku hari ini, dengan menyediakan makanan ini semua. Sehingga aku tak bergantung pada Allah. Padahal apa yang kau berikan padaku bahkan tak bisa mencukupi sekadar makan pagiku.”

Melihat kejadian itu, Nabi Sulaiman menjadi tersadar, betapa terbatas kekayaan yang ia miliki. Untuk memberi makan seekor ikan saja, dirinya tak mampu, apalagi memberi makan untuk semua makhluk hidup.

Sungguh hanya Allah sumber pemberi dan pengatur rezeki. Jika Allah berkehendak, rezeki sebanyak apa pun akan habis seketika. Sesungguhnya rasa kenyang itu adalah rezeki dari Allah.

Bayangkan saja jika kita tak pernah merasa kenyang? Bayangkan jika kita selalu merasa lapar meski sebanyak apa pun makanan yang kita santap? Sedangkan Nabi Sulaiman yang sudah menyiapkan makanan begitu banyak dengan susah payah, pada akhirnya tak dapat membuat seekor ikan pun merasa kenyang.

Apalagi jika ia harus menyuguhkan makanan kepada seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini ? Sungguh tidak ada daya dan kekuatan yang dapat memberikan rezeki melainkan dengan izin dan pertolongan Allah.

Hanya Allah sajalah Zat Yang Maha memberi rezeki, yang mampu melakukan itu semua. Kejadian tersebut membuat Nabi Sulaiman tersungkur sujud sedalam-dalamnya kepada Allah. Peristiwa ini membuat imannya kepada Allah semakin bertambah dan membuatnya makin tunduk kepada Allah.

Dalam sujudnya, Nabi Sulaiman mengucap doa, “Mahasuci Allah, Zat yang telah menanggung rezeki bagi seluruh makhluk. Sungguh hanya Dia sebaik-baik pemberi rezeki.”

2. Kisah Nabi Sulaiman dan Semut

Pada suatu ketika, Sulaiman dan tentaranya yang meliputi pasukan manusia, jin, dan burung, melewati suatu lembah. Dilihatnya iringan semut berjalan di tanah berbaris rapi.

Salah seekor semut tersebut berkata, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Mendengar perkataan semut tersebut, Nabi Sulaiman tertawa. Kemudian ia berdoa, “Ya Rabb, limpahkan kepadaku karunia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku; karuniakan padaku agar dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Lalu Nabi Sulaiman menyuruh tentaranya untuk berhenti sejenak. “Berhentilah sejenak. Kita memberi jalan untuk makhluk yang berlindung kepada Allah ta’ala.”

Namun pasukan Sulaiman tak melihat satu pun makhluk yang melintas. Mereka melihat ke sana kemari dengan wajah bingung. Kemudian Nabi Sulaiman berkata lagi, “Sehasta di depanku ada lembah semut yang berisi jutaan semut. Mereka tengah mencari tempat perlindungan agar tidak terlindas oleh kuda kita.”

Ilustrasi raja semut
Ilustrasi raja semut

Ketika raja semut telah mengungsikan semua rakyatnya ke tempat yang aman, mereka mempersilakan Sulaiman dan rombongan untuk kembali berjalan melintasi tempat tersebut. Raja semut bertasbih memuji Allah, mensyukuri keselamatan bagi rakyatnya karena keberkahan dari seorang nabi.

3. Kisah Nabi Sulaiman, Semut dan Sebutir Gandum

Pada kesempatan lain, Nabi Sulaiman bertanya pada seekor semut, “Wahai semut, berapa banyak engkau peroleh rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?”

“Sebesar biji gandum,” jawabnya.

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebutir gandum, lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol tersebut untuk melihat keadaan si semut. Dalam botol tersebut, masih tersisa sebagian gandum.

Seekor semut
Seekor semut

“Mengapa engkau hanya menghabiskan sebahagian gandum dan tidak menghabiskannya dalam setahun?” Tanya Nabi Sulaiman.

“Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah. Dengan tawakal kepada-Nya, aku yakin Allah tak akan melupakanku. Ketika bertemu engkau dan aku berpasrah padamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat padaku pada tahun berikutnya. Hingga aku hanya memakan sebagian biji gandum tersebut sebagai bekal tahun berikutnya,” jawab si semut.

Nabi Sulaiman kagum dengan sikap tawakal si semut. Bukankah tak ada yang perlu dikhawatirkan bila semua makhluk hanya bertawakal kepada Allah saja?

4. Kisah Nabi Sulaiman, Semut dan Cacing Buta

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman sedang duduk dipinggir danau. Tiba-tiba melintas di depannya seekor semut membawa sebiji gandum yang besarnya beberapa kali lipat melebihi besar tubuh si semut. Semut tersebut berjalan hingga pinggir danau, lalu terdiam menunggu sesuatu.

Tak lama muncullah seekor katak keluar dari dalam danau seraya membuka mulutnya lebar-lebar. Sungguh di luar dugaan, semut langsung masuk ke dalam mulut katak. Kemudian sang katak itu menyelam ke dasar danau dengan membawa semut di dalam mulutnya.

Nabi Sulaiman masih tertegun belum memahami kejadian yang dilihatnya barusan. Beberapa saat kemudian, katak itu muncul dari dalam danau, lalu membuka mulutnya, nampak semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak bersamanya lagi.

Nabi Sulaiman, Semut dan Cacing Buta

Timbul rasa penasaran, Nabi Sulaiman pun memanggil semut itu dan menanyakan apa yang dilakukannya barusan bersama katak.

“Wahai semut, aku kira engkau telah dimakan katak tersebut, nyatanya kau masih hidup. Apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?” Tanya Nabi Sulaiman heran.

“Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga. Di dalamnya tinggal seekor cacing buta. Cacing itu tidak kuasa keluar dari batu tersebut untuk mencari makan. Dan, sesungguhnya Allah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya,” jawab si semut. “Allah telah menguasakan padaku untuk membawa rezeki ini dengan bantuan katak, sehingga air ini tidaklah membahayakan bagiku,” lanjut si semut.

Nabi Sulaiman lantas bertanya kembali, “Apakah kau mendengar tasbih cacing itu?”

“Ya” jawab semut. “Cacing itu mengucapkan: ‘Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu’.”

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah yang memberi rezekinya.”

Pengendara Angin

Nabi Sulaiman gemar berkeliling negeri untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Saat berkeliling, beliau mengendarai permadani, yaitu bentangan tikar terbuat dari kayu di mana Sulaiman membawa seluruh perlengkapannya, termasuk kuda, tenda, pasukan pengawal kerajaan, dan yang lainnya di dalamnya.

Kemudian Sulaiman memerintahkan angin untuk membawa permadani tersebut. Permadani itu tidak hanya bisa membawanya terbang, namun juga melindungi Sulaiman dari terik matahari dan cuaca yang dingin menyengat. Permadani tersebut akan menaungi Sulaiman sehingga tetap terjaga.

Baca juga:  Kisah Nabi Yunus ‘Alaihissalam
Nabi Sulaiman mengendarai angin
Nabi Sulaiman mengendarai angin.

Saat sedang terbang tinggi itu, terbersit rasa bangga di hati Sulaiman atas kemampuan dan kehebatan yang ia miliki. Tiba-tiba saja permadani tersebut bergoyang dan terjatuh ke darat. Dua belas ribu pengawal dan berbagai peralatan turut jatuh bergelimpangan ke bumi.

Sulaiman memukulkan bambu kecil yang dibawanya dan menegur, “Luruslah hai permadani.”

“Aku tidak akan lurus sampai engkau sendiri lurus, wahai Sulaiman as.” permadani menimpali.

Mendengar apa yang dikatakan permadani, insyaflah Sulaiman akan apa yang terjadi dalam hatinya. Sesungguhnya semua hal tunduk hanya kepada Allah, bukan karena kemampuan dan kehebatan seorang Sulaiman. Maka Sulaiman memohon ampunan kepada Allah atas kesalahannya, atas sebersit rasa bangga yang tidak seharusnya.

Sebelum dikaruniakan kemampuan mengendarai angin, Sulaiman sangat mencintai kuda. Beliau memiliki banyak sekali koleksi kuda. Nabi Sulaiman bahkan memiliki 20.000 ekor kuda bersayap.

Suatu ketika, Nabi Sulaiman asyik memeriksa dan mengatur kuda-kudanya hingga melewatkan waktu beribadah kepada Allah. Saat Sulaiman menyadari hal tersebut, disembelihnya kuda-kuda tersebut, agar tak lagi membuatnya lalai beribadah kepada Allah.

Sulaiman tidak ingin kuda-kuda tersebut melalaikannya dari beribadah pada Allah. Karena ketulusan Sulaiman dalam menyembah Allah, maka Allah menggantikan kendaraannya dengan angin.

Angin bisa membawa Sulaiman ke negeri mana pun dengan cepat. Bahkan jarak tempuh yang harusnya dicapai selama sebulan jika mengendarai kuda, dapat dipangkas menjadi setengah hari jika mengendarai angin.

Itulah asal mula kendaraan angin yang dimiliki Sulaiman. Demikianlah Allah ta’ala menambah nikmat-Nya bagi hamba yang ikhlas beribadah kepada-Nya.

Misteri Kubah di Dasar Samudra

Suatu pagi, Nabi Sulaiman terjaga dari tidurnya sambil termenung. Beliau baru saja memperoleh petunjuk untuk pergi ke lautan dan menyaksikan kebesaran Allah di sana.

Bergegas beliau diiringi tentara kerajaan pergi ke tepi pantai. Sesampainya di sana, suasana sepi, tidak ada yang terlihat istimewa. Sejauh mata memandang yang nampak hanya samudra biru membentang luas, nelayan yang mencari ikan, burung pantai, dan langit di ufuk sana.

Lalu beliau memanggil jin Ifrit, raja Jin, dan memerintahkan untuk menyelam ke dasar laut.

“Wahai Ifrit, pergilah ke dasar lautan dan temukan keistimewaan apa yang tersembunyi di dasar laut ini.” Ifrit pun mengerjakan apa yang diperintahkan Sulaiman.

Namun sampai dua kali Ifrit menyelam, mengarungi dasar samudra dari ujung ke ujung tetap saja ia tak menemukan keistimewaan sesuai petunjuk yang dimaksud.

Kemudian beliau bersabda pada penasihat sekaligus juru tulis yang juga masih sepupunya, yaitu Ashif ibn Barkhiya, “Datangkanlah sesuatu untukku dari dasar laut ini” Dalam waktu singkat, Ashif kembali dengan membawa kubah dari mutiara yang amat cemerlang.

Kubah tersebut terdiri dari empat pintu, pintu pertama terbuat dari mutiara, pintu kedua dari yaqut, pintu ketiga dari batu permata, dan pintu ke empat dari batu jade (giok) hijau. Semua pintu itu dalam keadaan terkunci. Anehnya, meski kubah itu dibawa dari dasar samudra namun terlihat kering, tak ada satu pun air menetes dari kubah tersebut.

Kemudian Sulaiman memohon kepada Allah, hikmah apakah yang akan ia dapat dari peristiwa ini? Tak lama kubah pun terbuka. Di dalamnya ada seorang pemuda tampan sedang Shalat. Setelah selesai shalat, Nabi Sulaiman memberi salam, “Assalamu’alaikum, wahai pemuda, perkenalkan aku adalah Sulaiman putra Daud. Dapatkah kau ceritakan apa yang menyebabkanmu berada dalam kubah di dasar laut sana?”

“Wahai paduka Sulaiman, sesungguhnya aku memiliki ayah yang lumpuh dan ibu yang buta. Sebagai bentuk khidmatku pada mereka, aku melayani dan merawat mereka dengan sabar dan sepenuh kasih sayang selama 70 tahun lamanya hingga mereka meninggal.”

“Aku bahkan menyuapi, memandikan dan menggendongnya kemana pun jalan yang mereka kehendaki. Aku sama sekali tidak pernah membantah mereka.” Pemuda itu meneruskan ceritanya,

“Ketika telah datang ajal ibuku, beliau berdoa: ‘Ya Allah, panjangkanlah kehidupan anakku untuk melakukan taat kepada-Mu’. Dan saat ajal ayahku datang, beliau pun berdoa: Ya Allah, berikanlah pelayanan pada anakku di tempat yang tidak dapat dijangkau setan, kecuali hanya orang-orang saleh yang dapat menjangkaunya.”

Nabi Sulaiman dan para pengikutnya terpukau mendengar kisah kebaktian dari pemuda tersebut.

“Setelah ayah ibuku meninggal, aku pergi ke pantai ini. Tiba-tiba aku melihat kubah ini. Aku masuk ke dalam untuk melihat keindahannya. Lalu datanglah malaikat membawa dan menjaga kubah ini ke dasar lautan, sedangkan aku tetap berada di dalam kubah ini.”

Nabi Sulaiman bertanya, “Kapan kejadian itu terjadi?”

“Ketika aku masuk kubah ini, saat itu masa Nabi Ibrahim as., dan aku adalah umat Ibrahim. Aku tak menyembah berhala dan mengikuti millah Ibrahim, bertauhid menyembah Tuhan yang satu.”

Semua yang mendengarkan makin tercengang karena zaman antara Nabi Ibrahim hingga ke Nabi Sulaiman berjarak sekitar 1.400 tahun lamanya. Berarti pemuda tersebut telah berusia ribuan tahun. Namun ia tetap terlihat muda dan sehat.

“Lalu selama di dalam kubah, apakah engkau tetap makan dan minum?” Kembali Nabi Sulaiman bertanya.

Pemuda tersebut menjawab, “Ya Nabiyullah, setiap hari datang kepadaku seekor burung hijau yang pelatuk dan paruhnya membawa makanan. Aku merasakan kenikmatan makanan dunia setelah menyantapnya hingga hilanglah dariku rasa lapar, dahaga, panas dingin, tidur, kantuk, kelemahan, dan hilang pula rasa kesendirian.”

“Apakah engkau bersedia kembali ke dunia bersamaku dan tinggal di istanaku?” tanya Nabi Sulaiman.

Namun pemuda itu ingin kembali ke tempat asalnya di dasar laut sana. Keinginannya hanya untuk beribadah kepada Allah ta’ala semata.

Maka dikembalikanlah kubah tersebut ke dasar laut oleh Ashif. Hanya orang saleh yang dapat melihat dan menemukan kubah tersebut. Karena kubah tersebut terlindung dari pandangan jin dan setan. Mereka tidak bisa melihatnya.

Pemuda itu mungkin masih hidup hingga hari ini. Beliau dihadirkan sebagai wujud kebesaran Allah, di mana ada manusia yang demikian setia dalam taat dan baktinya kepada Allah ta’ala. Allahu Akbar.

Ratu Balqis dari Negeri Saba

Suatu hari Raja Sulaiman duduk di singgasananya. Dikumpulkannya semua penasihat kerajaan, para punggawa, dan pengikutnya. Inilah saat di mana Raja Sulaiman bermusyarah, mendengarkan pendapat dan menerima laporan perkembangan negeri dan rakyatnya.

Semua dapat berbicara langsung dengan Baginda untuk menerima nasihat dan keputusannya. Satu demi satu perwakilan berbondong-bondong datang, berkumpul di balairung. Mereka tidak saja berasal dari kalangan manusia, juga perwakilan dari bangsa jin dan para hewan.

Sebagaimana ayahandanya, yaitu Nabi Daud alaihi salaam, Baginda Sulaiman juga memiliki kemampuan untuk menaklukkan makhluk-makhluk lain dan menundukkan angin.

Raja sekaligus Nabi Sulaiman sangat mengenali siapa saja pengikutnya. Demikian perhatiannya Baginda Sulaiman, sehingga dengan sekali menatap saja, beliau tahu ada yang belum lengkap. Siapakah dia?

“Ke mana Hud-hud pergi? Mengapa ia tak kunjung datang? Adakah urusan yang lebih penting dibanding memenuhi panggilanku?” Tanya Sang Raja memecah kehehingan suasana.

Burung Hud hud
Burung Hud-hud

Tidak biasanya ia datang terlambat. Burung Hud-hud sangat disayangi Nabi Sulaiman karena kecerdikannya. Semua yang datang, terdiam membisu, mereka betul-betul tidak tahu di mana keberadaan burung tersebut.

“Sungguh, jika yang dilakukan Hud-hud bukan hal yang penting, maka ia telah melalaikan panggilanku.”

Tepat menjelang tengah hari, datanglah burung Hud-hud menghadap. Baginda Sulaiman segera menegurnya,

“Wahai Hud-hud, dari mana sajakah engkau? Mengapa engkau terlambat memenuhi panggilanku?”

“Maafkan hamba yang mulia. Hamba baru saja menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ke sebuah negeri bernama Saba. Negeri tersebut sangat makmur dan sejahtera. Kerajannya pun demikian indah. Pemimpinnya adalah seorang ratu. Dia memiliki singgasana yang demikian besar dan indah, panjangnya 80 hasta, lebarnya 40 hasta, dan tingginya 30 hasta. Hanya sayangnya, mereka semua, sang Ratu dan rakyatnya masih menyembah matahari.”

Mendengar penjelasan Hud-hud, Raja Sulaiman terdiam sejenak.

“Benarkah apa yang kau katakan itu, Hud-hud?”

“Hamba tidak akan berdusta, Paduka.”

“Baiklah. Akan kubuktikan kebenaran perkataanmu. Engkau kuutus untuk menyampikan surat ini kepada Sang Ratu. Lalu dengarkan apa yang mereka bicarakan setelah membaca surat tersebut.”

Kembali Hud-hud terbang melintasi gurun, menyeberangi lautan, melewati pegunungan tinggi dengan cuaca berbeda-beda, hendak menyampaikan amanat berupa surat Raja Sulaiman untuk Ratu di negeri Saba.

Negeri Saba terkenal dengan hasil alamnya yang melimpah. Tanahnya subur. Hasil kebun berlimpah ruah, sehingga jika ada seseorang yang masuk ke dalam kebun sambil membawa keranjang di kepalanya, maka buah-buahan itu akan berjatuhan sendiri karena telah ranum dan matang, tanpa perlu dipetik lagi.

Banyak pedagang asing berdatangan hendak berniaga. Pelabuhan negeri selalu ramai oleh orang yang datang dan pergi dari berbagai mancanegara.

Sang Ratu sedang duduk di singgasananya nan megah, ketika dilihatnya seekor burung datang menerobos masuk membawa segulungan surat.

Diambilnya surat dari burung tersebut, kemudian ia membacanya, “Dari Sulaiman. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hendaklah engkau tidak berlaku sombong, berserah dirilah untuk menyembah Tuhan yang satu.”

Setelah membaca isi surat dari Nabi Sulaiman yang menyeru pada keimanan, Ratu Saba meminta pendapat majelis, yaitu para penasihat dan punggawa istana mengenai tindakan apa yang semestinya ia tempuh untuk menjawab surat dari Sulaiman.

Ratu Balqis dari Saba
Ratu Balqis dari Saba

Seorang penasihat berkata, “Wahai Paduka Ratu, jika engkau tak berkenan dengan isi surat tersebut maka kami siap untuk bertempur demi menjaga kehormatan negeri dan kerajaan. Pasukan kita sangat banyak, sangat kuat, dan terlatih. Kita tak akan mungkin mudah dikalahkan.”

“Wahai para penasihat, walaupun tentara kita kuat dan siap untuk bertempur membela keagungan dan kejayaan negeri, namun suatu peperangan akan membawa banyak penderitaan. Sebaiknya kita berikan saja emas permata yang banyak sebagai tanda perdamaian. Semoga dengan begitu hati sang raja akan luluh dan tak akan mengganggu negeri kita lagi,” demikian sang Ratu memberikan maklumatnya.

Baca juga:  Kisah Nabi Ismail As

Maka pergilah utusan Ratu kepada Raja Sulaiman dengan membawa hadiah emas permata yang sangat banyak. Semua permata, perhiasan, serta barang-barang antik tersebut diangkut oleh beratus-ratus unta dan kuda nan gagah perkasa. Ini dilakukan demi melunakkan hati Raja Sulaiman.

Sesampainya utusan tersebut di istana, mereka langsung menghadap Nabi Sulaiman.

“Wahai Paduka Raja, kami datang dari tempat yang jauh. Menempuh perjalanan yang sulit dan melelahkan. Dari negeri Yaman ke Yerusalem. Kami bertaruh nyawa demi mengharap belas kasihmu. Terimalah salam perdamaian dari Ratu kami, Ratu Saba. Kami mengharapkan pertemanan dan perdamaian, bukan permusuhan. Semoga Paduka menerima semua tanda perdamaian ini,” sang utusan berkata sambil menunjukkan berbagai benda berharga yang mereka bawa.

Mendengar keterangan dari utusan tersebut, wajah Raja Sulaiman menjadi merah padam.

“Sungguh bukan harta benda ini yang aku harapkan. Aku tak membutuhkan ini semua. Sebab segala sesuatu yang diberikan Allah kepadaku jauh lebih berharga dibandingkan apa yang kalian bawa ini. Sampaikan pada ratu kalian, janganlah berbangga hati dengan semua harta benda ini. Aku hanya ingin menyerunya untuk beriman kepada Allah. Tunduk dan menyembah Allah.”

Baginda Sulaiman terang-terangan menolak semua hadiah tersebut. Bahkan siap berperang, menyerang negeri Saba jika mereka tidak mau menyembah Allah. Tentu saja semua utusan menjadi kecut mendengar kemarahan Sulaiman. Apalagi melihat demikian banyak pasukan yang dimiliki. Dari jin yang bisa menghilang sekejap mata hingga binatang buas yang luar biasa ganas.

Maka pulanglah kembali para utusan ke negeri Saba. Ratu Saba tentu saja kaget dengan penolakan tersebut. Biasanya semua raja akan senang menerima semua hadiah tersebut. Nabi Sulaiman dengan tegas menyatakan hanya membutuhkan keimanan dari Ratu negeri Saba tersebut, bukan limpahan emas permata.

Ratu Balqis dari Negeri Saba
Ratu Balqis dari Negeri Saba.

Ratu Saba tertarik hatinya untuk mengenal siapakah gerangan Baginda Sulaiman ini? Bagaimana kerajaannya? Apakah lebih sejahtera dan makmur dibanding kerajaanku? Tanya Ratu Saba dalam hati.

Selain itu, hati sang Ratu juga diliputi kekhawatiran, jika ia menolak menghadap Raja Sulaiman, maka nasib rakyat Saba akan terancam bahaya. Apalagi saat itu, negeri Saba tengah dilanda wabah penyakit. Kondisi negara sedang guncang. Jika terjadi konflik dengan kerajaan lain, tentu dengan mudah negeri Saba dihancurkan dan mereka akan menjadi tawanan selama-lamanya.

Menimbang itu semua, kembali Ratu meminta pendapat para penasihat kerajaan. Mereka mendukung Sang Ratu untuk datang menghadap Raja Sulaiman demi menghindari peperangan.

Memindahkan Singgasana Ratu Saba Sebelum Sempat Berkedip

Sementara itu, sepulangnya utusan dari negeri Saba, Raja Sulaiman kembali berpikir bagaimana caranya agar sang Ratu bisa beriman.

Meski qadarullah, tentu saja proses keimanan itu terjadi atas izin Allah semata. Namun, baginda Sulaiman hendak berikhtiar mencari cara agar sang Ratu bisa melihat mukjizat yang terjadi atas landasan iman.

Terbetik ide dalam benak sang Raja untuk memindahkan singgasana Ratu Saba ke kerajaannya. Mengapa demikian?

Karena singgasana Ratu adalah cerminan dari diri ratu sendiri, sesuatu yang menjadi identitas diri sang Ratu. Tentu tak sembarang orang berani mengganggu singgasana tersebut, apalagi memindahkannya. Namun dengan kuasa Allah, singgasana semegah itu bisa dipindahkan tanpa sang Ratu mengetahuinya.

Maka bertanyalah Sulaiman kepada para punggawa, siapakah gerangan yang dapat memindahkan singgasana Sang Ratu.

Saat itu lfrit, dari bangsa Jin, langsung menyanggupi. “Hai Sulaiman, aku dapat memindahkan singgasana Ratu ke istanamu sebelum engkau bangkit dari dudukmu.”

Dengan sukacita bangsa jin akan membantunya. Namun belum lagi Sulaiman menyetujui bantuan jin, seorang juru tulis istana yang juga seorang ahli ibadah bangkit berdiri dan berkata, “Wahai paduka Sulaiman, hamba dapat memindahkan singgasana ratu Saba dari negeri Yaman ke Yerusalem, sebelum engkau sempat berkedip.”

Dia yang berkata seperti itu adalah Ashif bin Barkhiya. Maka, dengan izin Allah, doa Ashif untuk memindahkan singgasana Ratu Saba lebih cepat dari kedipan mata pun terjadi. Semua yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi terkesima.

Selain oleh kemampuan Ashif juga karena kemegahan singgasana Ratu. Pantulan emas berlian berpendar memenuhi seluruh ruangan. Singgasana itu ditata dengan artistik, membuat siapa pun lupa berkedip.

Namun Raja Sulaiman segera menyadarkan mereka, “Sesungguhnya inilah salah satu karunia Allah sebagai cobaan bagi kita semua, apakah akan menambah syukur kepada Allah atau tidak. Sekarang singgasana Ratu sudah berada di hadapan kita semua. Ini untuk menyadarkan sang Ratu bahwa dengan iman kepada Allah, tak ada yang tak mungkin terjadi.”

Kondisi negeri Saba semakin mengkhawatirkan. Sang Ratu membutuhkan dukungan untuk memulihkan kerajaannya kembali. Akhirnya sang Ratu berkenan menghadap Raja Sulaiman.

Sejak memasuki negeri kerajaan Sulaiman, hati Sang Ratu sudah terpesona dengan kemegahan dan kedigdayaan istana Raja.

Belum lagi negerinya amat makmur dan tertib. Penduduknya ramah dan jujur. Semua rakyat terlihat amat mencintai raja dan negerinya. Mereka bekerja keras tanpa pamrih demi kemajuan dan kejayaan negeri yang mereka cintai ini.

Sepanjang jalan menuju istana, mata mereka dimanjakan oleh berbagai keindahan. Bentangan emas dan berlian sebagai permadani. Tentaranya sangat banyak, saking banyaknya hingga jika mereka semua berbaris panjangnya mencapai 3 mil.

Piring dan periuk sebesar kolam berisi aneka makanan tersebar di sudut-sudut negeri. Tak ada satu pun makhluk yang kelaparan. Sungguh tidak akan pernah ada sebelum maupun sesudah kekuasaan Nabi Sulaiman yang dapat menandingi kekayaannya.

Terlebih saat memasuki istana. Dindingnya memancarkan terang berkilauan, terbuat dari batu pualam. Tiang dan pintunya terbuat dari tembaga dan emas. Atapnya terbuat dari perak. Setiap ukirannya bertahta intan berlian dan mutiara.

Bahkan taman kerajaan ditaburi batu permata. Ketika menatap lantai istana, tanpa sadar Sang Ratu mengangkat sedikit ujung gaunnya karena menyangka lantai istana adalah kolam air saking bening dan mengkilap. Padahal lantai itu terbuat dari kaca, namun menyerupai air.

Belum lagi hilang rasa takjubnya, Ratu dikejutkan dengan singgasana megah di mangan utama. Singgasana yang ia kenali, yang membuatnya merasa berada di istananya sendiri. Tapi bagaimana mungkin ada keserupaan tersebut?

“Bagaimana mungkin singgasana ini bisa serupa dengan singgasanaku di Saba?” Tanya sang Ratu terheran-heran.

“Itu memang singgasanamu yang dipindahkan ke istana ini,” jawab Sulaiman.

“Bagaimana caranya singgasana sebesar ini bisa sampai ke sini? Padahal singgasana itu terkunci ke dinding.”

Sulaiman berkata, “Seseorang yang saleh, dengan seizin Allah telah memindahkannya ke sini sebelum mata berkedip.”

Jawaban tersebut membuat kagum sang Ratu. Makin yakinlah sang Ratu bahwa Raja negeri ini bukanlah raja sembarangan. Bukan raja sembarang raja. Ada keistimewaan dan karomah dari raja ini yang membedakannya dengan raja dari kerajaan lainnya.

Ratu Balqis disambut di istana Nabi Sulaiman
Ratu Balqis disambut di istana Nabi Sulaiman.

Demikianlah, pada akhirnya sang Ratu mengakui segala kebesaran dan kehebatan itu merupakan anugerah Allah ta’ala. Tak ada keraguan dalam hatinya untuk mengikuti seruan Raja Sulaiman, yaitu untuk beriman kepada Allah yang satu.

Sulaiman pun menerima keimanan Ratu dan memberikan nama: BALQIS, yang berarti permaisuri yang cantik.

Ashif Ibn Barkhiya

Siapakah yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam kedipan mata? Siapakah sosok yang perannya disebutkan dalam Al-qur’an namun namanya tak dikenal? Yang memiliki kemampuan melampaui para jin?

Beliau adalah Ashif ibn Barkhiya, sepupu Raja Sulaiman sekaligus cucu dari Raja Thalut. Masih ingat Raja Thalut di kisah Nabi Daud?

Ya. Raja Thalut adalah rajanya Nabi Daud saat beliau masih menjadi penggembala. Saat Thalut melawan Jalut (Goliath), Nabi Daud lah yang membantu mengalahkan Jalut dengan menggunakan ketapelnya.

Ashif, seorang yang banyak mendekatkan diri pada Allah. Banyak kontribusi beliau dalam membantu kekhalifahan Sulaiman, terutama dalam menguatkan akidah di masyarakat.

Ashif Ibn Barkhiya mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam kedipan mata
Ashif Ibn Barkhiya, orang sholeh yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam kedipan mata.

Meski masa itu banyak jin yang memiliki kedigdayaan dan kemampuan luar biasa, serta sering kali diperbantukan untuk memudahkan segala urusan kerajaan, namun kehebatan itu sering kali dipatahkan oleh kesalehan Ashif.

Jika jin Ifrit, raja segala jin yang hidup abadi mampu memindahkan singgasana sebelum Sulaiman bangkit dari duduknya. Ashif mampu memindahkan singgasana lebih cepat daripada kedipan mata.

Beliau pernah mengingatkan Nabi Sulaiman untuk tidak menikah dengan seorang perempuan dari peperangan. Namun Nabi Sulaiman tetap menikahinya. Ternyata perempuan tersebut tanpa sepengetahuan Sulaiman masih memuja berhala. Hal itu dilakukan terus sampai akhirnya ketahuan oleh Nabi Sulaiman di hari ke-40.

Akibat kelalaian Nabi Sulaiman yang tidak mendengarkan peringatan dari Ashif, hamba Allah yang saleh, Nabi Sulaiman dihukum Allah dengan tindakan makar dari setan yang mencuri cincin dan tahta Nabi Sulaiman selama 40 hari. Selama 40 hari kerajaan Nabi Sulaiman dikuasai oleh setan dan jin jahat.

Di saat yang lain, Nabi Sulaiman memperoleh petunjuk untuk menyingkap tabir keanehan di dasar samudra. Tak ada satu pun golongan jin yang dapat menemukan apa yang dimaksud dalam petunjuk tersebut.

Ashif kemudian berdoa kepada Allah dan menemukan kubah di dasar lautan. Ternyata dalam kubah tersebut ada seorang hamba yang telah memperoleh derajat kesalehan demikian tinggi, karena saat hidupnya ia telah membaktikan diri untuk merawat kedua orangtuanya yang lemah.

Demikianlah, Ashif, seorang Auliya, dihadirkan Allah untuk mendampingi Sulaiman. Ashif lah yang selalu mengingatkan agar manusia meminta pertolongan pada Allah, tidak tergantung pada jin. Agar manusia tidak terlena dengan keajaiban sihir dari jin.

Kemampuan yang dimiliki jin sekali pun tak terlepas dari izin Allah. Karena semua hal yang dimiliki manusia berasal dari Allah. Sebagaimana doa yang sering beliau munajatkan, “Ya Illaha, Ilaha kulli sya’i, ilahan wahidan la ilaha illa anta.Ya Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, tiada Tuhan selain Engkau.

***

Demikianlah kisah Nabi Sulaiman As yang penuh hikmah dan pelajaran, semoga menambah keimanan kita.

Akmal Bahtiar

Menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, aktif menulis berbagai topik populer, seperti sains, sastra, dan hiburan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button