Kisah Nabi Ishaq As

Nabi Ishaq As adalah putra Ibrahim yang lahir saat Ibrahim berusia 100 tahun, tepat 14 tahun setelah kelahiran Ismail. Seorang putra nan tampan, cerdas, dan pemburu tangguh.

Hingga akhirnya sampailah Ishaq di usia dewasa, 40 tahun. Sudah saatnya untuk berkeluarga. Maka, Ibrahim mengutus orang kepercayaannya bernama Ellyazar untuk mencarikan pasangan bagi Ishaq.

Ibrahim berkata carikan pasangan untuk Ishaq, tapi hindari daerah Kan’aan. Sesuai petunjuk Ibrahim, pergilah Ellyazar ke daerah Haran, tempat Nabi Ibrahim dibesarkan untuk mencari perempuan yang dicintai Allah.

Ketika itu Elly sampai di sebuah mata air di mana banyak perempuan sedang mengambil air. Kemudian ia memanjatkan doa,

“Ya Allah, saya akan berkata pada mereka untuk minta air, maka biarlah perempuan (yang dimaksud) menjawab, “biarlah aku berikan engkau air dan memberi minum untuk untamu…”

Belum rapat lagi lisan Elly menyelesaikan doa, tiba-tiba seorang perempuan datang mendekat sambil menyapa, “Wahai paman apakah engkau baru datang dari jauh? Engkau tampak lelah, biar aku ambilkan air untukmu.”

Bergegas perempuan tersebut menimba air di sumur dan membawakannya untuk Elly. “Nah, minumlah, paman. Aku akan mengambil air lagi untuk memberi minum untamu,” kata perempuan tersebut ramah.

Saat datang ke tempat tersebut, Elly membawa sekitar 10 ekor unta. Unta sebanyak itu dipersiapkan untuk memboyong calon istri Ishaq beserta pelayan dan perlengkapannya.

Satu ekor unta yang haus membutuhkan sekitar 100 liter air. Bisa dibayangkan berapa kebutuhan air untuk 10 ekor unta! Dan, Ribka yang pemurah bersedia untuk menimba air di sumur berkali-kali demi untuk memberi minum unta-unta tersebut.

Elly kagum melihat kesigapan dan pemurahnya perempuan tersebut. Ini pasti perempuan yang dipilih Allah sesuai doanya tadi. Allah telah mengabulkan doanya. Tapi siapakah perempuan tersebut?

Dia adalah Ribka, putri Betuel yang masih merupakan keponakan Luth. Perempuan yang paling cepat berbuat baik. Paling ringan langkahnya untuk membantu orang lain. Tangannya begitu mudah mengulurkan rasa kasih. Ribka ternyata cucu Haran. Keponakan Luth. Masih ingat ketika Ibrahim masih kanak-kanak, ia dititipkan kepada Haran?

Kemudian Elly mendatangi keluarga Ribka dan memohon kesediaan Ribka untuk diajak bertemu Ishaq. Ishaq dan Ribka pun menikah. Meski mereka saling mencintai namun kesabaran mereka diuji karena tidak memiliki keturunan hingga 20 tahun lamanya.

Ribka merasa sedih hatinya. Namun Ishaq menghiburnya karena Ishaq lahir saat Ibrahim dan Sara telah berusia lanjut. Lalu mereka bersungguh-sungguh dalam mengadakan kebaktian kepada Allah. Allah mengabulkan doa mereka hingga Ribka mengandung.

Datanglah malaikat yang mengabarkan berita sukacita tentang kandungan Ribka. “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada yang anak yang muda.”

Ketika berusia 60 tahun, Ribka melahirkan anak kembar. Bayi pertama yang lahir berkulit merah dan tubuhnya dipenuhi bulu, maka ia diberi nama Esau. Sedangkan bayi berikutnya lahir dengan memegang tumit kakaknya, maka ia diberi nama Yakub.

Esau tumbuh gagah dan kekar, menjadi pemburu tangguh dan sangat diandalkan ayahnya untuk mengurus keperluan keluarga dan suku mereka. Esau lebih sering berada di padang untuk mencari binatang buruan. Sedangkan Yakub bertubuh lebih kecil. Dia lebih suka merenung dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dia sangat dicintai ibunya karena selalu ada di saat ibunya membutuhkan.

Sebagai nabi, Ishaq memiliki berkat yang jika diberikan pada seseorang, maka orang tersebut akan memiliki karomah untuk menjadi pemimpin bangsa yang besar. Ishaq berharap Esau sebagai anak sulung yang memperoleh berkat darinya. Apalagi fisik Esau sangat mendukung untuk menjadi pemimpin. Esau sangat gagah dan tak pernah meleset saat berburu.

Esau pasti memiliki anak yang banyak sehingga keturunannya akan berkembang biak menjadi bangsa yang besar.

Namun Ribka tak sependapat dengan Yakub. Menurut Ribka, Yakub lebih berhak untuk mendapatkan “berkat” tersebut. Fisik Yakub memang tak sekekar dan segagah Esau, namun Ribka melihat potensi kebijaksanaan dan kehalusan budi pada Yakub.

Selain itu, malaikat yang mendatangi Ribka mengatakan jika anak yang lahir kemudian (yang lebih muda) yang akan memimpin anak lainnya. Diam-diam Ribka mencari cara agar Ishaq berkenan memberkati Yakub.

Ketika tiba saatnya untuk memberkati, Ishaq meminta Esau pergi berburu mencari makanan kesukaannya. Ishaq minta dibuatkan daging panggang kesukaannya. Ishaq ingin berada dalam kondisi terbaik saat memberikan “berkat” pada Esau, karena itu ia meminta Esau melayani permintaannya. Segera saja Esau berangkat mencari binatang buruan untuk memenuhi permintaan ayahnya.

Ketika Esau pergi, Ribka segera meminta Yakub datang kepada Ishaq untuk meminta berkat tersebut. Yakub dengan kehalusannya menolak usul ibunya.

“Bagaimana mungkin aku meminta ‘berkat’ dari ayah, sedangkan ‘berkat’ itu adalah hak anak sulung?” Tanya Yakub.

“Akulah yang akan menanggung semua beban itu anakku. Lakukan saja apa yang aku katakan,” Ribka menenangkan Yakub. Yakub anak santun yang menuruti kata ibunya. Ribka sebenarnya hanya menjalankan apa yang telah dinubuwwahkan oleh malaikat tentang bayi yang dikandungnya.

Maka demi memperoleh ‘berkat’ tersebut, Ribka melakukan suatu tipu daya. Demi menghindari kecurigaan Ishaq, Ribka memakaikan bulu Esau kepada Yakub. Setelah itu lekas-lekas ia memasak dan menghidangkan daging panggang kesukaan Ishaq. Lalu dimintanya Yakub untuk datang menghadap ayahnya. Yakub hanya menjalankan apa yang diminta ibunya.

Saat itu mata Nabi Ishaq As sudah rabun karena penyakit tua. Usianya hampir mencapai 100 tahun. Mata Ishaq sulit untuk mengenali siapakah sosok yang datang di hadapannya. Ia hanya dapat mengenali suara.

“Apakah engkau Esau, Nak? Cepat sekali kau pulang berburu. Datanglah mendekat padaku agar aku dapat menyentuhmu,” Yakub datang mendekat.

Ketika Nabi Ishaq mengelus tubuh Yakub, ia merasakan pakaian berbulu yang biasa digunakan Esau. Ketika memeluk juga dirasakan aroma Esau. Bertambah yakinlah Ishaq bahwa yang datang kepadanya adalah Esau. Maka Ishaq memberikan berkatnya pada Yakub yang disangka Esau.

Setelah selesai memberikan ‘berkat’, Nabi Ishaq jatuh tertidur. Ketika itulah Esau datang dengan daging buruan yang telah siap dipanggang. Mencium aroma daging panggang, Ishaq terbangun dan bertanya kenapa kau bawa lagi daging itu? Aku masih merasa kenyang.

Esau menjawab, “Aku baru saja pulang berburu. Ini aku buatkan daging panggang kesukaan ayah,” Tentu saja Ishaq terkejut karena ia menyangka Esaulah yang sebelumnya datang. Betapa terkejutnya Ishaq karena ‘berkat’ tersebut telah telanjur diberikan kepada Yakub.

Nasi sudah menjadi bubur. Takdir Allah yang menghendaki demikian. Manusia hanya bisa berencana, namun segala kejadian telah dicatat di lauhul mahfuzh bahkan sebelum manusia lahir. Semua telah digariskan oleh takdir bahwa melalui Yakublah keturunan Bani Israil berkembang pesat melalui ke-12 keturunannya.

Di antara keturunannya ada Yehuda yang melahirkan banyak raja, termasuk di antaranya Daud dan Sulaiman. Ada Lewi yang melahirkan garis imam atau tokoh agama, di antaranya, Harun, Musa, Maryam, Yahya, dan Isa. Juga ada Yusuf yang kelak menjadi penguasa Mesir.

Keturunan Yakub yang disebut Bani Israil berkembang di Mesir, lalu melakukan eksodus di bawah bimbingan Musa menuju Baitul Maqdis.

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikannmereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu, selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad [38]: 45-47).

Akmal Bahtiar

Menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, aktif menulis berbagai topik populer, seperti sains, sastra, dan hiburan.
Back to top button