Kumpulan Puisi Cinta Pendek Romantis, Menyentuh Hati [AWAS BAPER!]

Kumpulan puisi cinta pendek dan romantis berikut ini berisi puisi cinta terbaik yang kita pilih dari berbagai sumber. Puisi cinta tidak hanya sebagai salah satu bagian dari kekayaan kesusastraan negeri ini, tapi kini telah menjadi wadah untuk meluapkan emosi jiwa, ungkapan hati dan perasaan yang terpendam, tak bisa tersampaikan secara langsung.

Apakah kamu termasuk orang yang suka menyembunyikan perasaan kepada orang lain? kemungkinan besar iya. Benar, kan? Puisi cinta pendek atau puisi romantis berikut ini bisa kamu gunakan untuk mewakili perasaanmu. Tenang, kamu tidak sendiri. Terkadang seseorang perlu meminjam kata-kata orang lain untuk menggambarkan suasana hati yang sedang dialami.

Jangan takut untuk mencintai. Itu adalah hal lumrah. Puisi cinta, romantis, rindu, sedih dan cinta dalam diam bisa kamu ungkapan dalam bentuk aksara. Tulislah sendiri puisi cintamu.

Puisi cinta

Puisi cinta
Puisi cinta (via pexels.com)

Pada tegukan kopi terakhirku, tercurah harap dan cita.
Moga sapa pertamamu, awal kisah kita.

***

Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, syair yang kau tulis mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari?

***

Aku sempat cemburu pada awan, yang sering kali kaupandang.

***

Nyatanya, hatiku tak cukup menjadi rumah bagi jiwa petualangmu
Nyatanya, cintaku tak mampu mendinginkan panasnya geloramu
Lalu aku bisa apa?
Mengais belas kasihanmu yang kau cecer sepanjang jalan?
Bukan, itu bukan cinta Jika hanya membawa luka dan derita.

***

Selalu ada yang melintas di kepala, entah itu syairmu, atau wajahmu yang hanya bisa kureka.

***

Cinta selalu punya caranya sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang.

***

Setiap orang memiliki batas kewarasannya masing-masing. Hanya saja, memilih bertahan, diam, atau melepaskan adalah kesepakatan hati dan akal. Pun kau yang sering pulang bertandang dan pergi menghilang.

***

Jika rindumu tak lagi jadi milikku. Lantas, apalagi alasanku kembali ke kota ini?

***

Ada jarak yang terbentang karena rindu
Ada cerita yang terbuat karena jarak
Aku percaya, ceritamu dan ceritaku akan jadi cerita kita saat kita bertemu.

***

Tidurlah, sebab rindu juga butuh istirahat.

***

Puisi cinta sejati

Puisi cinta sejati
Puisi cinta sejati

Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam
jernihnya selalu menatapmu bersamanya.

***

Selalu ada yang tak diceritakan,
langit kepada hujan.
Entah pagi bersambut kabut,
Atau mendung yang bikin murung.

***

Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing masing.

***

Serupa gelombang lautan, cinta datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kaukejar. ~

***

Cinta bisa memberikan cahaya
Pada mata yang sekalipun buta
Cinta juga bisa jadi petaka
Meski pada orang yang di surga
Ah, biarlah …
Cinta tak butuh kata-kata.

***

Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu. ~

***

Gemelisik daun kering menyadarkanku
bahwa semestamu bukanlah aku.
Kerontang daun terseret angin
melebur menjadi luka hatiku.

***

Setelah tidak dengannya, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percaya perasaan itu datang tanpa direncanakan, dan pasti juga akan hilang tanpa direncanakan. ~

***

Tak semudah itu merangkai kata. Jika pun sudah terangkai bibir tak bisa semudah itu mengatakannya. Dan masih terlalu rumit untuk di jelaskan. Diamku adalah mencintaimu !!

Puisi cinta singkat

Puisi cinta singkat
Puisi cinta singkat

Sebagai warna, kau ingin jadi apa?
Biru yang damaikah?
Atau merah yang bergairah?
Ayolah,
Kita sedang membicarakan cinta,
Bukan partai pengemis suara.

***

Kau bagian dari hidupku yang tak akan pernah bisa kuulang kembali..
Kau dokumentasi sejarah yang paling indah.
Yang kini, tersimpan abadi dalam sebuah ilusi.

***

Yang kutakuti dari mawar,
Kau tak lagi jadi wangi yang damai.
Namun menjadi duri yang menyakiti.

***

Jika mencintaimu adalah mata pelajaran, maka aku akan hadir; duduk paling depan. ~

***

Bagaimana mungkin kau kan percaya akan rindu ini.. Bila kau menganggap itu semua sebagai suatu hal yang palsu nan tabu. ~

***

Bisa tidak, kau pahami sedikit hatiku, aku bukan melebihkanmu tapi aku justru memperhatikanmu.

***

Menyukai orang sedingin kamu buat aku sadar, jika kamu menaruh perhatian tidak pada sembarang orang. ~

***

Kelelahan akan selalu datang untuk orang-orang yang tak mengerti arah, tak akan tahu dengan tujuannya, pun dengan diriku yang kini tak mengerti arah mana yang sedang kuperjuangkan, tujuan apa yang sedang kutempuh, tentangmu atau tidak sama sekali.

***

Senja tiba dengan rona bayangmu yang memenuhi semesta, sejauh mataku berkaca, wajahmu seperti lampu cahaya yang memenuhi segala. ~

***

Adalah kehilangan. Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan. Pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan.

***

Senyatanya sepi adalah aku, perempuan yang kerap ditinggalkan cinta dan rindu rindu.

***

Kalau rindu itu peluru, engkau pasti penembak paling jitu. ~

***

meski rinduku tak kau balas, meski rasa sayangku tak pernah kau anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat, hanya Tuhan yang mampu membuatmu dekat.

***

Hingga hujan redah, kita masih ragu siapa yang ingin memulai.
Jarum jam terus berputar semakin mendesak tapi kau dan aku masih gengsi.
Hingga akhirnya rela menyiksa diri.
Malam semakin pekat dan kita tetap saling menunggu siapa yang memulai
“aku mencintaimu”.

***

Mungkin di benakmu terselip sebuah rasa, tapi dalam pikirmu masih ada dia yang rela meninggalkanmu demi orang yang membuatnya buta dalam mencinta.

Puisi cinta romantis

Puisi cinta romantis
Puisi cinta romantis

Tempo lalu
ketika langit menjadi saksi
dan kopi menjadi bukti
kita duduk di ambang pintu
menikmati suguhan langit bersama senja
terlalu kuno memang bagi para pengelana cinta
tapi kita selalu memiliki cara untuk bahagia.

***

Jauh di seberang, kapal tak kunjung menepi
Kecipak air berlabuh tak tahu ke mana harus bertambat
Tiada angin laut berembus, angin darat terus meraung
Pesisir tak lagi asin, pelaut tak kuasa tinggal
Jauh di ufuk matahari ingin pulang
Tak kunjung berlabuh dermaga sepi.

***

Manakala hujan datang menghampiri,
Ia serupa sajak yang belum usai;
Untuk dibaca esok hari.

***

Aku pernah mengagumi senja lebih dari segalanya, saat ini, aku lebih mengagumi aksara yang tertera melebihi warna jingga.

***

Dulu kau selalu menjadi alasanku untuk ‘pulang’.
Di kota yang membuatku mengenang segala kenangan yang kita lalui bersama, dulu. Namun, kini, semuanya berubah pilu dan kau tak lagi menjadi alasan dari kepulanganku.

***

Aku penasaran, seperti apa rasanya menyimak rinduku di balik layar, sambil kamu asyik menyandarkan pipi di bahu dia?

***

Banyak yang hilang dari kota ini, tapi satu yang tidak pernah hilang, bahkan berubah pun tidak: kamu.

***

Di hilangmu kali ini, tuan
Kunikmati saja perih yang meraja
Mungkin engkau tak berkehendak menengok hatimu
Namun, kutahu istanamu tak lagi terasa sama
Sejak kaubawa serta hatiku pulang ke sana.

***

Dari kotamu sempat kutemukan tenang dari dirimu sempat kutemukan nyaman. Kemudian engkau menghilang, tak kutemukan tenang di kota lain sayang.

***

Kupikir ini rindu.
Ternyata candu yang telah menjadi tabu.
Kupikir akan jadi romansa.
Ternyata hanya sebuah fatamorgana.

***

Di atas bangku taman itu, dulu, daun daun musim gugur, debu debu luruh, dan angin yang membisu, adalah saksi akan sebuah tunggu yang beribu.

***

Untukmu yang masih kutunggu, tabahku bagai bangku taman usang, yang rela dihujani dedaun musim gugur.

***

Aksara puisiku berserakan, berjatuhan serupa daun kering. Dengan peluh kupunguti satu persatu menjadi komposisi rindu yang aduh.

***

Semesta sangat suka melihatmu kesakitan menahan rindu, sebab kesakitan akan membuatmu memilih bertemu atau hanya terus merindu.

Puisi cinta islami

Puisi cinta islami
Puisi cinta islami

Siapa aku?
Berani menolak cinta
Padahal Allah memberikannya kepadaku.
Ah, kembalikan lagi saja pada-Nya cinta ini.
Dia Mahatahu akan apa yang ada dalam hati.

***

Aku hanya bisa menuliskanmu puisi,
Dan segelas air bila kau haus.
Namun, jika kau ingin merasakan cinta;
Mintalah pada Tuhan saja.

***

Aku rapalkan doa di setiap sujudku yang masih rapuh, meski kau tak mendengar tapi semesta ikut serta mengaminkannya.

***

Jika bertemu denganmu adalah Takdir Tuhan,
Dan berteman denganmu adalah pilihan,
Maka jatuh cinta padamu bukanlah sesuatu yang aku rencanakan.

***

Teruntuk puan yang pernah bercadar sarung. Ijinkan doaku menyelinap saat bulan menemani mimpimu. Berharap munajatku tinggi sampai pada tempat Rabbimu. Hingga ada ijabah dua sayap menjadi satu. Aku dan kamu.

***

Dirantai cinta. Digelangi bahagia. Aku tak mau kembali. Biarkan saja terjerat di sini. Rindu ialah persinggahan terbaik. Saat doaku dan doamu saling mengusik.

***

Bayangkan jika ia tahu bahwa sebenarnya doalah pemanduku menuju jalan jodohmu. ~

***

Saat ini tak tahulah daku di mana Nyonya bermihrab
Tak paham pula daku pasal rahasia Rab
Tapi selama Nyonya sedia dan daku mampu
Insyaallah pijakku takkan gentar dalam menunggu.

***

Dimaki. Dihina. Diragukan. Tapi Tuhan tetap menghidupi. Tapi Tuhan tetap menyayangi. Tapi Tuhan tetap melindungi. ~

***

“Jangan pernah biarkan bara rindu ini padam,” gumamku di sudut senja ini. Menunggu sang malam datang agar ku bisa tumpahkan semuanya dalam simpuhku pada Tuhan. ~

***

Di kota Bandung aku terlahir.
Berubah menjadi sesosok perindu tentang semua yang ada padamu.
Dirimu yang selalu kunanti.
Dirimu yang selalu kudoakan.
Dirimu yang selalu kuceritakan pada Tuhan agar bersanding di pelaminan.

***

Pada akhirnya aku memilih pergi, bukan karena tidak ingin bersamamu, tapi karena kepergianku adalah cara Tuhan membuat kita bahagia dengan takdir-Nya.

Puisi romantis

Puisi romantis
Puisi romantis

Sementara ini, bersandarlah di pundakku hingga letihmu sirna, hingga lelahmu reda. Lantas, setelah semua binasa, kembalilah pada tujuan semulamu, mencari rumah agar semua keluhmu dapat berbaring dengan kekal.

***

Hati yang sudah saling bertautan takkan pernah meninggalkan meski jarak memisahkan karena ia tahu tujuan dan tahu ke mana ia harus pulang. ~

Cobalah berbagi kesedihan denganku. Tak peduli sepahit apa itu. Bagiku, apa pun darimu adalah arak paling candu. Tanpamu malam paling pilu. ~

***

Kudobrak pintu hatimu untuk sekadar melihat sisa rindu yang sempat kutitipkan padamu. Ingin kuambil pecahan rindu itu, untuk kurangkai kembali menjadi utuh.

***

Sebelumnya aku baik-baik saja, menikmati hari dengan penuh tawa.
Namun setelah kedatanganmu, aku sampai lupa, sudah berapa lama aku menitikkan air mata.
Pada seseorang yang datang tanpa sapa dan pergi dengan menundukkan kepala.

***

Air mata bukan akhir dari cerita. Tiap tetesnya mengandung sebuah makna. Betapapun perihnya rasa kehilangan di dada. Namun aku tetap percaya. Engkaulah yang Maha Sempurna. Engkaulah pemilik hati dan jiwa. Allah SWT. ~

***

Tak pernah aku merasa kehilangan,karena sejatinya aku bukanlah Sang Pemilik. ~

***

Jika ada kalimat yang lebih menyakitkan dari pada menahan rindu, tolong beri tahu aku. ~

***

Jangan jadi candu, karena rindu pun sudah cukup untuk membuatku sendu.

***

Kita perlu jarak agar tahu arti rindu. Kita perlu waktu agar bisa bertemu. Dan kita perlu temu agar bisa melebur rindu.

***

Akulah puisi yang sering kau tulis pada selembar kenangan, dan akulah rindu itu yang kau sebut masa lalu tetapi masih kau dekap erat.

***

Kepada senja yang menyisakan tanya. Tolong beritahu malam bahwa rinduku semakin tenggelam.

***

Demi hati yang pernah patah. Aku mencoba berdiri dengan gagah. Bertahan meski luka di hati ini semakin parah. Aku tak ingin lagi jatuh pada cinta yang salah.

***

Biarkan kopi ini kuseduh
Agar pagi ini terasa syahdu
Untuk mengurangi rindu yang menggebu
Agar hilangnya rasa haru
Mengingat dirimu.

Puisi rindu

Puisi rindu
Puisi rindu

Di pelataran waktu, aku menunggu kabar
Ketika jejak-jejak kepergianmu perlahan hilang
Dan angin berjinjit pelan, berembus menyapu kenangan
Kehampaan pun datang dihantar suara-suara kesunyian
Tatapannya beku, mengkapas pias
Aku terdiam, kehilangan…

***

Malam ini kubiarkan diriku merindu
mengingat kenangan dulu bersamamu
berharap kembali
merasakan kebahagiaan lagi
namun sulit sekali
yang bertahan hanya rasa ini.

***

Asalkan kamu masih di bumi. Sudah cukup untuk menghadiahi rindu ini.

***

Beruntungnya aku, kembali melihat senyuman itu, memuisikan lagi tentang hari-hari yang pernah hilang.

***

Saat ini,
Aku menyayangimu tanpa ciuman.
Aku memelukmu tanpa pelukan.
Aku mencintaimu tanpa bercinta.
Dan maaf, hanya saat doa terucap padaNya, aku mengutarakan semuanya.

***

Kau adalah puisi yang beterbangan layaknya camar,
Sementara aku adalah pembaca tanda baca yang begitu samar.
Bukan salahmu, ketika rindu itu tak mampu kujawab.
Aku cuma butuh waktu untuk menerjemahkan.

***

Ada rasa yang membuatku terngiang
Apakah itu rindu?
Bukan
Hanya segumpal kenangan yang ingin diulang.

***

Jadi rindu?
Rindu jadi apa?
Jadi apa saja yang menembus matamu yang bening.
Seketika itu kau bersedih.

***

Seperti katamu, malam takkan menunggu, sebagaimana rindu.
Namun, kau bahkan telah lupa, pada diriku ada yang begitu keras kepala; ingatan yang dulu memperkenalkan diri sebagai kita.

***

Setangkup roti dilumuri selai rindu, secangkir kopi beraroma ingin, dan matahari bersinar sehangat pelukan, selamat pagi, Kekasih.

***

Cinta yang terlambat datang bersama hujan sore ini, menurunkan rintik rindu yang tak kunjung bertemu
Cinta yang terlambat datang bersama mendung awan, menyesali betapa gelapnya hati untuk merasakan.

Puisi cinta sedih

Puisi cinta sedih
Puisi cinta sedih

Terkadang aku ingin kau lepas dari nyaman yang dia ciptakan
Maafkan aku yang sesekali buruk dalam mendoakan
Mungkin karena egoisme yang telah membutakan atas nama ingin memiliki
Namun…
Percayalah, semua itu demi hal baik yang harap kau dapati.

***

Cemburu yang kubakar dengan amarah itu,
Nyatanya tak menyelesaikan masalah.
Kau tetap memilih pergi,
Meninggalkan aku dengan semua luka, kecewa, dan air mata.

***

Ketika aku peduli kau suruh untuk pergi
Ketika aku kembali kau telah mengunci hati
Kau bilang terima apa adanya
Namun kini kau rusak wangi romansa
Dan ukir semua derita yang membekas dalam dada.

***

Aku menikmati dusta, duka, luka dan kecewa tanpa kecuali
Mengharapkan cinta yang lepas dari busur kesucianmu
Kasih,
Kuperbudak diriku padamu untuk cinta yang sia-sia
Apapun yang menimpaku, aku yang salah
Dari awal akulah yang salah
Semuanya aku yang lengah dan kalah.

***

Hujan tetiba datang, seperti kawan lama yang menumpahkan segala kerinduan. Dinginnya segera mendekap tubuh seakan ingin menggambarkan kesendirian. Setidaknya kini aku tahu, dalam ramaimu ada sunyi yang meradang.

***

Luka kemarin belum sembuh betul
Dengan angin yang mendayu
Sore ini, kembali kau tikamkan padaku
Benda tumpul yang kusebut kenyataan
Di berandamu kau asyik memainkan senyummu
Sementara di berandaku, kau biarkan air mata membasahi pipiku.

***

Matamu basah umpama daun daun pagi ditempeli embun.
Bening airnya
Hanya saja aku tak suka Melihat itu menyesakkan dada
Maukah kau cerita meluahkan yang kau rasa?
Tak perlu denganku.

Puisi sedih

Puisi sedih
Puisi sedih

Semesta punya cara sendiri untuk membuat kita bersedih kasih. Ia hadirkan hujan agar kau terjebak dalam kenangan. Ia datangkan senja agar kau teringat senyumnya yang manja. Ia berganti menjadi malam agar kau sendirian dicabik rindu yang dalam. ~

***

Belum pernah aku seikhlas ini melepaskan, entah ini karena cinta, atau karena pernah terluka.

***

Sejak kepergianmu. Kumerasa ada sesuatu yang hambar.
Ada suatu ruang yang terasa kosong.
Ada suatu celah yang terasa sepi.
Sulit memang, ketika pikiran memaksa kita untuk ikhlas, tetapi hati kita berkata lain. Ada sisi dalam lubuk hati yang berkata-kata ia tidak bisa ikhlas.

***

Memaksa hal yang tidak sepantasnya untuk kita itu memang sebuah tantangan
Kelak setelah kau mendapatkannya , kau mulai tidak peduli dengan kepergiannya.

***

Tak ada yang abadi. Begitupun cinta Datang dan pergi bagaikan mimpi Yang selalu menaburkan keindahan Juga menggoreskan luka.

***

Ke mana kau akan melabuhkan riuhnya perasaan, ketika derunya perundungan mendesakmu untuk memiliki pasangan. Aku, tempat curhat terbaikmu, atau dia, penyebab kau curhat padaku. ~

***

Tuhan memberi luka yang pekat hanya kepada hati hati yang kuat.
atau
kepada hati hati yang nekat.

***

Mencintaimu
Saya harus menjadi malam.
Yang diam-diam sanggup membuatmu hangat terpejam.
Meski paham saya akan mengelam langitnya.
Yang dalam-dalam sudi membuat lelah luka hatimu karam.
Meski paham saya akan terbenam akhirnya.

***

Sengaja kusimpan rinduku dalam secangkir kopi.
Aku tak ingin terlihat lemah dengan rasa yang kadang tak ku mengerti.

***

Bayangan kelam masa lalu itu mengusik lagi. Suara jangkrik seolah membisikkan janganlah kaularut pada rasamu, Jika memang rasa itu telah mati, kuburlah bersama angin malam. ~

***

Aku menggambar satu bintang untuk gelap malam ini dari mata seseorang yang telah meneteskan kesedihan, menghapus namaku. ~

***

Terhempas dalam kesunyian ku berdiri, hampa tanpa dirimu yang selalu menemani, tak terlihat lagi senyuman manis, keterpurukan yang membawaku menjadi lemah, tak memiliki arah dan keberanian, hanya karena tak mampu untuk mengungkapkan perasaan. ~

Puisi cinta pendek

Puisi cinta pendek
Puisi cinta pendek

Semenjak aku mengenal syair, hati yang beku mulai cair, semoga senja kali ini resah yang terakhir, hingga cintaku kembali terlahir.

***

Kekasih
Tetaplah di sini bersamaku
Menatap gigil pagi dengan embun-embun berjatuhan di ujung daun
Duduklah sejenak
Nikmati mentari meruapkan wangi rumput liar, menciumi kulitmu dengan keharuman Tersenyumlah
Angin tak akan pernah bosan membelai ranum tomat pipimu.

***

Kekasihku
irama di dalam jiwaku
pahamilah
cintanya lebih baik dari cintaku.

***

Jangan-jangan kita adalah dua perasan yang terperangkap basa-basi.

***

Pergilah, akan kusimpan tangisku, Tuan. Bukan tidak ingin. Tapi, selain milikmu, aku tak tahu bahu mana lagi yang bisa menjadi wadah dari air mataku.

***

Rindu yang sekarang, biarkan diberi temu, sebelum nanti menjadi dungu karena lama menunggu.

***

Cintaku padamu adalah sebuah waktu, dan yang mampu kamu ketahui hanyalah sebuah ruang.

***

Aku menyukai pagi, lamat kulihat sinar mentari dari celah rambutmu yang tergerai, menerpa senyummu yang semanis gulali, bahagia itu sederhana sekali.

***

Aku tak mengerti… mengapa kau teteskan air mata saat aku pergi, saat kutanamkan rasa rindu yang tak bertepi, Tapi aku sudah sadar dan mengerti dengan semua rasamu itu, ku berjanji tuk menemuimu lagi di hari nanti.. ~

***

Begitu pagi saat jantungku berdegup kencang menterjemahkan isi pikiranku yang ternyata kamu. ~

***

Aku yang tidak becus mencarimu atau kamu yang terlalu cerdik menghindariku?

***

Aku menutup diri dari bumi dan menghilang dalam sunyi.
Aku takut memperkenalkan diri dan membuka hati.
Tapi, sampai saat ini aku masih menyukai dan mencintai kamu berulang kali.
Walaupun hatimu telah lama mati.

***

Sesekali, bolehkah aku berkunjung ke wajahmu? aku ingin membawakan senyuman untuk bibirmu yang beku.

***

Ini bukan tentang kamu. Hanya rindu yang sedang berperan sebagai tamu. Diam-diam menyelinap membisikkan temu. Setelahnya, bergegas pergi menjelma semu.

***

Kepergianmu menyadarkanku,
Bahwa kesetiaan yang kau tinggikan dulu masih kalah tinggi dibanding rinduku saat ini.

Puisi tentang cinta

Puisi tentang cinta
Puisi tentang cinta

Senyummu serupa senja
Walau indah ia hanya sementara
Tak selamannya selalu ada.

***

Sekali lagi, jika engkau bersedia menjadi rumah setiap rindu dan perasaanku.
Tetaplah kokoh dan meneduhkan.
Akan kuhiasi ruangmu dengan segala temaram lampu terindah.
Menjadikanmu tempat istirahat dan pulang yang menyenangkan dan kurindukan, Sayang.

***

Rembulan gemetar, mengapung di danau.
Kita duduk pada hati yang batu, sebentar lagi pecah lebur jadi debu bersama duka-duka tubuh,
Sebab pelukan dan cintamu yang utuh.

***

Bertiuplah wahai angin, sibaklah helai demi helai rambutku, dan biarkan huruf-huruf berjatuhan sebagai puisi–di depan kamarmu.

***

Tak terasa hari sudah siang, di luar jendela, angin membelai pucuk pucuk dedaun, di dalam kamar, aku masih mencari kata-kata yang indah untuk memuisikan parasmu.

***

Rindu yang mengajariku untuk merangkai puisi, dan cinta adalah tinta yang membuat jelas terbaca. Dan kamu, adalah nafas dari jari-jariku untuk tetap bergerak di atas selembar harapan tanpa batas.

***

Aku tak lagi butuh temu bahkan gelak tawamu sudah tak perlu lagi kudengar Kini tawa bisa kutemukan; Dari wanita yang menyajikan kopi pertama di malamku yang kedinginan.

Puisi cinta dalam diam

Puisi cinta dalam diam
Puisi cinta dalam diam

Aku tak tahu ke mana arah diammu
Kian kejam menghukumku
Terlalu rimba nestapa ini kutebang
Entah apa yang akan terjadi
Entahlah…

***

Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, syair yang kau tulis mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari?

***

Padamu, malam, aku malu, pada angin yang berkibas bebas, sedangkan aku sendiri terbelenggu rindu yang semakin menggebu.

***

Yang aku tahu darimu
Hanyalah perihal apa yang aku suka
Sebelum kautunjukkan padaku
Bahwa kau juga bisa memberikan luka.

***

Berhenti sudah aku
Mecintaimu yang tak pernah tahu aku
Mengenal pun tidak, kan?
Ah, sakitnya …
Ternyata ini bertepuk sebelah tangan.

***

Sesederhana ini kauciptakan rasa gembira, kaubawakan aku dekapan, lalu kaurajut rindu menjadi sebuah kecupan.

***

Pada akhirnya, kau mampu menggagalkan kakiku untuk melangkah dan tak pernah membiarkan perasaanku kepadamu berubah.

***

Pagi yang cerah menyambutku dengan riang, tak terkira dirimu hadir memberikan senyum manja, bahagia tak terbatas ku dibuatnya, terlihat wajah gembira ku memandangnya, satu pintaku untuk selalu mencintaimu tak terhingga. ~

***

Menetaplah. Ini tidak akan baik karena semua kepergian menyisakan jejak yang cukup pelik.

***

Entahlah..
Saat mereka berbicara tentang Rasa,
Kamu muncul dalam benakku begitu saja.
Jika artinya adalah Suka,
Maka aku tidak mau mengakuinya.
Karena aku membencinya,
Berjuang untuk seorang yang berjuang untuk orang lain.

***

Janganlah kau takut..
Aku tiada pernah akan meninggalkanmu..
Demi hatimu..
Aku akan selalu ada disini untukmu..
Meskipun hanya memerhatikanmu dari jauh.

***

Nah, itulah kumpulan puisi cinta singkat dan romantis yang bisa menjadi perwakilan isi hatimu saat ini. Kamu sedang jatuh cinta? Puisi cinta romantis adalah hal terbaik yang bisa kamu berikan kepadanya. Meski hanya bisa kamu tulis di media sosial, semoga saja doi membacanya. ^^ (Gambar: pexels.com)

Satu pemikiran pada “Kumpulan Puisi Cinta Pendek Romantis, Menyentuh Hati [AWAS BAPER!]

  1. Cinta bisa memberikan cahaya
    Pada mata yang sekalipun buta
    Cinta juga bisa jadi petaka
    Meski pada orang yang di surga
    Ah, biarlah …
    Cinta tak butuh kata-kata.

    bagus nih kata-katanya hahaha

Tinggalkan komentar