Cara Ternak Puyuh

Perkembangan bisnis ternak puyuh kian pesat. Itu ditunjang oleh segmen pasar yang sangat luas. Telur puyuh dijajakan di pasar tradisional hingga pasar modern alias swalayan.

Sejumlah pedagang asongan pun menjadi ujung tombak pemasaran. Telur puyuh mentah dijual Rp. 250/butir. Yang matang dijual Rp. 3000/10 butir. Harganya relatif stabil, cenderung naik, hanya pada waktu-waktu tertentu, seperti lebaran dan tahun baru.

Karena potensinya itulah saat ini orang-orang berbondong-bondong beternak puyuh di berbagai daerah, terutama di Jawa Barat.

Kandang Ternak Puyuh

Kandang puyuh petelur modern dan baterai
Kandang puyuh petelur modern dan baterai.

Bibit berkualitas mutlak diperoleh agar produksi telur tetap tinggi, yakni rata-rata 80 butir atau lebih per 100 ekor/hari. Selain produktif, bobot telur juga seragam, berkisar 10-11 g/butir. Warna kerabang putih-krem bertotol cokelat.

Ada dua faktor utama yang mempengaruhi produksi puyuh, yaitu kondisi kandang yang memenuhi syarat dan penggunaan bibit unggul. Persiapan kandang, meliputi pemilihan lokasi, konstruksi kandang, dan rak pemeliharaan.

Lokasi yang dipilih harus betub-betul diperhatikan. Peternakan harus terpisah dari lingkungan perumahan minimal 50-100 m.

Sebab, meski bertubuh kecil, tetapi kotoran puyuh berbau sangat menyengat, apalagi pada musim hujan, ketajaman aromanya mengalahkan ternak ayam, sapi, dan kambing.

Hal ini dapat mengganggu kenyamanan masyarakat di sekitarnya. Lokasi yang terpencil membuat puyuh terbebas dari suara bising yang ditimbulkan oleh orang di sekitar kandang.

Puyuh gampang kaget sehingga jadi stres. Walaupun sebenarnya, seiring waktu, puyuh dapat beradaptasi dengan lingkungan yang ramai. Apalagi kini dihasilkan bibit yang tahan suasana gaduh.

Pertimbangan lain, lokasi peternakan tidak terlalu jauh dari rencana pemasaran dan toko sarana untuk beternak Lokasi terpilih itu harus bebas dari wabah penyakit unggas yang pernah mewabah.

Kandang utama dibangun di areal yang terbuka sehingga sirkulasi udara berjalan lancar. Bila perputaran udara buruk berdampak tidak sehat bagi ternak karena penyakit leluasa berkembang biak.

Hal lain yang paling utama adalah ketersediaan air. Air perlu untuk membilas lantai agar senantiasa bersih. Menjaga kebersihan ini dilakukan setiap hari. Semua itu disiapkan 1-3 bulan sebelum bibit masuk kandang.

Perlu diingat, bahan yang digunakan disesuaikan dengan ketersediaan dana. Oleh karena itu sebaiknya memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh di sekitar lokasi. Bahkan bila tersedia bahan bekas, bisa dimanfaatkan.

Semakin besar alokasi dana semakin lama dicapai break even point (BEP).

Model Kandang Puyuh

Pada dasarnya tidak ada model standar kandang puyuh. Yang penting kandang bisa membuat nyaman puyuh di dalam. Kenyamanan itu di antaranya terkait dengan sirkulasi udara, suhu dalam kandang, dan kelembapan.

Kondisi iklim mikro itu ditopang oleh konstruksi bangunan, meliputi dinding, atap, dan lantai. Temperatur ideal atau normal berkisar 20-25°C dan kelembapan 50-80%.

Dinding

Dinding bangunan berperan sebagai pelindung puyuh dari terpaan angin, hujan, atau binatang liar. Oleh karena itu dinding harus dibuat rapat, tetapi sirkulasi udara tetap lancar.

Salah satu caranya dengan membuat jendela.Tidak ada patokan khusus mengenai ukuran jendela, tetapi dapat berpatokan pada kondisi lingkungan di dalam ruangan. Semakin lebar jendela tentunya membuat suhu luar dan dalam relatif seimbang.

Ketinggian lokasi perlu diperhatikan. Di daerah dingin, dinding bangunan harus rapat dan agak tertutup untuk menahan udara dingin pada malam hari. Di dataran rendah, dinding lebih terbuka agar sirkulasi udara lancar sehingga tidak terlalu panas.

Bahan dinding umumnya dari batu bata, batako, bambu, atau gedek. Masing-masing bahan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Yang penting bahan itu mudah diperoleh dan harganya terjangkau.

Dinding kandang puyuh
Contoh dinding kandang puyuh.

Batu bata atau batako

Kelebihan :

  • Awet dan kokoh sehingga dapat dipakai bertahun-tahun.

Kelemahan :

  • Biaya investasi tinggi.
  • Tidak cocok di dataran tinggi karena menyerap udara dingin masuk dalam ruangan, sehingga semua lubang di dinding harus ditutup rapat. Akibatnya sumpek. Untuk mengatasi, harus dipasang jendela yang dapat dibuka-tutup.

Gedek

Kelebihan :

  • Lebih renggang sehingga sirkulasi udara lancar. Harga relatif rendah. Cocok dipakai di dataran tinggi karena menahan dingin.

Kelemahan:

  • Daya tahan lebih rendah.
  • Umur pakai singkat, hanya 2-3 tahun.

Dinding gedek, sebaiknya bagian bawah dibuat permanen dari batu bata.Tujuannya agar tidak mudah lapuk karena percikan hujan.

Jendela harus mempunyai pengaman agar binatang liar tidak bisa masuk ke dalam. Binatang liar, tidak hanya memangsa, tetapi dapat membuat puyuh stres sehingga mogok bertelur.

Selain itu, jendela harus dilengkapi tirai, bisa terbuat dari plastik atau kain. Fungsinya terutama menjaga agar suhu pada malam hari tidak terlalu dingin.

Model Atap

Fungsi utama atap adalah melindungi puyuh dari terpaan air hujan dan terik matahari. Namun demikian, atap harus tetap membuat nyaman bagi ternak. Karena itu bahan dan model atap harus dipertimbangkan.

Model atap kandang puyuh
Contoh model atap kandang puyuh.

Bahan

Pemilihan bahan penting dipertimbangkan karena mempengaruhi suhu di dalam kandang. Ada yang dapat mengantar panas masuk ke dalam sehingga suhu di dalam lebih tinggi daripada di luar.

Contohnya seng dan asbes. Pemakaian kedua bahan itu sebaiknya dihindari bila kandang dibangun di tempat terbuka tanpa penaung di atasnya, terutama di dataran rendah. Bila dibangun di bawah pohon dan di dataran tinggi, masih boleh dipertimbangkan.

Bahan yang tidak meneruskan panas di antaranya genteng, ijuk, atau daun aren. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Genteng tahan lama, ijuk sebaliknya. Kelemahan: genteng lebih mahal, ijuk lebih murah.

Model atap bisa menentukan kondisi lingkungan di dalam kandang menjadi panas atau sejuk. Ada 2 tipe atap yang sering diterapkan peternak, yakni tipe atap segitiga dan tipe atap piggy back.

Atap segitiga

Tipe atap segitiga, mirip dengan rumah biasa. Puncak atap tertutup rapat sehingga sirkulasi udara hanya bisa lewat jendela atau pintu. Pada daerah dingin tipe ini cocok diterapkan.

  • Kelebihan: biaya pembuatan lebih murah.
  • Kelemahan: pada daerah rendah, suhu dalam kandang lebih panas. Ini membuat puyuh tidak nyaman, akibatnya ia malas makan sehingga pertumbuhan lambat. Agar bisa diterapkan, perlu jendela.

Atap piggy back

Bangunan ini dicirikan oleh bentuk atap bertingkat dua. Bagian atas lebih kecil daripada bagian bawah.

Di bawah atap kecil terdapat celah yang membuat sirkulasi udara keluar atau ke dalam |ancar.Tipe atap ini cocok diterapkan bila peternakan puyuh dilakukan di dataran rendah.

  • Kelebihan: suhu dalam ruangan lebih rendah karena sirkulasi udara dalam kandang berjalan lancar.
  • Kelemahan: harga pembuatan lebih tinggi karena bahan konstruksi lebih banyak.

Apa pun bahan atap, sebaiknya disisakan untuk dipasangi plastik.Tujuannya agar sinar matahari tetap dapat masuk ke dalam. Bila dibiarkan gelap, warna kulit puyuh pucat, seperti tidak sehat.

Selain itu cahaya dapat membuat ruangan lebih hangat sehingga hama penyakit tidak bersarang di kandang.

Di dataran rendah, suhu relatif tinggi sehingga puyuh kepanasan. Untuk mengatasi, maka jarak atap ke rak atau kandang harus tinggi, berkisar 2,5-4 m.

Semakin tinggi jarak rak ke atap semakin baik karena sirkulasi udara lancar sehingga dapat menurunkan suhu.

Lantai

Lantai kandang puyuh bisa tanah atau semen. Yang penting tidak membuat lingkungan terlalu lembap. Bila menggunakan lantai semen, lebih rapi dan bersih, meski biaya lebih mahal.

Lantai tanah riskan becek saat musim hujan, terlebih bila lantai lebih rendah dari sekitarnya. Usahakan lantai dibuat miring sehingga saat mencuci lantai, air segera mengalir ke saluran air yang dibuat di tengah lajur kandang.

Lampu

Di dalam kandang dilengkapi lampu. Bila terlalu gelap, puyuh mudah stres sehingga berhenti bertelur. Selain itu, adanya lampu membuat puyuh terus beraktivitas, termasuk makan dan minum.

Selain itu disiapkan beberapa saklar atau colokan listrik untuk pemanas di rak starter dan grower. Burung puyuh menyukai cahaya terang baik siang maupun malam. Bila listrik padam, harus segera menyalakan lampu darurat.

Rak

Rak merupakan kandang kecil di dalam kandang yang disusun bertingkat. Rak ini populer dengan sebutan kandang baterai.Tujuannya agar ruang kandang dapat memuat sebanyak mungkin puyuh.

Ruangan berukuran 5 m x 3 m x 3 m dapat diisi 1.000 ekor. Selain itu, dengan dipelihara dalam ruang kecil, kontrol lebih mudah dilakukan per individu. Begitu ada yang terlihat sakit segera dikeluarkan untuk di karantina dalam ruang khusus.

Cara lain memelihara puyuh adalah sistem litter, yakni memelihara langsung di lantai. Sebenarnya populasi juga padat, hanya saja tidak bertingkat sehingga jumlah yang dipelihara lebih sedikit.

Kandang baterai

Kandang baterai ini sebenarnya diperuntukkan untuk puyuh petelur. Namun belakangan juga dimanfaatkan untuk pembesaran anakan, bahkan kini untuk puyuh pedaging. Rak dibuat bersekat-sekat agar lebih mudah dikontrol.

Ada berbagai ukuran dan model rak puyuh yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan: starter, grower, dan layer.

Kandang starter

Kandang ini diperuntukkan puyuh DOQ (day of quail), mulai dari umur sehari hingga 15 hari. Kandang ini dibuat lebih tertutup agar piyik yang belum mempunyai bulu tidak kedinginan pada malam hari.

Ukuran rak: 100 cm x 60 cm x 40 cm. Ukuran itu dapat menampung 90-100 ekor piyik.

Di dalamnya, dipasang bohlam 2-4 buah sebagai penghangat. Juga ada tempat makan dan minum. Bila piyik kedinginan, ia akan berkumpul mendekat ke lampu dan berhimpit-himpitan. Pada kondisi parah, anak puyuh bisa mati karena tumpang tindih.

Untuk mengatasi, maka jendela rak ditutup kertas koran atau plastik, atau menambah watt listrik. Kondisi temperatur ideal diketahui bila setiap puyuh melakukan aktivitas secara tersebar. Biasanya berkisar 32-34°C.

Kandang grower

Kandang ini diperuntukkan puyuh dara mulai dari umur 16-36 hari. Bentuknya berbeda dengan kandang starter. Pada umur itu, bulu anakan sudah tumbuh menyelimuti tubuh sehingga lebih kuat terhadap udara dingin.

Karena itu kandangnya lebih terbuka, terutama kedua sisi samping dan depan. Kedua bagian itu ditutup dengan kawat ram. Sedangkan bagian belakang ditutup rapat menggunakan tripleks atau plastik.

Karena tubuh puyuh masih kecil, tinggi atau jarak antar tingkatan rendah berkisar 25-30 cm. Lantai dari kawat ram ukuran 1 cm yang dipasang datar. Dengan demikian kotoran puyuh langsung jatuh ke penampungan.

Tempat makan dan minum diletakkan di luar dinding. Ketika makan dan minum, kepala puyuh ke luar lewat celah untuk menjangkau wadah. Di bawahnya, ada wadah penampung kotoran dari tripleks yang dapat ditarik-masukkan.

Dapat juga menggunakan plastik talang air. Bahan ini lebih murah dan praktis karena mudah dilengkungkan.

Rak layer

Rak untuk puyuh layer hampir sama dengan rak grower. Perbedaannya dalam hal ukuran dan adanya penampungan telur di bagian belakang rak. Jarak antar tingkat lebih tinggi, berkisar 30-40 cm.

Lantai pijakan puyuh dibuat miring 3-5 derajat agar telur menggelinding ke luar. Dengan demikian pintu kandang tidak perlu dibuka untuk panen, sehingga puyuh tidak terganggu.

Di balik kelebihan rak atau kandang baterai, ada pula beberapa kekurangannya, yakni:

  • Kelembapan cukup tinggi di bagian bawah karena dekat dari lantai sehingga puyuh rawan terserang penyakit.
  • Bagian bawah juga gelap sehingga sulit mengontrol secara cermat.

Untuk mengatasi, dipasang listrik agar ruangan terang siang maupun malam.

Pembuatan Rak

Tinggi kandang berkisar 180-200 cm, terdiri dari 4-5 tingkat. Masing-masing tingkat setinggi 30-50 cm tergantung fase umur. Panjang masing-masing tingkat 80-100 cm dan lebar 50-60 cm.

Dinding rak berupa kawat ram. Dua sisi samping menggunakan ram berukuran 2 cm, sedangkan bagian depan kawat ram berukuran 3-4 cm.

Ram bagian depan menggunakan ram Iebar sehingga kepala puyuh bisa keluar saat mengambil makanan di tempat makan. Bagian belakang ditutup dengan tripleks, tetapi sisakan 5 cm celah sebagai tempat keluarnya telur dari rak.

Dasar atau lantai tempat berpijaknya puyuh dibuat miring 3-5° sehingga telur mudah menggelinding ke luar.

Sebagai penahan atau penampung telur agar tidak jatuh ke lantai, dibuat striming, atau dasar lantai dilebihkan 15 cm dan ujungnya dilengkungkan ke atas 5 cm.

Rak-rak itu harus disusun rapi sehingga ruangan kandang bisa diisi sebanyak mungkin puyuh.

Perlengkapan Rak

Selain kandang dan rak yang membuat lingkungan menyenangkan, puyuh pun dibuat betah dengan melengkapi kandang dengan sejumlah perlengkapan, yakni: tempat makan, minum, dan pemanas.

Tempat makan

Tempat makan mutlak disediakan. Untuk piyik wadah makan berupa piringan atau bahkan langsung di tempat pijakan.

Agar puyuh tidak menghambur-hamburkan pakan, maka di atas pakan dipasangi kawat ram 1 cm sehingga piyik tidak dapat mengais-ngais makanan.

Untuk fase dara hingga dewasa, tempat pakannya diletakkan di bagian depan di luar kandang. Bahannya bisa dari kotak kayu, talang air atau potongan pipa PVC 5 inci yang panjangnya disesuaikan dengan ukuran kandang dan sudah dibelah.

Agar puyuh mudah mencapai pakan, bagian depan kandang ditutup ram ukuran 3-4 cm.

Sarana minum

Karena pakan berupa tepung, puyuh akan selalu merasa haus setelah makan. Untuk itu, air minum mutlak disediakan. Tempat air minum dapat berupa tabung plastik atau menggunakan jaringan irigasi tetes.

Saat masih piyik, tabung air diletakkan di dalam kandang. Setelah berumur dara-hingga dewasa, tempat minum diletakkan atau digantung di luar rak.

Jaringan irigasi tetes

Pemberian air secara tetes mirip dengan irigasi pada sistem hidroponik. Yaitu disediakan tangki penampung air minum berukuran 500-1.000 liter. Dari tangki itu, air dialirkan ke penampung sementara di atas rak menggunakan pipa PVC.

Di bak sementara itu, air di alirkan ke rak-rak dengan pipa pvc ke semua rak yang sebarisan. Agar aliran air tidak tergantung dari listrik, maka tangki air diletakkan di tempat tinggi sehingga air mengalir secara alami memanfaatkan efek gravitasi.

Pada pipa PVC yang masuk ke’kamar’ puyuh dipasangi 3 buah nipple yaitu alat untuk keluarnya air. Air akan keluar menetes bila ujung nipple dipatuk.

Pada awal aplikasi, puyuh harus diajarkan cara mengeluarkan air. Caranya menekan ujung nipple dengan lidi hingga air keluar.

Puyuh yang melihat air keluar tergoda untuk meminum air dan mematuk ujung nipple. Tingkahnya itu akan diikuti oleh puyuh-puyuh lain.

Agar air tidak berceceran, di bawah pipa PVC dipasang pipa PVC yang berukuran lebih besar dan dibelah untuk menampung sisa air yang tidak diminum.

Sistem litter

Sistem ini serupa dengan kandang postal pada budidaya ayam kampung pedaging. Kandang litter atau postal memanfaatkan langsung semua area kandang untuk memelihara puyuh.

Namun, bila ruangan terlalu luas dilakukan penyekatan sehingga ruangan menjadi lebih kecil.

Luas ruangan biasanya disesuaikan dengan umur puyuh. Bila puyuh sudah besar sehingga ruangan terlihat sempit, maka sekat segera diperluas. Sistem ini umumnya dipakai untuk pembesaran dan pengembangbiakan ternak.

Dengan menyatukan puyuh jantan dan betina di ruang yang lega, pasangan puyuh leluasa kawin. Kandang ini dialasi jerami yang bisa dimanfaatkan untuk membuat sarang dan bertelur.

Di balik kelebihan itu, sistem ini juga punya kelemahan, yakni debu sekam dan jerami berpotensi membuat puyuh mengalami pilek. Selain itu, telurnya bisa tertimbun sekam sehingga bisa terinjak kaki peternak.

Makanan dan air minum hampir selalu tercampur sekam yang dikais kaki puyuh. Akibatnya, puyuh gampang terserang penyakit karena minum air dan pakan selalu kotor.

Teknik ini sebenarnya lebih banyak diterapkan peternak di mancanegara. Peternak di Indonesia jarang menerapkannya.

Alasannya, pemanfaatan kandang kurang maksimal. Peternak tanah air lebih senang menggunakan kandang atau rak bertingkat. Dengan luasan 10 m², bisa dipelihara ratusan burung puyuh.

Bibit Puyuh

Bibit Puyuh

Persiapan lain yang harus dilakukan ialah memesan bibit. Pemesanan bibit dilakukan 1-3 bulan sebelum kandang rampung.

Sebab, bibit biasanya tidak tersedia setiap saat karena peminat cukup banyak. Sedangkan pengusaha penyedia bibit berkualitas ‘ terbatas jumlahnya. Pada saat memesan bibit, tujuan atau usaha yang akan digeluti disebutkan.

Ada 3 segmen usaha yang bisa digeluti, yaitu:

  • Puyuh petelur
  • Puyuh pedaging
  • Puyuh pembibitan

1. Puyuh petelur

Puyuh petelur

Umumnya, segmen usaha ini yang pertama kali digeluti oleh calon peternak puyuh. Pada segmen ini pula peternak belajar soal pemeliharaan sehingga puyuh tumbuh sehat dan menghasilkan telur.

Untuk produksi telur konsumsi, bibit yang tersedia biasanya dari jenis Coturnix japonica. Puyuh ini bertubuh kecil, tetapi produktivitas tinggi. Pada umur 36 hari mulai belajar bertelur hingga 1 tahun umur produktif.

Tubuhnya kecil berbobot 80-150 g/ekor, tetapi dapat menghasilkan telur hingga 80%. Hampir semua puyuh yang dipelihara di Indonesia yang notabene adalah puyuh petelur, alias Cotumix japonica.

2. Puyuh pedaging

Puyuh pedaging

Saat ini puyuh pedaging diperoleh dari puyuh peteIur yang telah menurun produktivitasnya alias apkir. Daging puyuh biasanya juga memanfaatkan puyuh jantan yang telah dipisahkan dari puyuh betina saat masuk fase layer.

Sebenarnya ada jenis puyuh yang cocok untuk produksi daging karena pertumbuhannya cepat dan bobotnya lebih besar, mencapai 180-200 g.

Jenis ini biasanya dari jenis Coturnix coturnix alias puyuh eropa. Puyuh sejenis pernah beredar di Indonesia dan disebut puyuh Perancis.

3. Puyuh pembibit

Untuk segmen ini, sebaiknya sudah dipilih puyuh dara atau bahkan yang sudah produksi. Dengan demikian kualitasnya dapat diketahui.

Demikian pula pejantan dapat diketahui kemampuan membuahi dan potensi keturunan. Bila memilih jenis ini, biasanya harganya jauh lebih tinggi.

Semua persiapan kandang harus sudah rampung 2-3 hari sebelum kedatangan bibit. Rak sudah disusun rapi berjajar.

Untuk luas kandang 7 x 15 m, bisa dibuat 4 baris dengan 12 rak berjajar. Bila 1 rak terdiri dari 5 tingkat dan satu kamar diisi 40 ekor, maka 1 rak berisi 200 ekor.

Bila ada 4 baris, berarti jumlah puyuh sebanyak 9.600 ekor. Tambahkan jumlah pemesanan 2% sebagai pengganti puyuh yang mati.

Cara Puyuh Cepat Besar dan Sehat

Sebelum kedatangan bibit puyuh dasar rak terlebih dahulu diberi alas 2-3 lembar kertas koran. Kertas mudah menyerap kotoran atau cairan dan mudah diangkat untuk diganti dengan yang baru.

Dengan demikian bau menyengat dari kotoran bisa dikurangi. Namun, beberapa peternak tidak memberi alas dan tempat pakan. Mereka tebar langsung di lantai kamar.

Bila menggunakan tatakan makanan, sebaiknya di atasnya diletakkan selembar kawat ram. Dengan demikian puyuh tidak leluasa mengais-ngais sehingga pakan tidak bertebaran dan bercampur kotoran.

Pakan yang terkontaminasi bisa membuat kesehatan puyuh terganggu.

Tempat air minum ukuran kecil juga dimasukkan dalam rak. Air minum bisa berupa vitamin atau anti stres. Agar si mungil tidak berendam di dalamnya, masukkan batu-batuan atau kelereng steril.

Masing-masing kamar dipasangi 2-4 buah bohlam 40-60 watt. Besar watt tergantung luas ruangannya. Namun, suhu ruangan berkisar 34°-36°C.

Kebutuhan pemanas berlangsung sampai sekitar 5-1 0 hari, tergantung kondisi bibit dan cuaca. Bila cuaca tetap hangat dan bulu cepat terbentuk, pemakaian listrik dapat dipersingkat waktunya.

Saat bibit datang

Saat DOQ (day of quail) datang, segera masukkan dalam rak starter yang telah dinyalakan lampunya. Setiap rak diisi 90-100 ekor puyuh.Tempat pakan sudah siap dengan pakan khusus starter yang sangat lembut.

Sebenarnya, pada 3 hari pertama pasca keluar dari telur, piyik masih mendapat cadangan makanan yang dibawa dari telur.

Namun, tidak ada salahnya disiapkan pakan untuk mendorong puyuh beraktivitas, sekaligus mengantisipasi bila piyik yang datang telah berumur lebih dari 2 hari.

Tempat minum diisi dengan air gula atau vitamin anti stres dengan dosis 1 ml per liter air. Jendela kasa di dinding ditutup kertas koran agar suhu di dalam tetap hangat.

Keesokan harinya diberi antibiotik untuk mengantisipasi bakteri yang dapat menyebarkan penyakit atau infeksi.

Cara Pelihara dan Merawat Puyuh

Sejak tiba hingga hari ke-5 merupakan masa paling kritis. Ibarat bayi baru lahir, kondisi fisiknya masih sangat ringkih. Ia belum bisa beradaptasi dengan suhu lingkungan.

Kondisinya yang lemah juga masih rentan serangan penyakit. Karena itu, jendela kamar harus ditutup dengan kertas koran atau plastik.

Untuk mengetahui kondisi dalam kamar sesuai dengan keinginannya, bisa dilihat dari perilaku piyik. Bila mereka berkumpul di dekat lampu, artinya mereka kedinginan.

Untuk mengatasi, tambah watt dari bohlam yang dipasang. Sebaliknya, bila mereka menjauh dari dinding, berarti mereka kepanasan. Kurangi watt dari bohlam.

Pemeliharaan selanjutnya adalah menyediakan makanan dan minuman tepat waktu, pemberian vaksin, dan yang utama membersihkan kandang setiap hari.

Pakan

Karena tubuh piyik puyuh relatif kecil, kebutuhan pakan tidak terlalu banyak. Pada hari pertama, pakan yang diberikan hanya 1-3 g per ekor per hari selama seminggu.

Bila dipelihara 100 ekor per kamar, berarti di kamar itu diberikan 100-300 g. Bila 1.000 ekor, berarti pakan yang harus disiapkan cukup 1-3 kg per hari.

Pemberian pakan pada pagi dan sore hari. Pakan diletakkan langsung di dasar kamar yang telah dilapisi kertas koran 2-3 lapis atau tatakan.

Pakan khusus starter ini mempunyai kandungan protein 21%, yang dirancang untuk merangsang pertumbuhan tulang dan kerangka lebih cepat. Contohnya BR I dan BR II.

Teksturnya halus sehingga piyik puyuh dapat mematuk dan menelan dengan mudah. Berikut pakan yang bisa diberikan pada piyik yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan.

  • Pakan starter diberikan saat puyuh berumur 3-21 hari.
  • Pakan grower diberikan pada puyuh 21-41 hari.
  • Pakan layer diberikan setelah puyuh berumur 41 hari yang kandungan proteinnya 20%.

Pakan mutlak tersedia setiap saat untuk menghindarkan sifat kanibal puyuh. Seperti juga ayam kampung, puyuh cenderung mematuk temannya sehingga terluka atau bulu rontok.

Karena itu adanya pakan membuat mereka punya kesibukan sehingga lupa mematuk teman. Karena itu jangan biarkan puyuh sering lapar karena dapat mempengaruhi produksi telur akibat sering dipatuk.

Ketersediaan pakan berkualitas mutlak disiapkan agar puyuh tumbuh baik dan bertelur secara rutin. Karena itu ketergantungan pada pakan pabrikan cukup besar.

Sayangnya, harga pakan terus meningkat, sedangkan hargajual telur dan daging relatif stabil rendah. Untuk mengatasi dapat menggunakan pakan alternatif.

Namun, penggunaan pakan alternatif harus mencermati harga bahan baku. Saat ini harga jagung salah satu bahan baku-relatif tinggi, melebihi harga pakan sehingga belum perlu diberikan pakan alternatif.

Pemberian pakan juga harus memperhatikan komposisi nutrisi seperti protein, energi, vitamin, dan mineral. Protein berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan jaringan tubuh seperti kulit, daging, otot, dan sebagian tulang.

Bahan pakan yang lazim digunakan ialah konsentrat, dedak, dan jagung. Yang terpenting dalam menyusun formula adalah selalu memperhatikan kebutuhan nutrisi puyuh yaitu protein kasar (PK) sebesar 19-21% dan energi metabolis (EM) sebesar 2.900 kkal per kg.

Itu terkait dengan jenis, jumlah, dan komposisi umur puyuh.

Takaran pakan

Idealnya pakan puyuh dewasa atau sedang bertelur terdiri dari campuran pakan pabrik, jagung halus, dan dedak berkadar protein 20%.

Untuk memperoleh pakan berkadar protein 20% sebanyak 100 g, campurkan jagung 36,6 kg, sorgum 6,7 kg, bekatul 24,25 kg, tepung gaplek 2,25 kg, tepung daun pepaya 4,55 kg, bungkil kedelai 9,15 kg, tepung daging bekicot 11,9 kg, dan tepung daun ubi kayu 4,6 kg.

Seringkali peternak memberikan pakan berkadar protein lebih besar mencapai di atas 24%. Padahal, protein tinggi diperlukan puyuh sampai umur 5 minggu. Setelah itu diganti pakan dengan kandungan protein lebih rendah.

Protein tinggi itu dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Kelebihan protein menjadi mubazir karena puyuh tidak memanfaatkannya untuk pembentukan daging. Puyuh dewasa menghabiskan pakan 20-22 g/ekor/hari.

Pemberian pakan

Pemberian pakan untuk piyik dilakukan 2 kali sehari. Berarti jatah pakan 1 hari dibagi 2. Satu bagian diberikan saat pagi dan sisanya pada sore hari.

Bila puyuh sudah beranjak remaja atau dewasa, pemberian pakan cukup sekali saja, yaitu pada pagi hari.

Air minum

Pemberian air minum tidak sekadar mengurangi haus. Air minum dapat dimanfaatkan pula untuk mengurangi polusi yang ditimbulkan oleh kotoran puyuh. Bau menyengat itu diakibatkan oleh tingginya kadar protein yang diberikan mencapai 22-27%.

Ada 3 macam air minum yang diberikan ke puyuh, yakni air minum bercampur mikrobakteri, jamu, dan vaksin.

Mikrobakteri

Air minum berisi mikrobakteri paling berperan dalam menghilangkan bau menyengat. Adanya mikrobakteri itu membuat aroma kotoran puyuh hilang atau berkurang sehingga tidak mengganggu lingkungan.

Contoh mikrobakteri adalah EM4 dan Agrobost. Air yang kaya organisme ini diberikan setiap hari.

Jamu

Pemberian jamu sama khasiatnya pada manusia. Sebab, bahan yang digunakan memang mirip dengan bahanjamu, yaitu menghangatkan tubuh. Ada jahe, kencur, bawang putih, laos, dan daun sirih.

Puyuh pun perlu jamu penghangat tubuh, terutama bila dipelihara di daerah dingin. Jamu yang difermentasikan juga membuat kotoran tidak berbau.

Berikut cara pembuatan jamu fermentasi:

Bahan jamu

  • Bawang putih ½ kg
  • Kunyit ½ kg
  • Daun sirih 30-50 lembar
  • Kencur ½ kg
  • Laos ½ kg
  • Jahe ½ kg

Larutan mikrobiologi

  • Mikrobakteri 1 liter
  • Molase 1 liter atau
  • 1½ kg gula
  • Air.

Semua bahan jamu diblender atau dihaluskan. Sedangkan larutan mikrobakteri dan molase dicampurkan dalam satu wadah.

Lebih baik lagi bila pencampuran dilakukan 1 minggu sebelumnya agar bakteri yang akan mempercepat fermentasi sudah berkembang biak.

Tahapan buat jamu:

  1. Siapkan bahan jamu berupa: Bawang putih ½ kg, kunyit ½ kg, daun sirih 30-50 lembar, kencur ½ kg, laos ½ kg, dan jahe ½ kg.
  2. Iris dan hancurkan bahan bahan di alas.
  3. Siapkan Iarutan mikrobakteri sebanyak 1 liter, masukkan dalam 2 liter air.
  4. Siapkan molase sebanyak 1 liter. Campurkan dengan larutan bakteri.
  5. Masukkan bahan jamu yang sudah hancur dalam jerigen.
  6. Masukkan larutan mikrobakteri dalam drum.
  7. Tutup jerigen dengan rapat.

Setelah seminggu, larutan disaring sehingga terpisah ampas dengan larutan jamu fermentasi. Larutan itulah yang dimanfaatkan sebagai jamu.

Untuk aplikasi jamu tersebut: ambil 10 cc jamu. Masukkan dalam 10 liter air di ember. Larutan jamu itu dicampurkan ke air minum puyuh. Berikan 2 kali seminggu.

Bila jamu diberikan pada pagi hari maka larutan mikrobakteri diberikan pada sore hari. Jadi pemberian keduanya tidak bersamaan.

Pemakaian bakteri berfungsi:

  • Mencegah bau tidak sedap dari kotoran Menekan perkembangan lalat dan serangga Memperbaiki kesehatan ternak
  • Mengurangi stres
  • Mengurangi telur apkir
  • Mengurangi jumlah kematian puyuh
  • Bulu yang suka berdiri jadi normal
  • Kerabang telur menjadi kuat, tidak mudah pecah.

Cara pemberian:

Pemberian air bisa dengan menggunakan wadah tabung plastik pabrikan. Sebelum diberikan, wadah harus dicuci bersih, kalau tempat minum terlalu kotor, puyu enggan minum yang mengakibatkan produksi menurun.

Masukkan sesuai takaran. Untuk anakan, jangan lupa masukkan batu-batuan atau kelereng. Untuk puyuh dewasa, tabung air minum digantung atau diletakkan di luar kandang, dan menempel di dinding.

Masalahnya, pemberian air minum dengan cara ini menghabiskan banyak waktu karena banyaknya tabung air yang harus disiapkan.

Bila modal besar, bisa menggunakan jaringan irigasi tetes. Air ditampung di torn besar 500 liter. Air kemudian dialirkan ke beberapa wadah sementara yang berada diatas masing-masing rak. Dari situlah dialirkan ke setiap rak di masing-masing kamar.

Agar puyuh tidak berebut minum, di pipa PVC dipasang 2-3 nipple per kamar. Dari ujung nipple itulah puyuh menjilat air minum yang sudah dicampur vitamin, air gula, atau jamu.

Untuk mengalirkan air, di setiap penampungan sementara dipasang kran air sehingga debit air dan waktu pemberian air minum terkontrol.

Keuntungan dari sistem irigasi ini ialah pemberian air relatif cepat karena hanya dengan memutar 1 kran, air sudah keluar pada 1 lajur pipa. Bandingkan dengan sistem tabung peternak, harus menyiapkan 240 tabung air.

Tentunya itu membutuhkan waktu yang banyak karena ke 240 wadah harus dicuci agar tetap bersih sebelum diisi larutan air fermentasi atau air jamu.

Vitamin

Pada masa pancaroba, hawa terasa kurang nyaman. Burung-burung puyuh pun merasakan hal yang sama. Karena lingkungan tidak nyaman, terkadang bertelur pun ia malas sehingga produksinya menurun.

Untuk mengatasi, berikan vitamin anti stres. Pemberian vitamin anti stres dan vitamin C dilakukan tiga hari berturut-turut.

Selain itu berikan larutan pendongkrak energi pada sore harinya dengan melarutkan gula pasir di air minumnya. Dosis gula pasir yaitu 1 sendok makan untuk 10 liter air.

Jaga kebersihan

Kebersihan kandang merupakan langkah awal mencegah penyakit. Karena itu kegiatan ini dilakukan setiap pagi sebelum pemberian pakan. Bila tidak, aroma yang menusuk hidung akan tercium setiap saat.

Pembersihan dimulai dengan mengangkat papan penampung kotoran dari setiap rak. Kotoran itu kemudian diangkut ke tempat penampungan kotoran untuk difermentasi.

Lantai kandang kemudian disiram air hingga basah dan seluruh kotoran atau pakan yang terbuang disapu bersih. Dengan menjaga kebersihan kandang, penyakit diminimalisir, lalat sedikit, dan bau pun hilang.

Vaksinasi dan obat

Pada umur 4-7 hari puyuh divaksinasi ND Lasota atau NDIB (Newcastle Disease, Infectious Bronchitis). Pada awalnya diberi vaksin dengan dosis separuh dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan dengan meneteskan langsung ke mulut atau lewat air minum (peroral).

Penetesan lewat mulut lebih efektif karena dapat dipastikan semua puyuh mendapat vaksin. Konsekuensinya, lebih repot karena banyaknya yang harus ditetesi.

Sedangkan pemberian lewat air minum lebih praktis. Namun, kemungkinan di antaranya ada yang tidak minum sehingga lolos dari vaksinasi.

Pemberian vaksin berikutnya dilakukan pada hari ke-16-20, atau saat puyuh pindah kandang. Saat itulah dilakukan vaksinasi flu burung.

Pengontrolan penyakit

Pemberian obat dilakukan hanya bila puyuh terlihat ada gejala sakit. Misalnya ia hanya berdiam saat kamarnya didatangi. Penampilanannya pun lesu. Muka pucat dan lemah.

Pindah kandang

Di kandang starter yang semula dihuni 90-100 ekor, kian padat seiring pertumbuhan puyuh. Saat itu, suhu dalam kamar makin panas.

Oleh karena itu, kertas atau plastik penutup jendela dibuka. Dua buah bohlam lampu yang menyala dipadamkan 1 buah.

Pada hari ke-15, anak puyuh dipindahkan ke rak grower. Untuk ukuran sama, kandang hanya diisi 60-70 ekor, atau tergantung luas kandang yang tersedia.

Setelah berumur 36-40 hari, puyuh yang kian besar, kembali dipindahkan ke rak layer. Populasinya diperkecil kembali. Yang tadinya 60-70 ekor dikurangi menjadi 40 ekor/m² di daerah dingin.

Di daerah panas atau dataran rendah, kamar dengan luas sama hanya diisi 30-35 ekor. Mereka akan menetap di kandang itu hingga masa produktifnya berakhir. Pada dasarnya ada satuan untuk mengukur populasi puyuh, yaitu:

KK = L x 1 ekor/200 =

Andaikan luas ‘kamar’ = 100 cm x 60 cm = 6.000 cm²

Jumlah KK = 6.000 x 1 ekor / 200 = 30 ekor

Keterangan:

    • KK = Populasi
    • L = Luas kamar (cm²)

Namun, beberapa peternak menganggap populasi itu (30 ekor) masih longgar sehingga masih ditambah beberapa ekor lagi menjadi 35-40 ekor.Terutama bila ruang ke atas lebih tinggi.

Pada pemindahan terakhir ini, puyuh jantan dan betina bisa dipisahkan berdasar tujuan. Bila hanya ditujukan sebagai petelur, maka dalam satu kamar hanya dipelihara puyuh betina.

Seperti unggas lain, puyuh pun dapat bertelur tanpa mengalami pembuahan dari pihak jantan. Sedangkan jantan dipelihara di kamar lain untuk tujuan pedaging.

Bila tujuan pemeliharaan untuk menghasilkan anakan, maka betina dan jantan digabungkan dengan perbandingan 1 jantan dan 3-5 betina dalam 1 kamar.

Untuk mengetahui jantan dan betina yaitu dengan melihat warna bulu. Warna puyuh jantan cenderung lebih seronok dan berwarna lebih cokelat keemasan daripada betina, terutama di bagian leher. Ukuran tubuh jantan cenderung lebih kecil daripada betina.

Namun, saat dewasa kelamin atau menjelang birahi perbedaannya amat mudah dilihat. Pada jantan, kloaka antara ekor dan lubang dubur-terlihat membengkak, mirip benjolan. Bila pangkalnya diraba-raba dan dielus-elus, dari lubang dubur akan keluar pasta putih. Itu bukan sperma, melainkah zat hasil pembuangan ginjal.

Puyuh betina, mempunyai lubang dubur melebar sehingga bisa dilewati telur. Puyuh yang sejodoh akan saling berdekatan dan terjadi perkawinan, yang kemudian terjadi kopulasi.

Perangsang Telur

Menjelang dewasa, puyuh mulai dirangsang untuk bertelur. Untuk itu diberikan obat perangsang telur, egg stimuland. Berikan saat puyuh berumur 40 hari, sekali seminggu, sebanyak 10 cc per 10 liter air.

Selain merangsang produksi telur, obat itu juga memperbaiki kondisi telur agar kerabang cukup tebal. Hal ini bagus bagi telur yang akan dipasarkan jauh.

Bila jumlah telur berukuran lebih besar daripada ukuran normal cukup banyak, maka pemakaian hormon harus segera dihentikan. Pemberian obat perangsang itu dihindari bila telur akan ditetaskan agar tidak sulit menetas.

Rontok Bulu

Pada saat dewasa, setiap puyuh akan mengalami proses rontok bulu. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya kadar asam amino (protein) yang cukup tinggi.

Pada proses itu, kondisi puyuh menurun sehingga produksi telur menurun. Lama proses rontok bulu bervariasi antara 2-4 minggu. Setelah melewati proses itu, bulu baru akan tumbuh kembali.

Untuk mengatasi, maka kadar protein diturunkan dengan mempuasakan puyuh selama beberapa hari. Hal ini sekaligus juga menghemat pakan.

Hal lain ialah menurunkan intensitas cahaya atau temaram. Setelah masa itu lewat, berikan pakan seperti biasa sehingga bulu kembali tumbuh dan puyuh bertelur lagi. Bila puyuh tidak bertelur berkelanjutan, silakan mengapkirnya.

‘Perang Saudara’

Kerontokan bulu juga terjadi akibat dipatuk oleh sesama puyuh. Sebagaimana unggas lain, puyuh juga mempunyai sifat kanibal.

Kejadian ini mirip dengan perebutan kekuasaan di ayam kampung atau unggas lain. Mereka memperebutkan pakan, air minum, atau bahkan pasangan puyuh betina.

Tidak jarang seekor puyuh yang jadi pecundang gundul dari kepala, punggung, hingga ekor karena bulunya habis dipatuk, bahkan hingga berdarah.

Kondisi ini berbahaya karena adanya darah membuat puyuh lain tertarik untuk ikut mematuk yang mengakibatkan luka semakin parah. Hal ini dapat berakibat pada kematian puyuh.

Untuk mengatasi, berikan pakan atau air minum yang cukup dan tempat yang tidak berdesak-desakan. Bisa pula memberikan kesibukan pada puyuh sehingga tidak sempat berkelahi.

Contohnya dengan menggantungkan bonggol atau potongan batang pisang, daun nangka, daun papaya, singkong, dan ubi jalar. Selain itu, untuk mengurangi efek melukai, maka saat piyik, ujung paruh dipotong 1-2 mm sehingga paruhnya tidak tajam lagi.

Penyakit pada Puyuh

Penyakit yang menyerang puyuh hampir sama dengan penyakit ayam. Faktor iklim yang tidak cocok dan lingkungan yang tidak bersih bagi puyuh menjadi penyebabnya.

Ada beberapa penyakit yang menyerang puyuh yang disebabkan mikroba berupa virus, bakteri, parasit, dan cendawan. Makhluk super kecil ini menyebabkan infeksi pada induk semang yang bisa berupa manusia atau hewan.

Snot

  • Gejala: Dari hidung keluar ingus yang terus-menerus, dan ngorok. Kelopak matanya mengalami infeksi sehingga membengkak dan menutupi kelopak mata. Pembengkakan hingga sebesar kelereng.
  • Penyebab: Bakteri Haemophillus paragillarum. Penyakit ini muncul mendadak dan menyebar dengan cepat. Tidak jarang terjadi karena debu dari pakan yang masuk mata, atau tergesek pada kawat ram saat akan makan.
  • Pencegahan: Jaga kebersihan kandang.
  • Pengobatan: Letakkan di kandang isolasi yang mempunyai penghangat. Berikan antibiotik erythromycin, streptomycin, dan tylosin melalui pakan atau air minum. Bila puyuh dapat bertahan dalam 3 hari, maka kemungkinan puyuh selamat.

Newcastle Disease (ND) atau tetelo

  • Gejala: Puyuh mati mendadak karena terjadi pendarahan pada pembuluh darah kapiler hingga pecah. Biasanya terlihat sebagai bintik merah atau berbentuk garis. Bila kejadian itu terjadi di otak mengakibatkan leher berputar, sulit bernapas, batuk-batuk, bersin, menimbulkan suara ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulai, dan feses encer berwarna kehijauan.
  • Penyebab: Virus golongan paramyxo.
  • Penularan: Melalui pakan, minuman, udara, serta peralatan kandang yang kurang bersih.
  • Pencegahan: Lakukan vaksinasi pada umur 4-7 hari. Jaga kebersihan lingkungan dan peralatan makan dan minum sehingga tidak tercemar virus. Ayam yang mati segera dibakar atau dibuang, tapi jangan dibuang di sungai. Pisahkan ayam yang sakit dan pelihara di kandang karantina.
  • Pengobatan: Sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Namun, untuk mencegah infeksi sekunder bakteri dapat diberikan Ampicilin, Colistin, dan Enrofloxasin. Untuk meningkatkan kondisi stamina berikan vitamin atau jamu-jamuan. Bila puyuh mampu bertahan selama 3 hari, maka ia akan selamat.

Avian Influenza (Al)

Penyakit ini lebih populer dengan sebutan flu burung yang disebabkan oleh virus H5N1.

  • Gejala: Di kulit ayam banyak bintik merah akibat pendarahan di pembuluh darah dan kaki. Berbeda dengan ND, AI terdiri dari virus H dan N sehingga jenis vaksin juga berbeda.
  • Pengobatan: Saat ini dianjurkan memakai vaksin H5N1. Jenis vaksin AI ini bersifat kill sehingga diberikan berkali-kali di subkutan (di bawah kulit bagian leher). Bukan di pembuluh darah karena bisa infeksi. Sebaiknya vaksin ditambahkan dengan adjuvant agar efek vaksin bertahan lebih lama dalam tubuh puyuh.

Koksidiosis (berak darah)

  • Gejala: Timbul koreng di kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, dan mulut. Bila dilepaskan akan berdarah.
  • Penyebab: Parasit protozoa, Eimeria sp.
  • Pencegahan: Menjaga kebersihan kandang dan peralatan yang digunakan, memisahkan puyuh yang terinfeksi lalu dipelihara di kandang karantina.
  • Penularan: Terjadi kontaminasi di kandang yang kurang bersih sehingga ookista yang terdapat feses puyuh penderita termakan oleh puyuh sehat sehingga tertular.
  • Pengobatan: Berikan Sulfaquinoxaline, Amprolium, dan Diclazuril pada minumannya.

Sebenarnya, masih banyak penyakit yang berpotensi menyerang puyuh, misal bronkhitis, cacar unggas (fowl pox), cacingan, dan aspergillosis.

Namun, bila rajin membersihkan kandang dan memberi vaksin serta menjaga lingkungan semua permasalahan di atas bisa diminimalkan.

Selain itu, luka fisik bisa terjadi akibat gesekan dengan kawat ram saat menjulurkan kepala untuk makan atau minum. Penyebabnya, misal karena terdorong oleh puyuh lain.

Saat puyuh masih kecil, ancaman terbesar adalah, terinjak injak oleh sesama puyuh. Hal itu terjadi karena berdesak desakan di dekat lampu akibat suhu dingin.

Lampu yang mati tiba tiba dan berlangsung lama tanpa penerangan cadangan juga bisa menyebabkan puyuh stres dan menumpuk.

Kemungkinan lain karena suara keras yang mengagetkan puyuh sehingga menumpuk di sudut kamar. Karena itu, hindarkan suara gaduh di sekitar kandang atau rak.

Saat Apkir

Jika segala usaha mempertahankan produksi telur sudah dilakukan dan ternyata tidak juga meningkat, bisa jadi itu penurunan yang alami yang terjadi karena umur puyuh sudah lanjut.

Itulah saat melakukan seleksi untuk mengapkir yang produktivitasnya menurun jauh. Hal ini perlu dilakukan untuk menekan biaya pakan.

Puyuh Mogok Bertelur

Ini resep Siswo Suharto, peternak puyuh di Kulonprogo, Yogyakarta. Peternak itu menambahkan kecambah hijau ke ransum setiap 3 hari sekali.

Sebelumnya, kecambah itu dicuci bersih, lalu dipotong kecil kecil. Volume 1% dari total pakan. Penambahan kecambah itu juga mampu meningkatkan daya tetas telur.

Garam Pulihkan Stres

Suhu tinggi atau kehadiran predator seperti tikus atau kucing di kandang membuat puyuh stres. Akibatnya unggas kecil itu mogok makan dan minum. Ia dehidrasi lalu mati.

Untuk mengatasi, peternak puyuh di Yogyakarta mencampurkan garam pada air minum. Setiap 10 liter air ditambahkan 3 sendok makan garam. Keesokan hari puyuh kembali lincah dan siap bertelur.

Source
Untung, Onny Dkk. 2011. Ternak Puyuh 35 m² = 3200 ekor. Jakarta: Redaksi Trubus

Akmal Bahtiar

Menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, aktif menulis berbagai topik populer, seperti sains, sastra, dan hiburan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close