Cara Menetaskan Telur Ikan Gurame

Bila sudah dipastikan bahwa sarang sudah berisi telur, maka sarang dapat dipanen untuk dipindahkan ke tempat penetasan telur.

Panen dilakukan dengan mengangkat sarang secara hati-hati ke dalam ember yang berisi air kolam. Penggunaan air kolam dimaksudkan agar kondisi air tidak berubah (sama) untuk mengurangi kematian telur.

Membedakan telur yang hidup dan telur mati dapat dilihat dari warnanya. Telur yang hidup berwarna kuning cerah bening atau transparan, sedangkan telur yang mati atau rusak berwarna kusam, kuning muda agak keputih-putihan.

Telur mengalami kematian karena tidak dibuahi. Telur tersebut dengan cepat diserang cendawan berwarna putih yang disebut Saprolegnia. Setelah terserang, telur mati akan membusuk dan akan mengganggu perkembangan telur yang hidup.

Telur ikan gurame

Sebelum telur ditetaskan, sebaiknya dihitung terlebih dahulu untuk dapat memperkirakan jumlah larva yang akan dihasilkan, sehingga dapat memperhitungkan kebutuhan pakan secara tepat.

Caranya, dengan menakar telur ikan dalam wadah tertentu, misalnya cangkir atau gelas, kemudian dihitung dan dikalikan dengan jumlah cangkir telur yang dihasilkan.

Penetasan telur ikan gurami dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu penetasan di kolam, dalam paso, bak-bak plastik, wadah terapung, dan dalam akuarium.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam menetaskan telur ikan gurami adalah:

  • Wadah penetasan ini telah dipersiapkan 1-2 hari sebelumnya dengan diisi air kolam dan air bersih.
  • Ketinggian air sekitar 20 cm, kemudian diberi larutan methylene blue sebanyak 1 cc/liter untuk mensucihamakan air dalam wadah penetasan.
  • Kepadatan telur 150-175 butir per liter.
  • Sebaiknya suhu dipertahankan pada kisaran 29-30°C untuk meningkatkan derajat penetasan telur.
  • Sehari sebelum telur dimasukkan, air dalam bak penetasan diaerasi terlebih dahulu agar cukup mengandung oksigen. Telur akan menetas dalam waktu 30-36 jam. Tingkat penetasan telur dalam wadah terkontrol seperti akuarium dapat mencapai 90%.

Setelah telur menetas, maka akan terbentuk larva yang masih mempunyai kantong kuning telur. Kuning telur akan habis dalam kurun waktu 10-12 hari kemudian dan pada saat itu larva mulai membutuhkan pakan yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan.

Fitoplankton dan zooplankton merupakan pakan alami larva gurame yang dapat diperoleh dengan cara memupuk kolam dengan pupuk kandang, misalnya kotoran ayam pedaging.

Pakan selanjutnya yang diberikan pada larva gurame adalah cacing sutera. Dapat pula diberikan pakan berupa pelet yang dihaluskan, agar ukurannya sesuai dengan bukaan mulut ikan.

Cara Penetasan Telur Ikan Gurame

Cara Penetasan Telur Ikan Gurame

Secara teknis, tata laksana penetasan telur dan pemeliharaan larva ikan gurami dapat dilakukan sebagai berikut:

Di Kolam Penetasan

Penetasan telur ikan gurami dapat dilakukan dalam kolam pemijahan khusus, yaitu kolam yang airnya bersih dan jernih. Setelah induk ikan gurami memijah, biasanya sarang telur akan dijaga oleh induk betina sampai menetas, dengan cara mengerami atau induk tersebut berada di sekitar sarang.

Baca juga:  Cara Pemijahan Ikan Gurame

Gerakan induk betina di sekitar sarang menimbulkan aliran air yang menambah kandungan oksigen terlarut. Pada hari ke-11 dan 12, telur telah menetas menjadi anak ikan yang masih tinggal dalam sarang. Anak ikan ini biasanya diambil (dipungut) untuk dipindahkan ke dalam kolam pendederan atau dijual.

Dalam Wadah Terapung di Kolam

Sarang yang telah berisi telur diangkat dan dipindahkan ke dalam wadah plastik yang terapung di kolam. Telur yang berasal dari satu sarang dapat dibagi menjadi 2-3 wadah, tergantung banyaknya jumlah telur.

Wadah telur (bak plastik) diangkat pada pacag bambu secara hati-hati, kemudian diletakkan di sudut kolam.

Di tempat penetasan ini diberi naungan secukupnya, berupa daun kelapa. Pemeliharaan selanjutnya adalah melakukan pergantian air 2 kali sehari, dan pada saat larva berumur 8-10 hari diberi makanan tambahan berupa dedak halus dan emulsi kuning telur.

Seminggu kemudian, anak ikan gurami segera dipindahkan ke kolam pendederan.

Dalam Paso

Paso merupakan wadah yang terbuat dari tanah dengan volume air antara 10-20 liter. Paso diletakkan dekat rumah di tempat terbuka agar cukup mendapat sinar matahari.

Pengganti paso dapat digunakan ember atau waskom plastik. Telur ikan yang berasal dari satu sarang dibagi ke dalam tiga paso.

Setiap hari dilakukan pergantian air sebanyak 2 kali, yaitu pagi dan sore. Jumlah air yang diganti dalam paso sebanyak 0,25-0,5 bagian air. Telur-telur yang tidak menetas atau berjamur harus dibuang.

Pada hari ke 8-10, larva mulai diberikan makanan berupa suspensi kuning telur. Pada hari ke-15, benih ikan dapat dipindahkan ke kolam dederan.

Cara Menetaskan Telur Gurame di Akuarium

Telur ikan gurame yang telah menetas

Penetasan telur dalam akuarium dapat terkontrol, karena dilengkapi dengan aerasi dan penyifonan. Telur ikan dari sarang dapat dibagi menjadi 3 bagian, masing-masing dimasukkan ke dalam akuarium berukuran 40 x 60 x 30 cm³, yang mempunyai kedalaman air antara 20-40 cm.

Penyifonan dilakukan pada pagi hari dan telur-telur yang tidak menetas dibuang. Aerasi jangan terlalu kuat, karena akan mengganggu ketenangan larva ikan. Oleh karena itu, harus digunakan aerasi yang baik.

Pada hari ke-8, saat kuning telur pada larva ikan tinggal sedikit, segera diberi makanan dengan suspensi kuning telur ayam. Makanan ini akan lebih baik dalam bentuk makanan hidup seperti rotifera, yang ukurannya lebih kecil daripada bukaan mulut anak ikan gurami.

Pada hari ke-12, anak ikan mulai diberi makanan Daphnia sp, atau Meina sp., yang dilakukan 5 kaIi/hari secara ad libitum. Pemindahan anak ikan ke kolam pendederan dilakukan setelah 15 hari sejak penetasan.

Akmal Bahtiar

Menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, aktif menulis berbagai topik populer, seperti sains, sastra, dan hiburan.
Back to top button