Sebuah Surat Cinta Paling Menyedihkan

Sebuah surat cinta paling menyedihkan dan juga romantis untuk pacar yang pernah saya baca. Surat ini lebih dari sekadar contoh surat cinta kepada senior (kakak kelas), teman sekolah, dan apapun itu.

Di dalam surat cinta ini mengungkapkan semua isi hati dan perasaan, mulai dari awal bertemu di sekolah dasar, jatuh cinta, momen-momen yang semakin menguatkan perasaan satu sama lain. Hingga berbagai macam pengorbanan dan pembuktian cinta, bukan hanya dari kata-kata, tetapi tindakan yang membuat si penulis surat jatuh cinta berkali-kali pada seorang pria.

Bacalah perlahan-lahan, pelan, dan rasakan posisimu berada di pihak penulis surat cinta ini. Untaian katanya sungguh menyentuh hati. Sedih, bikin mewek! :'(

Kepada Yth,
Lelaki Tujuanku di Tempat

Apa kabar pagi ini?

Aku terbangun dengan buru-buru, dan mencarimu di telepon genggam milikku. Di kotak pesan masuk, aku tak menemukan ucapan sayang atau selamat pagi yang sering kau kirimkan. Di daftar kontak aku juga tak menemukan panggilan masuk atau panggilan tak terjawab dari nomor milikmu.

Aku mungkin keliru dan seakan tidak percaya pada telepon genggamku sendiri. Atau mungkin jaringan yang sedang bermasalah. Kau tahu? Aku sampai me-restart telepon genggam milikku sebanyak tiga kali. Tetapi ternyata hasilnya tetap sama.

Kau tetap tidak aku temukan di sana. Saat itu aku memutuskan untuk menghubungi nomor telepon milikmu, dan yang aku temui adalah suara seorang wanita yang begitu rapi menjelaskan bahwa nomor telepon milikmu sedang tidak aktif, dan meminta aku untuk menghubungimu lagi beberapa menit ke depan atau dia memberiku pilihan lain untuk meninggalkan pesan suara.

Apa kabar pagi ini?

Satu jam sejak aku tidak menemukan kabarmu di telepon genggam milikku. Aku memutuskan keluar, mengunjungi tempat-tempat kesukaan yang biasa kau kunjungi, tempat yang paling sering kau mengajakku untuk pergi ke sana.

Pertama, kedai kopi. Kau sering mengajakku duduk di pojok kiri sambil menanti pesanan kopi idamanmu, espresso. Dengan duduk di pojok, kau mengatakan akan bebas melihat tamu-tamu yang datang, mulai dari pintu masuk sampai ketika mereka memilih kursi tempat duduk kesukaannya.

Tentunya tanpa tamu itu perlu tahu bahwa kau sedang melihat mereka. Sedangkan kiri, karena itu dekat dengan kasir, menurutmu kau akan dengan mudah memesan pesanan tambahan jika memerlukan dan tentu saja akan lebih mudah jika ingin membayar ketika bergegas pulang.

Lalu espresso, itu adalah kopi sejati dari seorang lelaki, jika suka maka katakan singgahi, dan jika benci maka katakan sudahi, itu katamu. Espresso adalah gambaran perasaan lelaki kepada wanita. Tegas, jelas, dan penuh perhitungan.

Hampir dua jam aku duduk di pojok kiri kedai kopi kesukaanmu ini, namun tetap kau tidak aku temukan.

***

Apa kabar pagi ini?

Setelah kedai kopi itu, aku beranjak untuk mengunjungi sekolah dasar, tempat kita bersama menamatkan pendidikan dasar. Tempat kita pertama kali dipertemukan Tuhan. Enam tahun lamanya kita berada di sana, di dalam satu kelas, mengenakan seragam putih-merah.

Aku tidak akan pernah melupakan momen di kelas tiga, momen yang pertama kali menjatuhkan hatiku padamu. Saat upacara bendera rutin di hari Senin aku terjatuh di lapangan upacara, aku sempat pingsan beberapa saat yang dikarenakan lupa sarapan sesaat sebelum berangkat ke sekolah.

Dan kata teman-teman, saat aku terjatuh, banyak pasang mata hanya melihatku terpaku di tengah berlangsungnya upacara, tanpa melakukan apa-apa. Sedang kau, bergegas mengangkat aku tanpa syarat, membawaku ke ruang perawatan pertama unit kesehatan sekolah.

Sejak saat itu kau lah orang yang sering mengingatkan aku tentang waktu makan. Jangan lupa sarapan, makan siang, dan makan malam. Begitu berulang himbauan darimu, bahkan kadang melebihi peringatan dari ibuku. Aku tidak kesal, malah merasa sangat senang.

Hari ini, aku mengunjungi kembali sekolah dasar kita dan mencarimu di kelas-kelas, di bangku-bangku tempat kita pernah bersama. Dan kau tahu? Tempat yang paling aku rela berlama-lama hari ini, adalah lapangan upacara. Aku rela berjemur di sana hanya untuk mencarimu, mengenang jejak-jejak peristiwa lalu. Namun ternyata aku juga tidak menemukanmu di sekolah dasar ini, kau tetap tidak ada.

Apa kabar pagi ini?

Dari sekolah dasar aku menuju sekolah menengah pertama atau SMP. Ternyata, kita juga masih tetap bersama saat melanjutkan pendidikan di sana. Padahal di malam sebelum pengumuman kita telah berjanji bahwa jika sekolah kita pisah nantinya, kau tidak boleh mengurangi sedikit pun perhatianmu padaku, dan aku tidak akan pernah alpa mengabarimu.

Ini kehendak Tuhan, katamu, ketika di hari pengumuman dan ternyata kita lulus di sekolah menengah pertama yang sama, dan memukaunya masih dengan posisi kelas yang sama. Kau tahu? Sepulang dari pengumuman itu, aku sujud syukur di rumah.

Ini kehendak Tuhan, katamu. Kita makin dekat, setelah enam tahun di sekolah dasar kini kita bersama lagi dalam kurun waktu tiga tahun. Dan selama itu tentu ada momen yang paling berkesan, seperti lapangan upacara sewaktu di sekolah dasar.

Di SMP, aku tidak akan lupa momen di kelas dua SMP. Saat aku tanpa sengaja lupa memberi makan ikan di kolam halaman sekolah, padahal hari itu adalah hari piketku dan aku yang bertugas mengurusi ikan-ikan milik sekolah itu. Keesokan harinya sekolah heboh. Ada sekitar tiga puluhan lebih ikan yang mati, aku begitu gugup mengharu biru tak tahu harus berbuat apa dan bersembunyi di mana.

Dan di tengah-tengah itu semua, kau maju menghadap para guru, bahwa kaulah orang yang bertanggung jawab akan kejadian tersebut. Bahwa kaulah yang piket kemarin, meski namaku yang tertulis di jadwal. Kau beralibi, bahwa terlebih dahulu sudah melakukan pertukaran piket denganku beberapa hari yang lalu. Dan kaulah yang piket lalu lupa memberi makan ikan-ikan tersebut kemarin.

Aku sangat terkejut dengan pengakuanmu itu, aku sungguh tidak menyangka. Kau lalu dihukum membersihkan kolam itu sebulan penuh sendirian, dan tentu saja mengganti jumlah ikan yang mati saat itu. Kau sendirian, hanya seorang diri saja tanpa bantuan. Begitu bunyi hukuman yang ditetapkan. Dan aku hanya bisa memandang dari balik jendela kelas, dengan mata berkaca dan mendoakan agar bulan cepat berganti.

Aku semakin sayang padamu. Kau lelaki yang tak pandai berkata, tetapi sangat lihai membuktikan rasa. Hari ini, aku mengunjungi kembali sekolah menengah pertama kita dan mencarimu di kelas-kelas, di bangku-bangku tempat kita pernah bersama.

Dan kau tahu? Tempat yang paling aku rela berlama-lama hari ini, adalah kolam ikan di halaman sekolah itu. Aku rela bercakap bersama para ikan di sana, hanya untuk mencarimu, mengenang peristiwa lalu. Namun ternyata aku juga tidak menemukanmu di sekolah menengah pertama ini, kau tetap tidak ada.

Apa kabar pagi ini?

Dari sekolah menengah pertama aku menuju sekolah menengah atas atau SMA. Ternyata, kita juga masih tetap bersama saat melanjutkan pendidikan di sana. Padahal pengumuman sudah memisahkan kita, aku lulus di SMA 2 sedangkan kau di SMA 3.

Meski angka tersebut berdekatan tetapi sungguh lokasinya saling berjauhan. Kau tidak boleh mengurangi sedikit pun perhatianmu padaku, dan aku tidak akan pernah alpa mengabarimu. Janji itu kuingatkan lagi untukmu, sesaat setelah melihat pengumuman, dan setelah tahu kita tidak akan bersama di jenjang pendidikan SMA. Namun kau enggan mengangguk, seperti tidak rela.

Aku masih ingat kata-katamu saat itu, bahwa kau akan meminta kepada orangtuamu untuk mengurus segera kepindahanmu dari SMA 3 ke SMA 2 agar bisa selalu dekat denganku. Jika di SMP adalah kehendak Tuhan untuk mempertemukan kita kembali, maka di SMA adalah kehendakmu, itu katamu.

Aku sungguh tak mampu berkata lagi. Kau lelaki yang tak pandai berkata, tetapi sangat lihai membuktikan rasa. Dan hanya butuh waktu sepekan, kau benar-benar pindah ke SMA 2, hebatnya kau pindah tepat di dalam kelas yang isinya ada aku. Ini kehendakmu, katamu.

Di sini, tidak ada momen istimewa, seperti halnya lapangan upacara atau kolam ikan. Sebab di sini semua hari-hari kita sangat spesial, berada satu tingkat di atas istimewa, aku semakin sayang kepadamu.

Kau tahu, meski begitu aku tetap membingkai dalam hatiku, satu momen spesial saat itu. Saat kau membacakan puisi rindu padaku di depan kelas kita.

Aku masih ingat hari itu, Senin pukul 10.30 pagi menjelang siang. Saat jam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap siswa dan siswi diberi tugas untuk membuat puisi lalu kemudian dibacakan di depan kelas. Saat giliranmu tiba, kau maju dengan langkah mantap tanpa melirik ke arahku sedikit pun. Tetapi pas di depan kelas pandanganmu malah hanya satu arah kepadaku, tajam.

Puisimu berjudul Seribu Rindu untuk Alisa. Seketika kelas bergemuruh, semua mata tertuju padaku, termasuk ibu guru pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Semua kata-katamu dalam puisi itu sangat indah, seakan menghipnotis seisi kelas.

Hari itu aku baru tahu, ternyata kau lelaki yang bukan hanya lihai membuktikan rasa, tetapi juga sangat pandai berkata. Baru hari itu aku tahu. Aku sangat ingat puisimu hari itu, bahkan aku menyimpannya di bawah bantal, dan selalu membacanya sesaat sebelum tidur.

Aku sangat menyukainya, terutama pada penggalan kalimat, ”Sepasang matamu adalah waktu bagiku. Dia adalah masa memberiku keberanian menjalani hidup.” Setiap aku selesai membaca kalimat itu, aku pasti meneteskan air mata.

Hari ini, aku mengunjungi kembali sekolah menengah atas kita dan mencarimu di ruang-ruang, di bangku-bangku tempat kita pernah bersama.

Dan kau tahu? Tempat yang paling aku rela berlama-lama hari ini, adalah di depan kelas tempat kau pernah membacakan puisi untukku. Aku rela membaca puisi itu sendirian, berulang-ulang untuk mengenang peristiwa lalu. Namun ternyata aku juga tidak menemukanmu di sekolah menengah atas ini, kau tetap tidak ada.

***

Apa kabar pagi ini. Dari sekolah menengah atas aku menuju kampus. Jenjang pendidikan yang akan mulai mendewasakan setiap orang, dan tentu saja juga kita. Aku ingin menjadi seorang dokter, sedangkan kau seorang ahli di bidang laboratorium.

Namun lagi-lagi kau membuktikan bahwa kau seorang lelaki yang bukan hanya pandai berkata, tetapi sangat lihai membuktikan rasa. Kau ikut mendaftar bersamaku untuk lulus masuk ke fakultas kedokteran. Lagi-lagi kau berkata, ini kehendakmu.

Dan ternyata Tuhan tidak merestui kehendakmu itu, aku lulus di fakultas kedokteran sedangkan kau di pilihan kedua sesuai keinginanmu, analis laboratorium. Kau tidak boleh mengurangi sedikit pun perhatianmu padaku, dan aku tidak akan pernah alpa mengabarimu.

Janji itu kuingatkan lagi untukmu, sesaat setelah melihat pengumuman. Namun kau tetap bersikeras akan tetap menyusulku tahun depan, meski tahun ini terpisahkan. Katamu, tahun depan kau akan mendaftar lagi untuk dapat masuk ke Fakultas Kedokteran.

Kau tahu, aku menangis sejadi-jadinya malam itu, aku begitu bersyukur, bahwa Tuhan mengirimkan seseorang yang begitu menyayangi aku selain kedua orangtua yang telah melahirkan aku. Makhluk macam apa kau ini, entah dibentuk oleh rasa apa setiap dinding pada hatimu.

Dan ternyata kehendakmu benar, kita kembali dipersatukan di fakultas yang sama. Kau masuk menjadi junior, dan tentu saja aku seniormu perihal angkatan. Namun dalam cinta, kita tetap sama, bahkan kau jauh berada di atasku.

Dalam cinta, kaulah seniorku. Aku semakin sayang kepadamu. Hari ini aku kembali ke kampus kita dan mencarimu di ruang-ruang kelas, di bangku-bangku, di laboratorium, hingga rumah sakit tempat kita pernah bersama.

Dan kau tahu? Tempat yang paling aku rela berlama-lama hari ini, adalah di bangsal perawatan anak di rumah sakit. Aku masih ingat saat itu, saat kita jaga bersama di bagian anak. Bangsal itu menjadi saksi saat di sela-sela jaga, kau sibuk memilih nama-nama terbaik untuk calon anak-anak kita nantinya.

Katamu, agar setelah menikah nanti kita tidak perlu repot lagi mencarinya. Beberapa nama anak perempuan, dan nama anak lelaki, kau sodorkan padaku. Memberiku kebebasan untuk memilih. Aku diam menatapmu, bibirku gemetar, hatiku penuh sesak, kedua mataku basah mendengarmu mengucapkan nama-nama indah itu.

Kau tahu? Aku menangis sejadi-jadinya setiba di rumah. Aku begitu bersyukur, bahwa Tuhan mengirimkan seseorang yang begitu menyayangi aku selain kedua orangtua yang telah melahirkan aku. Makhluk macam apa kau ini, entah dibentuk oleh rasa apa setiap dinding pada hatimu.

Hari ini aku mencarimu di sana, bersama selembar kertas yang bertuliskan beberapa nama anak perempuan dan lelaki yang telah aku pilih. Namun ternyata aku juga tidak menemukanmu, kau tetap tidak ada.

Apa kabar pagi ini?

Seharian penuh aku mencarimu, mengunjungi tempat-tempat kenangan kita. Tempat-tempat yang menjadi saksi selama hampir delapan belas tahun lebih kita bersama. Sejak jenjang sekolah dasar hingga gelar profesi dokter. Namun aku tetap tidak menemukanmu. Kau hilang, tanpa kabar.

Bukan mulai hari ini, tetapi sejak tiga minggu terakhir lamanya kau telah menghilang. Aku telah mencarimu ke mana-mana, dan tempat terakhir yang aku kunjungi adalah rumahmu.

Apa kabar pagi ini?

Di rumahmu aku menemukan kejutan pahit yang tidak aku sangka, yaitu kau yang ternyata tidak ingin menemuiku, meski aku tahu kau ada di dalam. Kau lebih memilih meminta ibumu untuk menghadapi aku dan menitipkan pesan, bahwa kau tidak mau lagi aku ganggu.

Aku terperangah. Terutama pada kalimat, kau tidak mau lagi aku ganggu. Delapan belas tahun lebih kita bersama, baru kali ini aku dengar kalimat itu.

Kau tahu? Saat itu aku menunggumu keluar dari rumah, aku rela berdiri seharian di samping pagar depan rumahmu. Terik matahari dan guyuran hujan aku tanggung hanya untuk mendengar langsung darimu, apa yang sebenarnya terjadi.

Jika pun kau ingin berpisah mengapa bukan kau yang langsung mengatakannya padaku. Bukankah kau lelaki yang lihai membuktikan rasa, dan juga sangat pandai berkata. Baru hari itu aku tahu, mungkin aku salah menilaimu, mungkin.

Apa kabar pagi ini?

Lapangan upacara, kolam ikan, puisi, dan nama calon anak-anak kita itu kini hanya kenangan.

Aku serasa bangun dari mimpi indah ketika kemarin aku menemukan secarik undangan pernikahan yang diselipkan masuk ke celah bawah pintu rumahku. Di sana ada namamu, bersama seorang wanita lain yang tidak aku kenali.

Apa kabar pagi ini?

Seharian penuh aku mencarimu, berharap menemukanmu dalam kenangan tempat-tempat masa lalu. Dan berharap waktu diputar kembali ke delapan belas tahun silam. Dan saat itu, aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu!

“Sepasang matamu adalah pembunuh bagiku. Dia adalah masa lalu, namun sepertinya tidak untuk masa sekarang, dan masa depanku. Dia ada untuk memberiku harapan menuju kematian cinta.”

Aku, menuliskan secarik puisi di bawah puisimu padaku dulu. Apa kabar pagi ini? Kau hilang, dan menyisakan kematian untukku.

Aku ucapkan terima kasih untuk semua rasa ini.

Salam hormat, hatiku.

Bagaimana? Sudah baca surat cinta paling menyedihkan di atas? Bagaimana perasaanmu setelah membacanya? Nyesek, sakit, dan hati tercabik-cabik.

Bukan hanya kamu yang pengen nangis setelah membaca surat cinta paling menyedihkan di atas, ada ribuan pembaca yang juga merasakannya.

Tinggalkan komentar