Contoh Pidato Persuasif Singkat tentang Pendidikan dan Lingkungan

Contoh Pidato Singkat – Jika kamu memiliki keterampilan berbicara, maka kamu akan dapat dengan mudah menyampaikan ide dan gagasanmu kepada orang lain. Dan salah satu ragam berbicara di depan umum adalah berpidato. Itulah sebabnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan berpidato harus kamu kuasai.

Agar pelaksanaan pidato berjalan lancar, tentunya terdapat persiapan persiapan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah menyiapkan naskah atau bahan yang akan dikuasai oleh siswa.

Kumpulan contoh pidato singkat berikut ini berusaha memberikan beberapa teks pidato untuk semua orang, terutama siswa sehingga dapat berlatih menyampaikan pidato di depan kelas/khalayak ramai.

Untuk itu, semoga contoh pidato ini bermanfaat bagi peningkatan kemampuan berbicara oleh para siswa/pembaca sekalian.

1. Contoh Pidato Singkat Bahasa Indonesia

Contoh pidato Bahasa Indonesia yang pertama ini berjudul “Bahasa Menunjukkan Bangsa”.

Bapak/Ibu guru yang saya hormati.
Rekan rekan yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahim.

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Swt. Amin.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang penggunaan bahasa Indonesia sebagai identitas dan jati diri bangsa.

Hadirin yang saya hormati.

Apa jadinya jika kita tidak mempunyai bahasa untuk saling berkomunikasi? Tentunya kita patut bersyukur memiliki bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia, yang lahir dari buah kesadaran akan pentingnya persatuan.

Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan. Kita sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad abad silam. Bahasa lahir bersamaan dengan terbentuknya masyarakat atau bangsa.

Oleh karena itu, bahasa sangat terkait dengan budaya dan sosial ekonomi suatu masyarakat penggunanya. Tidak heran jika suatu daerah memiliki bahasa yang berbeda padahal untuk maksud yang sama. Suatu bahasa dapat berkembang dengan pesat atau sebaliknya, secara perlahan musnah karena ditinggalkan penggunanya.

Di tengah arus globalisasi menimbulkan kecemasan terkikisnya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kecenderungan masyarakat atau pun para pelajar menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa asing dalam percakapan sehari hari semakin tinggi.

Yang lebih parah, makin berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampuradukkan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Misalnya pada ujaran berikut: Saya mah kalo cari info cukup browsing ajah di internet.

Dalam konteks percakapan sesama teman mungkin bisa diterima, tetapi jika bahasa tersebut terbawa dalam konteks resmi inilah yang berbahaya.

Hadirin yang saya hormati.

Dalam konteks tertentu menguasai bahasa asing memang diperlukan. Akan tetapi, kebanggaan berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya jangan sampai mengikis kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Pepatah mengatakan bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”. Jati diri kita sebagai bagian dari suku suku di nusantara dan sebagai bangsa yang mandiri tercermin dari bahasanya.

Selain itu, penggunaan bahasa pun menunjukkan pola pikir kita. Semakin baik kita bertutur, semakin tertata pula pola pikir kita. Namun sebaliknya, jika ujaran bahasa kita kacau, hal itu mengindikasikan kacau pula pikirannya. Tidak mengherankan jika para psikolog menggunakan bahasa sebagai alat terapi.

Di saat kita gencar menguasai bahasa Inggris, justru masyarakat internasional gencar pula melirik bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional kedua setelah bahasa Inggris. Beberapa kali konferensi internasional bahasa Indonesia untuk penutur asing diselenggarakan sebagai upaya memasyarakatkan bahasa Indonesia di kancah internasional. Malah pelajaran bahasa Indonesia telah masuk ke dalam kurikulum pengajaran di sekolah sekolah di beberapa negara.

Salah satu alasan mengapa masyarakat luar ingin menguasai bahasa Indonesia adalah agar mereka bisa masuk untuk membuka lapangan kerja di era pasar bebas. Berbagai bangsa akan mengadu peruntungan ekonomi bisnis yang sudah pasti melibatkan pribumi Indonesia. Mereka bukan hanya mempelajari bahasa Indonesia, melainkan juga bahasa daerah.

Dalam konteks pendidikan di sekolah, pendidikan bahasa dimaksudkan sebagai upaya agar para siswa memiliki keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Dengan begitu, para siswa akan mampu berkomunikasi secara cerdas serta mempunyai daya kritis melalui kegiatan membaca dan menulis.

Dengan demikian, pelajaran bahasa indonesia bukan sekadar bagian dari mata pelajaran di sekolah, lebih dari itu berfungsi sebagai alat untuk menguasai bidang bidang lain, termasuk bidang eksakta.

Hadirin yang saya hormati.

Selain sebagai identitas sebagai bangsa, keterampilan berbahasa pun harus dikuasai kita agar: Pertama, dapat menghilangkan jarak bahasa antar anggota masyarakat, terutama antara masyarakat golongan bahwa dan atas.

Kedua, membangun rasa kecintaan yang tinggi terhadap bahasa Indonesia sehingga muncul perasaan emosional untuk mempertahankan kelanggengan bahasa Indonesia.

Ketiga, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Misalnya, menjadi seorang wartawan, reporter, penulis buku, penyiar radio, orator, dan pembicara dalam forum forum resmi.

Hadirin yang saya hormati.

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu ‘alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh.

2. Contoh Pidato Persuasif tentang Tayangan Televisi

Berikut ini merupakan contoh pidato persuasif yang berjudul “Tayangan Televisi dan Tantangan Pendidikan”, di mana isinya mengajak kepada orang yang mendengarkan mengetahui dampak tayangan televisi terhadap pendidikan anak-anak.

Bapak/Ibu guru yang saya hormati.
Rekan rekan kelas yang berbahagia.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, bahwasannya pada hari ini kita dapat dipertemukan kembali dalam suasana yang penuh keakraban dan dalam keadaan sehat wal afiat. Pada kesempatan ini, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak/lbu guru yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pidato.

Hadirin yang saya hormati,

Saat ini, kita terus menerus di dera oleh berbagai masalah. Baik yang menyangkut persoalan alam, sosial, moral, maupun agama. Di satu sisi hal ini menjadi keprihatinan, tetapi di sisi lain menjadi tantangan untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut.

Salah satu persoalan yang berkaitan langsung dengan perubahan perilaku remaja dan masyarakat pada umumnya adalah hadirnya televisi. Tayangan tayangan yang disiarkan melalui “kotak ajaib” itu tidak sedikit membawa dampak buruk bagi perilaku penontonnya.

Salah satunya adalah tayangan gulat bebas ala smack down. Tayangan itu mampu mengubah perilaku anak-anak menjadi seorang “petarung” yang siap memangsa siapa saja, termasuk temannya sendiri. Korban pun berjatuhan. Belum lagi tayangan tayangan lain yang bersifat takhayul dan syirik.

Hadirin yang saya hormati,

Kasus ini hanyalah secuil dari dampak negatif yang lahir dari tayangan televisi. Karena masih banyak tayangan tayangan lain yang juga berisiko merusak moral dan mental anak-anak kita. Inilah tantangan dunia pendidikan yang sesungguhnya. Kita seakan tidak berdaya berhadapan dengan pendidikan yang dilancarkan oleh media televisi, terutama oleh orang orang yang berada di balik siaran televisi tersebut.

Kita memang membutuhkan media televisi sebagai sumber informasi dan alat penyampai informasi. Namun, kadang kita terjebak oleh televisi. Tayangan acara di televisi dijadikan trend setter, mulai dari hal yang sepele, seperti dandanan, makanan instan, gaya bicara, minyak wangi, atau gosip, sampai pada hal hal yang sifatnya mendasar, yang menyangkut aqidah agama, ideologi, dan moralitas.

Hadirin yang saya hormati,

Berdasarkan kenyataan tersebut ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji dan dibahas lebih lanjut. Saya ingin menyampaikan beberapa hal sebagai bahan pemikiran.

Pertama, tayangan televisi harus disikapi secara arif. Kita tidak bisa dengan begitu saja menganggap tayangan A atau B itu layak hanya karena ada tulisan “Telah Lulus Sensor”. Televisi tidak pernah netral. Bahkan televisi bisa dijadikan alat efektif untuk menghancurkan budaya suatu masyarakat.

Dengan demikian, kita sendiri, sebagai penonton, yang harus menjadi filternya. Misalnya, hanya menonton tayangan yang betul betul mendidik dan mengurangi waktu anak-anak untuk menonton televisi.

Kedua, televisi adalah alat. Jika diibaratkan, televisi bagaikan sebatang kayu jati. Akan dijadikan apa kayu jati tersebut, tentu sangat bergantung orang yang mengambilnya. Mungkin saja dijadikan kursi, ukiran kaligrafi, atau bahkan tongkat pemukul. Oleh karena itu, kualitas tayangan televisi sangat bergantung kepada “siapa yang berada di balik tayangan tersebut?”

Ketiga, kita sebagai pelajar harus lebih kritis dalam memahami setiap tayangan televisi. Tidak melahap begitu saja dan tidak membenarkan begitu saja. Kita harus berusaha mencari sisi manfaatnya bagi pengembangan diri kita. Jika tidak ada manfaatnya, sebaiknya tayangan tersebut tidak perlu ditonton.

Hadirin yang saya hormati,

Itulah kiranya sedikit pembahasan dalam pidato ini. Semoga kita dapat melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Walau bagaimanapun, kita tidak dapat menghindar dari semua persoalan yang ada.

Oleh sebab itu, kita harus menghadapinya dengan berbagai tindakan nyata yang didasari oleh tuntunan agama dan budaya bangsa kita. Walahu’alam.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas segala perhatiannya, serta mohon maaf atas segala kekurangannya.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu ‘alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh.

3. Teks Pidato tentang Pendidikan di Sekolah

Contoh pidato berikut ini juga mengenai pendidikan, berjudul “Pendidikan dan Kerawanan Sekolah”. Isinya tentang fenomena pendidikan di lingkungan sekolah dan perilaku remaja masa kini yang perlu perhatian serius.

Bapak Kepala Sekolah yang saya hormati Bapak/lbu Guru yang saya hormati.
Siswa siswi kelas IX yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahim.

Puji syukur kehadirat Allah Swt, bahwasannya pada hari ini kita dapat berkumpul dalam sebuah acara yang cukup penting, yakni seminar tentang Pendidikan dan Kerawanan Sekolah. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada pihak panitia yang telah memberi kesempatan kepada saya, selaku wakil dari kelas IX, untuk menyampaikan pidato saat ini.

Hadirin yang saya hormati,

Sekolah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran bagi para siswa memang tidak lepas dari berbagai bentuk kerawanan. Bahkan, terkadang kerawanan itu begitu mudah masuk sejalan dengan perkembangan usia para siswa yang juga mulai rawan, terutama usia ABG (anak baru gede). Apalagi jika kontrol dari sekolah tidak ketat dan waspada.

Kita sendiri sangat menyesalkan dengan munculnya perilaku negatif pelajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk perkelahian antar pelajar, penggunaan obat obat terlarang, serta mulai mencoba coba pergaulan menyimpang lainnya.

Jelas, ini jadi tantangan bagi pihak sekolah dan para guru. Walau bagaimanapun sekolah harus ikut bertanggung Jawab menjaga moral para pelajar.

Hadirin yang saya hormati,

Harus diakui, akhir-akhir ini penyimpangan yang dilakukan oleh para pelajar semakin meningkat. Berbagai pengaruh budaya barat yang sering kali dipertontonkan di televisi ataupun media internet turut berperan mempercepat dan meningkatkan kualitas negatif perilaku pelajar.

Jika kita hitung, berapa kasus yang muncul setiap hari akibat perilaku pelajar yang tidak terpuji, dan itu yang terjadi di lingkungan sekolah. Beberapa gejala kerawanan yang sering tampak di lingkungan sekolah, di antaranya membolos, merusak sarana sekolah, menentang terhadap guru, perkelahian, bahkan terjadi pelecehan dan penganiayaan.

Masalah kerawanan sekolah ini menjadi persoalan serius. Penanggulangannya tentu tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak sekolah. Kesadaran pribadi siswa dan perhatian keluarga turut membantu mengatasi kerawanan sekolah ini.

Hadirin yang saya hormati,

Ada beberapa jenis penyimpangan yang dapat dikategorikan sebagai kerawanan sekolah. Di antaranya sebagai berikut.

Pertama, perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum atau perbuatan antisosial, seperti berada di tempat-tempat hiburan atau pusat perbelanjaan saat jam belajar dan perilaku buruk yang dilakukan secara kolektif. Biasanya pelajar usia remaja mulai membentuk kelompok kelompok “gank” sebagai bentuk pencarian identitas dan menunjukkan eksistensinya di lingkungan masyarakat.

Kedua, perbuatan perbuatan yang melanggar hak hak orang lain yang bersifat kebendaan, seperti mengambil barang milik sekolah, teman sekolah, atau pun milik umum; dan melakukan pemerasan di lingkungan sekolah dan luar sekolah.

Pemerasan adalah segala tindakan yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri dengan melakukan penekanan terhadap orang lain. Biasanya pemerasan terjadi oleh pelajar yang merasa diri lebih ‘kuat” terhadap pihak yang lebih “lemah”.

Berbagai kemungkinan kerawanan sekolah tersebut harus selalu diwaspadai. Banyaknya jumlah siswa di satu sekolah menunjukkan banyaknya pula karakter yang harus dipahami. Belum lagi latar belakang mereka berbeda beda.

Tidak semua siswa berlatar belakang dari keluarga yang harmonis. Begitu juga tidak semua siswa berlatar belakang dari lingkungan masyarakat yang agamis.

Hal ini pun menjadi tantangan berat bagi para siswa yang berkarakter baik. Sebab, tidak menutup kemungkinan karakter yang sudah baik malah menjadi buruk karena pengaruh lingkungan tempat dia bergaul.

Hadirin yang saya hormati,

Jadi, marilah kita bersama-sama membangun karakter dan akhlak yang baik. Dengan demikian, akan lahir pribadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan moral. Jadikanlah momentum ini sebagai langkah awal untuk mewujudkan harapan tersebut.

Hadirin yang saya hormati,

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu ‘alaikum warroh matullahi wa barrokatuh.

4. Contoh Teks Pidato tentang Problematika Remaja

Ini adalah salah satu contoh pidato singkat yang berjudul “Bergaul Yang Sehat”, dimana contoh teks pidato ini membahas berbagai macam perilaku menyimpang yang muncul di kalangan remaja saat ini, penyebab, serta bagaimana mengatasinya.

Bapak/Ibu guru yang saya hormati.
Rekan rekan yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahim.

Puji syukur kehadirat Allah Swt. Semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Swt. Amin.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang permasalahan perilaku menyimpang remaja dan cara mengatasinya.

Hadirin yang saya hormati,

Masa remaja merupakan proses yang sangat rumit untuk menuju masa dewasa. Kalau kita mampu melawati masa remaja secara normal (tidak menyimpang) maka akan meraih masa dewasa yang normal. Masa remaja merupakan bagian dari proses menuju kedewasaan.

Masa remaja merupakan periode yang sangat penting karena perubahan perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu dan akan memengaruhi periode selanjutnya.

Apabila remaja dapat menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang terjadi pada masa remaja maka remaja akan berhasil melaluinya dan akan berhasil pula pada perkembangan masa dewasa.

Hadirin yang saya hormati.

Istilah remaja berasal dari bahasa Latin, yaitu Adolecere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak kanak ke masa dewasa.

Ada tiga tahap pada masa remaja ini, yakni tahap remaja awal (masa puber), tahap remaja pertengahan (remaja), dan tahap remaja akhir (usia 19 22 tahun). Pada masa peralihan ini biasanya remaja mengalami krisis identitas karena remaja bukan lagi kanak akan tetapi juga belum dianggap dewasa.

Oleh karena itu, remaja sering melakukan tindakan tindakan “cari perhatian” untuk eksistensi dirinya di lingkungan sekolah atau masyarakat.

Ciri ciri remaja yang paling menonjol adalah bersifat ingin tahu, selalu ingin mencoba dan berkesperimen. Remaja juga cenderung tidak menyetujui nilai-nilai orang tua. Mereka berusaha mencari identitas dirinya dengan menjauhkan diri dari orang tua. Tidak heran jika remaja lebih banyak yang mengagumi tokoh lain di luar orang tua sebagai idolanya.

Remaja juga sangat memperhatikan penampilan. Ia senang berdandan dan berkaca berjam-jam. Rasa kesetiakawanan dengan kelompok sebaya tumbuh kuat. Kita dapat melihat sendiri sekelompok remaja bergaul, mulai dari cara berpakaian, cara bicara, sampai cara berperilaku yang sama.

Selain itu, remaja juga sangat peka terhadap stres, frustrasi, dan konflik. Pada sisi inilah remaja memiliki peluang untuk terjerumus pada pergaulan negatif, seperti halnya penggunaan narkoba dan pergaulan bebas (seks bebas).

Hadirin yang saya hormati,

Masa remaja pun diwarnai dengan masa penuh romantika. Benih-benih cinta terhadap lawan jenis mulai tumbuh seiring dengan berkembangnya aspek fisik yang ditandai dengan matangnya organ-organ reproduksi dan aspek sosial yang berkaitan dengan kemampuan untuk memahami orang lain.

Meskipun dalam Islam tidak dikenal istilah pacaran, tetapi remaja kita memulai interaksi dan menumbuhkan benih benih cintanya dengan berpacaran. Kalau sebatas ingin mengenal karakter lebih dekat dengan lawan jenis mungkin berpacaran tidak jadi masalah.

Apalagi kalau remaja tahu batasan batasan dalam berpacaran. Namun yang kemudian berbahaya adalah ketika batasan batasan itu dilabrak karena pengaruh negatif dari video atau gambar-gambar yang tidak senonoh yang begitu mudah diakses.

Perilaku bergaul bebas jelas sangat bertentangan dengan hukum Islam. Imam Al-Gazali mengatakan bahwa nafsu seks merupakan nafsu yang paling kuat dan paling membangkang pada akal jika nafsu itu sudah bangkit.

Akibat-akibat yang ditimbulkannya sangatlah buruk, memalukan, dan menakutkan. Oleh karena itu, jika kita dapat menahannya karena takut kepada Allah SWT maka kita akan mendapatkan pahala yang besar.

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Barang siapa merasakan adanya nafsu berahi, namun tetap menahan diri dan menyembunyikannya, lalu orang itu meninggal dunia, dia wafat sebagai seorang syahid.”.

Betapa besar pahalanya jika kita mampu menahan dan mengendalikan nafsu seksual yang secara alami tumbuh dalam diri kita. Untuk mencegah terjerumus pada perilaku seks bebas, para remaja dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, kita harus memperdalam ilmu agama sehingga mampu mendekatkan diri kepada Allah Swt jika menghadapi permasalahan.

Kedua, kita harus mampu menjaga pandangan. Mata menjadi sumber segalanya. Mata juga bisa menjadi sumber perbuatan zina. Oleh karena itu, kita harus menjaga mata kita dari sesuatu yang akan menjerumuskan kita pada perbuatan zina.

Ketiga, kita harus mampu memilih teman bergaul. Pergaulan memberikan pengaruh besar terhadap perilaku kita sebagai remaja. Jika teman teman kita baik maka kita pun akan terbawa baik. Begitu pula sebaliknya.

Ketiga, kita harus memperluas pengetahuan mengenai alat reproduksi dan cara merawatnya. Kita juga harus tahu bahaya seks bebas terutama berkaitan dengan penyebaran penyakit HlV/AIDS. Untuk mengetahui, kita tidak harus mencoba. Banyak buku dan sumber informasi yang dapat diakses mengenai pengetahuan tersebut.

Keempat, kita harus berani mengatakan “Tidak!” pada ajakan teman atau pacar yang mengarah pada perilaku menyimpang.

Kelima, Kita dapat mengalihkan energi kita untuk melakukan aktivitas yang lebih positif.

Hadirin yang saya hormati,

Tentunya, bangsa ini tidak ingin generasi mudanya lemah dan moralnya hancur. Bangsa ini mengharapkan tunas-tunas muda yang kuat dan berakhlak baik. Kita harus memulainya dari sekarang, saat usia kita mulai memasuki masa remaja.

Kita dapat memulainya dengan bergaul sehat. Menjalin hubungan sesama remaja dengan memahami batas-batas yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dengan demikian, niscaya kita akan menjadi remaja yang siap menyongsong masa depan dengan ceria.

Hadirin yang saya hormati,

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh.

5. Pidato Singkat tentang Pendidikan: Hambatan Belajar

Berikut contoh pidato singkat tentang pendidikan yang berjudul “Mengatasi Hambatan Belajar”.

Bapak/Ibu guru yang saya hormati.
Rekan-rekan yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahim.

Puji syukur kehadirat Allah Swt, semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Swt. Amin.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang permasalahan belajar dan cara mengatasinya

Hadirin yang saya hormati,

Belajar sangatlah penting. Akan tetapi, sering kali kita menghadapi hambatan dalam belajar. Secara umum, faktor faktor yang mempengaruhi belajar tersebut dapat dibagi menjadi dua, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal meliputi, faktor kesehatan, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Di antara ketiga faktor tersebut, faktor psikologislah yang paling memberikan dampak/pengaruh terhadap kegiatan belajar siswa.

Faktor psikologis yang memberikan pengaruh besar terhadap cara belajar kita sebagai siswa. Faktor faktor itu meliputi intelegensi atau kecakapan, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan, dan kesiapan.

Pertama, intelegensi salah satunya berkaitan dengan kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri ke dalam situasi yang baru. Meskipun intelegensi bukan satu satu faktor penentu keberhasilan seseorang, tetapi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar.

Kedua, perhatian yang tidak fokus mengakibatkan proses belajar jadi terhambat. Tantangan bagi siswa adalah tetap memfokuskan perhatian, dan tantangan bagi pengajar adalah berusaha selalu menarik perhatian agar konsentrasi kita tetap fokus.

Ketiga, minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa akan dilakukan dengan perasaan senang, terbuka, dan terus menerus. Hal itu berbeda dengan perhatian.

Kalau perhatian sifatnya sementara dan belum tentu diikuti perasaan senang sedangkan minat akan dilakukan secara terus menerus dengan penuh kesenangan. Misalnya, seorang anak yang mempunyai minat bermain sepakbola, dia akan dengan senang hati melakukan latihan atau bermain sepakbola, tanpa merasa terbebani. Bahkan dia akan bersedia meluangkan seluruh waktunya untuk mempelajari, memahami, dan mempraktikkan teknik bermain bola.

Keempat, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Bakat akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.

Oleh karena itu, bakat akan mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelaiarinya sesuai dengan bakatnya, hasil belajarnya pun akan lebih baik. Para guru sangat penting untuk mengetahui bakat siswanya sehingga dapat memfasilitasi siswa sesuai dengan bakatnya.

Kelima, motif atau motivasi erat kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai. Motif menjadi daya penggerak untuk berbuat sehingga tujuannya dapat tercapai.

Keenam, kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang sehingga dia siap melaksanakan kecakapan baru. Misalnya, tangan dengan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, membuat prakarya, dan sebagainya.

Belajar akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang). Oleh karena itu, proses belajar pun dilakukan secara berjenjang (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) disesuaikan dengan tingkat kematangannya.

Ketujuh, kesiapan. Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respons atau bereaksi. Kesiapan itu timbul dari dalam diri seseorang. Kesiapan berkaitan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.

Hadirin yang saya hormati.

Berkaitan dengan faktor faktor yang telah dijelaskan tadi, ada beberapa rintangan yang mungkin dihadapi pembelajar, yakni: (1) Tidak merasakan adanya manfaat pribadi; (2) Takut gagal atau terkena aib sosial; (3) Takut akan perubahan dan pertumbuhan pribadi; (4) Benci pada topik pelajaran; (5) Dipaksa hadir; (6) Punya masalah dan gangguan pribadi; (7) Merasa “aku sudah tahu yang begini”; dan (8) Merasa sangat bosan.

Kita dapat mengatasi rintangan tersebut dengan memahami kemampuan, minat, motivasi, dan kesiapan kita dalam menghadapi proses belajar. Kita membutuhkan motivasi dan dukungan yang kuat dari orang tua, para guru, dan lingkungan bergaul.

Menghilangkan atau mengurangi rintangan-rintangan ini akan menghasilkan kemampuan belajar yang semakin meningkat setiap waktu. Kita harus yakin bahwa kita akan menjadi pembelajar yang hebat.

Hadirin yang saya hormati,

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu ‘alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh.

6. Contoh Pidato Singkat tentang Tren di Kalangan Remaja

Contoh pidato singkat di bawah ini membahas tentang pergaulan dan gaya hidup remaja yang berjudul “Menjadi Remaja Anti-trend”

Bapak/Ibu guru yang saya hormati,
Rekan rekan yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahim,

Puji syukur kehadirat Allah Swt Semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Swt. Amin.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang permasalahan belajar dan cara mengatasinya

Hadirin yang saya hormati,

Trend fashion! Bukan saja milik selebritis dan orang berduit, melainkan juga milik semua kalangan, termasuk para pelajar. Lagi lagi televisi dan film menjadi biang merambahnya mode pakaian yang modis dan trendi ala pelajar.

Para siswa begitu mudah terpengaruh gaya (style) baju ketat nan irit bahan. Mereka beramai-ramai membuat tren seragam model ketat di sekolah ala dandanan pelajar di sinetron atau film layar lebar yang menampilkan sosok remaja pelajar modern.

Gaya bicara pun mereka tiru. Bahasa gaul loe, gue, secara gitu, so what gitu lho, please deh, dan seabreg tren bahasa lainnya telah merasuk ke kampung-kampung sejalan dengan makin banyaknya masyarakat yang memiliki televisi itu.

Peraturan sekolah pun menjadi sulit diterapkan. Alhasil, seragam sekolah siswa SMP dan SMA menjadi begitulah adanya. Memang, kondisi ini tidak bisa dijadikan patokan bahwa semua siswa begitu. Masih banyak juga siswa yang berpakaian sopan, dengan pakaian panjang atau berjilbab. Bahkan beberapa sekolah menerapkan aturan sangat ketat mengenai pakaian ini. Sebab, pakaian ketat sangat mengganggu proses belajar mengajar di kelas.

Selain itu, pakaian yang mengumbar aurat (khususnya untuk perempuan) sangat rentan terjadinya pelecehan seksual, baik yang dilakukan oleh siswa di dalam sekolah sendiri maupun oleh orang di luar sekolah itu.

Hadirin yang saya hormati,

Sungguh disayangkan jika kita selalu mengikuti tren hanya karena ingin dianggap eksis atau gaul. Padahal, tidak selamanya yang ngetren itu baik. Sebagai pelajar, seharusnya bisa lebih kritis dalam menanggapi segala pengaruh yang masuk karena kita tidak tahu tujuan sebenarnya orang yang mempopulerkan pakaian model seperti itu.

Sebagai proses menuju dewasa, para pelajar harus bisa menghadapi segala pengaruh atau masalah dengan mempertimbangkan baik buruk. Kedewasaan itu harus dibentuk, melalui cara bersikap dan bertindak. Sebab, sikap dewasa tidak datang dengan sendirinya. Buktinya, banyak orang yang sudah tua, tetapi sikapnya tidak dewasa. Sehingga sangat pas ungkapan yang mengatakan “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”

Hadirin yang saya hormati,

Ada informasi yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menyikapi tren celana/rok melorot dan baju ketat ini. Saya membaca informasi tersebut di surat kabar harian ini yang menyebutkan bahwa pemerintah Kota Atlanta di Amerika Serikat berencana melarang celana bergaya kendor sebatas pinggul yang memamerkan pakaian dalam pemakainya. Padahal, mode pakaian seperti itu bersumber dari negara tersebut.

Menurut Direktur Komunikasi Dewan Kota Atlanta, Dexter Chambers, pakaian seperti itu tidak senonoh alias porno. Oleh sebab itu, pemerintahan kota tersebut akan mengubah peraturan daerah (perda) tentang ketidaksenonohan, sebab hal itu sudah menyangkut akhlak publik dan bentuk pelanggaran hukum.

Dan yang paling kencang mendukung usulan itu adalah para guru. Larangan celana kendor ini telah diberlakukan di Delcambre, Lousiana, AS. Pelakunya dapat didenda 500 dolar (sekitar 4,5 juta) atau enam bulan kurungan.

Bagaimana dengan sekolah dan pemerintah daerah kita? Mungkinkah membuat perda tentang pelanggaran akhlak, yang salah satunya berkaitan dengan masalah pakaian?

Untuk menyikapi hal ini, sepertinya para remaja harus mulai berani menyatakan diri sebagai remaja anti tren. Mari teriakan: Saya adalah anti tren! Dalam pengertian, anti terhadap tren-tren negatif yang sekarang sedang giat mewabah. Siswa harus berani mengatakan: “Tidak!” atas ajakan yang kurang baik dan tidak bermanfaat dari teman temannya.

Sekarang, siswa yang sukses adalah siswa yang mampu menciptakan tren positif dan memberi pengaruh positif pula terhadap teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Tidak ada yang patut dibanggakan ketika kita melakukan hal-hal yang negatif. Sebaliknya, kalian harus berbangga ketika sudah mampu menolak tren negatif yang dapat menjerumuskan dan menyengsarakan.

Jadilah kalian generasi muda yang mampu menciptakan tren, bukan malah mengikuti tren yang tidak ngetren.

Hadirin yang saya hormati,

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh.

7. Contoh Pidato Bahasa Indonesia tentang Sastra

Berikut ini adalah contoh pidato Bahasa Indonesia yang singkat, berjudul “Bulan Sastra Yang Terlupakan”.

Bapak/Ibu guru yang saya hormati.
Rekan rekan yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahiem.

Puji syukur kehadirat Allah Swt Semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Swt. Amin.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang permasalahan belajar dan cara mengatasinya

Hadirin yang saya hormati.

Setiap April, biasanya kita langsung teringat pada Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Kartini sebagai sosok pahlawan emansipasi perempuan, terutama di bidang pendidikan, telah menjadi ikon kebangkitan kaum perempuan Indonesia.

Namun, sering kita lupa bahwa selain Hari Kartini, April pun menjadi bulan sastra untuk memperingati sastrawan Indonesia, yakni Chairil Anwar. Mengapa mengenang Chairil Anwar luput dari perhatian? Ya, jawabannya sangat sederhana, sebab Chairil bukanlah pahlawan nasional.

Dia hanya pemuda kurus kering yang selalu digambarkan bermata merah, tetapi punya idealisme tinggi. Dia hanya dinobatkan sebagai “pahlawan sastra” yang menjadi tonggak lahirnya Angkatan ‘45 dalam sejarah kesusastraan Indonesia.

Jadi sangat wajar jika peringatannya tidak segegap gempita Hari Kartini. Peringatan Chairil Anwar sangat terbatas bagi orang orang yang memang mencintai sastra, dan itu jumlahnya sangat terbatas.

Hadirin yang saya hormati.

Perkembangan sastra Indonesia mengalami perjalanan yang sangat panjang. Periodisasi sastra Indonesia mencatat bahwa sastra Indonesia terbagi atas sastra Indonesia lama dan sastra Indonesia modern. Tonggak tonggak lahirnya sastra Indonesia modern mulai muncul pada awal abad ke-19 yang kemudian dipertegas dengan berdirinya penerbit Balai Pustaka di bawah pengawasan kolonial Belanda.

Secara bertahap namun pasti, sastra Indonesia mengalami perkembangan yang luar biasa terutama pada masa penjajahan Jepang. Para sastrawan pada masa itu sudah mulai mengekspresikan kegelisahannya secara lugas melalui karya-karya berupa puisi, prosa, dan drama.

Sebut saja salah satunya adalah Chairil Anwar. Chairil Anwar dianggap sebagai pelopor Angkatan 45 dalam catatan periodisasi sastra Indonesia.

Chairil mulai menulis sajak sajaknya pada permulaan zaman Jepang dalam usianya yang masih muda, sekitar 20 atau 21 tahun. Ketika perasaan lebih berkuasa daripada pikiran, pada saat darah muda mengalir dengan panas di seluruh tubuh, yang selalu gelisah dan meronta ronta, kadang kadang membakar dan melemahkan segala pertimbangan.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa yang mula-mula mengerti dan dapat menangkap isi jiwa atau maksud sajak-sajak Chairil Anwar adalah H.B. Jassin. Saat itu, Jassin bekerja sebagai redaktur kesusasteraan di Balai Pustaka.

Sajak-sajak Chairil kemudian banyak diterbitkan dalam Pantja Raya di zaman Revolusi. Banyak yang mencoba mempelajari yang kemudian melahirkan pertimbangan-pertimbangan terhadap sajak-sajak Chairil khususnya dan perkembangan sastra Indonesia pada umumnya.

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, pada 26 Juli 1922. Mula-mula bersekolah di Medan sampai Mulo kelas 1, kemudian pindah ke Mulo Jakarta meskipun hanya sampai kelas 2. Ia mulai dikenal sebagai sastrawan pada tahun I943.

H.B. Jassin yang pada waktu itu sedang mempelajari berbagai aliran dan teori sastra, dan kebetulan sedang mendalami aliran ekspresionisme, segera dapat menangkap isi sajak-sajak Chairil yang ekspresionisme itu. Tidak dapat disangkal lagi, dengan munculnya Chairil Anwar di gelanggang seni sastra telah membawa perubahan dan corak baru dalam bidang puisi.

Hadirin yang saya hormati,

Dalam usia yang masih muda, tidak lebih dari 27 tahun, Chairil Anwar meninggal dunia, tepatnya pada 28 April 1949. Dalam usia berkarya yang singkat itu, Chairil Anwar telah mewariskan semangat baru dalam berkarya.

Kegelisahannya terhadap realita terkadang menjadi sesuatu yang pesimistis, seperti tergambar dalam larik puisinya: Sekali berarti, sudah itu mati (sajak “Diponegoro”). Namun, semangatnya yang menyala nyala mengobarkan semangat optimistis yang kemudian ia gambarkan dalam puisi “Aku”: Dan aku akan lebih tidak peduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Kita patut memiliki jiwa dan semangat yang menyala nyala dalam menghadapi tantangan. Sebagai generasi muda kita harus menampilkan karya-karya terbaik kita untuk dicatat dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia.

Mulai sekarang, mari kita peringati Bulan Sastra sebagai momentum penting dalam menjiwai karya-karya sastra Indonesia.

Hadirin yang saya hormati.

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu ‘alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh

8. Contoh Pidato Persuasif Penanganan Sampah

Di bawah ini merupakan contoh pidato singkat tentang kesehatan dan lingkungan yang berjudul “Rendahnya Kesadaran Mengolah Sampah”.

Bapak/Ibu guru yang saya hormati.
Rekan rekan yang berbahagia.

Bismillahirahmanirrahim.

Puji syukur kehadirat Allah Swt Semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah Swt. Amin.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato tentang penggunaan bahasa Indonesia sebagai identitas dan jati diri bangsa.

Hadirin yang saya hormati.

Selama ini kita menyepelekan keberadaan sampah yang dibuang begitu saja tanpa ada perlakuan yang khusus. Sebagian warga dengan seenaknya membuang sampah ke sungai atau kali, selokan, bahkan ke pinggiran jalan.

Namun, ada juga warga yang berpikir jeli dan memanfaatkan sampah tersebut untuk meraup keuntungan dengan cara mendaur ulang sampah sampah tersebut menjadi barang yang bisa dimanfaatkan lagi. Namun, tidak seluruhnya sampah itu dapat didaur ulang dengan mudah, masih memerlukan proses yang cukup lama dengan biaya yang tidak sedikit.

Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah sampah tersebut akan hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit (bakteri patogen) dan mengundang vector atau binatang serangga yang berperan sebagai pemindah atau penyebar penyakit.

Apabila proses pembuangan sampah di indonesia tidak dibarengi dengan sistem pemusnahannya, suatu saat Jawa Barat yang dikenal paling padat penduduknya akan menjadi lautan sampah dan penduduknya akan mudah terserang berbagai penyakit.

Oleh karena itu, sampah haruslah dikelola dengan sebaik sampai sekecil mungkin agar tidak mengganggu atau mengancam kesehatan masyarakat.

Hadirin yang saya hormati.

Pengelolaan sampah yang baik, bukan hanya untuk kesehatan saja, namun juga untuk keindahan lingkungan dan kelestarian alam sekitar. Namun dalam pengelolaan sampah di Indonesia masih belum menggunakan cara Inceneration yaitu pemusnahan sampah dengan cara membakar di dalam tungku pembakaran sampah.

Sementara di Indonesia sampai saat ini masih menggunakan cara diangkut dan ditumpukkan di TPA atau tempat pembuangan sampah akhir tanpa ada tindak lanjutnya.

Cara tersebut sudah dilakukan di jepang. Ketersediaan sarana pengelolaan sampah dikelola oleh pemerintah dengan cara membuat pabrik pembakaran sampah yang didirikan tiap kabupaten. Namun tidak hanya itu, setiap penduduknya pun sangatlah disiplin dan memiliki kesadaran yang cukup tinggi pula akan perlakuan terhadap sampah.

Setiap dua atau tiga kali dalam seminggu, mereka sudah dibiasakan membuang sampah dan diletakkannya di pinggiran jalan mulai pukul 6.00 pagi sampai dengan pukul 8.30 pagi yang selanjutnya diangkut oleh petugas sampah ke pabrik pembakaran sampah.

Namun, sebelumnya sampah sampah tersebut harus sudah dipisah-pisahkan dahulu oleh si pembuang sampah. Sampah yang tidak bisa dibakar dipisahkan dengan sampah yang bisa dibakar dengan menggunakan kantung plastik (Polyechilene) atau kantung kertas yang tahan air dan sudah bertuliskan sampah bisa dibakar dan sampah tidak bisa dibakar. Dan cara meletakkannya atau membuang sampah tersebut tidak boleh pada malam hari sebelum hari yang ditentukan.

Hadirin yang saya hormati,

Kuncinya adalah disiplin. Masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Budaya mereka telah menanamkan disiplin yang tinggi dalam setiap aktivitasnya. Hal itulah yang belum tertanam dalam diri kita, diri masyarakat kita. Kita sudah tahu bahwa membuang sampah ke sungai itu akan berakibat buruk pada lingkungan. Akan tetapi karena tidak disiplin, membuang sampah sembarangan tetap dilakukan.

Meskipun sebagian masyarakat sering terkena banjir saat musim hujan tiba, tetapi hal itu belum juga menyadarkan mereka. Selesai banjir, mereka kembali membuang sampah sembarangan. Kita tidak pernah jera dan tidak mau belajar dari pengalaman. Kesalahan yang sama selalu berulang dan mengakibatkan bencana yang terus berulang juga.

Hadirin yang saya hormati,

Melihat kenyataan itu, marilah kita mulai dari diri sendiri. Kita biasakan membuang sampah pada tempatnya karena kebersihan lingkungan akan memberikan kenyamanan dan ketenteraman pada diri kita.

Hadirin yang saya hormati,

Demikianlah pidato dari saya. Mohon maaf jika ada kata kata yang kurang berkenan.

Billahi taufik wal hidayah.
Wassalamu ‘alaikum warrohmatullahi wa barrokatuh

Sumber

Fitria, Dini Aida. 2010. Kumpulan Naskah Pidato dan Khotbah Materi Berpidato dan Khotbah untuk Melatih Keterampilan Berbicara. Jakarta: Multi Kreasi Satudelapan.

1.5/5 (2 Reviews)

Tinggalkan komentar