Cerpen Sedih tentang Cinta dan Kehidupan

Contoh Cerpen Sedih – Cerpen atau dapat disebut juga dengan cerita pendek merupakan suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella dan novel.

Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berisi kisah atau cerita mengenai manusia beserta seluk-beluknya lewat tulisan pendek dan singkat. Ada juga pengertian cerpen yang lainnya yakni sebuah karangan fiktif yang berisi perihal kehidupan seseorang atau pun kehidupan yang diceritakan secara ringkas dan singkat yang berfokus pada suatu tokoh saja.

Cerita pendek biasanya mempunyai kata yang kurang dari 10.000 kata atau kurang dari 10 halaman saja. Selain itu, cerpen atau cerita pendek hanya memberikan sebuah kesan tunggal yang demikian serta memusatkan diri pada salah satu tokoh dan hanya satu situasi saja [gopengertian].

Berikut di bawah ini kami berikan beberapa cerpen singkat dan menarik yang menurut penulis adalah yang terbaik. Cerpen tentang kehidupan yang sedih, serta penuh makna.

Cerpen Cinta Sedih: Akhir Sebuah Pagi

Cerpen Cinta Sedih Akhir Sebuah Pagi

Tubuhku masih tergolek diatas kasur empuk dengan mata terpejam seakan tak ingin mengakhiri sisa-sisa malam yang perlahan habis. Ingatanku dengan segar mem-flash back kejadian menakjubkan di malam ini namun kurasakan dengan pasti sinar matahari telah mengintip, memaksa menerobos masuk melalui celah-celah jendela seakan ingin mengingatkan kalau hari tak lagi malam. Dengkuran halus terdengar dari orang yang rebah di sampingku.

Seulas senyum tersungging di bibirku. Masih dengan mata terpejam, kugerakan tangan dan dengan lembut jari-jari halusku mulai menelusuri lekukan wajah di sampingku. Aku mengenal lekukan wajah dan mengenal setiap bagian dari tubuhnya dengan baik dan bahkan sangat baik. Aku mengenali semua yang merupakan bagian dari dirinya seperti aku mengenali diriku.

Kurasakan wajahku bersinar terang seterang matahari yang menyapa alam di luar sana. Dengan perasaan hangat dan lembut, ku-rewind rekaman tadi malam yang kusimpan rapat dalam memoriku dan kemudian kuputar lambat-lambat.

Di sebuah kamar vila di kawasan Lembang yang sejuk, sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota Bandung, sebuah tempat yang cukup nyaman untuk melepas semua lelah dengan segala kepenatan, sebuah tempat yang cukup aman untuk melindungi diri dari peliknya problematika hidup, dan juga sebuah tempat yang mampu membawa beberapa tahun silam kembali dalam genggamanku.

Tadi malam, di tempat itu, ketika rembulan dengan malu-malu menampakan diri, ketika gemintang berkelip tajam tanpa terhalang mendung, ketika malam semakin pekat, ketika suara jangkrik dan binatang lainnya bersahutan jauh di luar sana, ketika angin berhembus lirih, ketika tembok dan seluruh isi di kamar itu diam membisu, aku dan dia terhanyut, larut dalam kerinduan yang makin berkarat.

Kerinduan akan keindahan yang selama ini selalu kami inginkan, kerinduan akan saat-saat seperti itu, yang ternyata terjadi bahkan setelah bertahun-tahun perpisahan. Tak ada suara, tak ada kata-kata. Kebisuan kami menambah bisunya ruangan itu. Hanya desahan nafas yang memburu, bertarung dengan gelapnya malam yang kian pekat.

Seulas senyum tersungging di bibirku. Jari tanganku semakin lincah menelusuri tubuh yang rebah di sampingku. Mataku masih terpejam tanpa ada keinginan untuk membukanya.

Sungguh, malam ini begitu berbaik hati kepadaku sehingga aku bisa bermimpi indah. Aku bisa melewati malam ini dengan baik dan lancar, tanpa harus terbebani dengan berbagai perasaan yang selalu menghinggapi setiap malamku: merasa jijik dengan bau keringat yang selalu terasa asing meski telah sering kucium bau itu, merasa risih mendengar deru nafas penuh birahi, merasa terganggu jika ada air ludah bercampur dengan air ludahku, juga merasa perih dan tertusuk hatiku hingga aku harus meneteskan air mata.

Sungguh, malam ini begitu menakjubkan. Ia mampu mengantarkan sebuah keindahan yang kuinginkan dari beribu malamku yang terenggut. Ia mampu mewujudkan mimpi dan kerinduan yang kian berkarat setiap detiknya.

Ia mampu mengubah rasa jijik, risih, terganggu, atau rasa perih hati menjadi sebuah keinginan dan harapan untuk terus bisa merasakan damainya malam ini di malam-malam lainnya. Betapa keinginan itu terus membara, betapa keinginan itu tak pernah padam meski tahun-tahun telah aku lewati dengan berbagai dinamika kehidupan.

Sentuhan jari-jari tanganku sepertinya tidak mengusik tidur lelapnya. Ia hanya menggeliat sejenak dan kemudian terlelap lagi. Akupun sama sekali tak berniat membangunkannya.

Tiba-tiba bunyi nada polyphonic terdengar menggelitik telinga. Kuraih telpon genggam miliknya, darimana bunyi itu berasal. Dengan segera aku mengetahui dari siapa panggilan tersebut. Pandanganku berpindah-pindah pada telpon genggam dan pada pria yang rebah di sampingku.

Haruskah aku membangunkannya? Pikirku ragu. Namun bunyi tersebut tak pernah berhenti dan makin lama semakin kencang. Dengan hati-hati akhirnya ia kubangunkan dan kusodorkan benda itu padanya yang ia sambut dengan enggan.

“Pagi…,” sapanya dengan suara serak yang langsung mendapat jawaban dari seberang.

“Ya, Papa baru bangun. Seminar kemarin sangat menguras energi sehingga terasa melelahkan,” ujarnya.

“Apa? Hp Papa mati? O…ya, tadi malam sengaja dimatikan supaya tidak mengganggu istirahat Papa. Papa terlalu capek hingga tertidur lelap dan tidak tahu lagi apa yang terjadi hingga Mama membangunkanku.” kulihat keningnya berkerut mendengar ocehan dari ujung sana.

“Ya…ya, Papa usahakan segera pulang. Mungkin sore atau malam ini akan tiba dirumah. Okay, baik-baik dirumah ya, byebye, mmuach…,” katanya yang dengan segera mengakhiri pembicaraan tersebut dengan meletakkan kembali telpon genggam itu pada tempat semula. Tanpa berkata apa-apa ia menarik selimut yang sedang kupakai dan kemudian membenamkan tubuhnya ke dalam selimut tersebut.

“Istrimu?” tanyaku dengan nada cemburu.

Ia tidak menjawab. Telunjuknya menempel di bibirku. Jari-jari tangannya menyibakkan lembar-lembar rambut yang menutupi sebagian kening dan mataku. Kemudian dengan erat ia membenamkan wajahku di tubuhnya sehingga dapat kurasakan degup jantungnya.

“Aku tak ingin pagi ini berakhir. Aku tak ingin lagi melewati malam-malam tanpamu. Aku ingin… aku ingin selalu merasakan indahnya tadi malam,” ucapku tersendat.

Ia membelai rambutku dan dengan lembut berkata.

“Kita tak ingin saat indah ini berakhir. Kita tak ingin mengakhiri malam, mengakhiri pagi dan mengakhiri segalanya. Dulu pun kita tak ingin mengakhiri kebersamaan kita meski kemudian semuanya berakhir,”

“Berjanjilah..,” ucapku bergetar,

“Berjanjilah bahwa akan selalu ada hari lain, malam lain, dan kita akan selalu saling memiliki,”

Ia melepaskan pelukannya dan terlentang dengan mata lurus menatap langit-langit kamar. Dijadikannya kedua tangan sebagai bantal. Desah nafas panjang terdengar darinya.

“Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi setelah bertahun-tahun perpisahan yang menyakitkan itu. Dan di sinilah kita sekarang, di sebuah tempat yang dulu selalu kita idam-idamkan. Apakah aku bermimpi?” desisnya.

“Tidak, kau tidak bermimpi, kita tidak sedang bermimpi. Kita sedang berusaha mewujudkan impian dan harapan kita dan aku yakin kita akan bisa melakukannya bersama-sama seperti apa yang kita inginkan dulu,” ujarku penuh semangat.

Ia terdiam. “Aku tahu kau terluka. Aku pun begitu. Kita sama-sama terluka. Hanya saja aku tidak bisa mencucurkan dan bersimbah air mata sepertimu…” katanya tercekat, “Aku tak pernah berhenti mencintaimu. Tapi ingatlah, kita masing-masing telah mempunyai keluarga dan tidak bisa meninggalkan mereka,” lanjutnya kemudian.

“Kau… kau tidak tahu betapa menderitanya aku melalui malam-malam menjijikan. Mencium bau keringat orang yang tidak aku sukai, memperhatikannya, dan melahirkan anak untuknya. Kenapa aku tidak melahirkan anak untukmu? Kenapa? Semua itu begitu menyakitkan,” kataku disela isak tangis.

Ia memejamkan mata. Wajahnya menyeringai kesakitan; bibirnya bergetar. Perlahan dari sudut matanya kulihat butiran bening yang kemudian membasahi bulu-bulu matanya. Aku tertegun. Betapa ia pun merasakan sakit yang sama sepertiku.

Begitulah, akhirnya pagi pun berakhir, berlalu dalam kepedihan. Keindahan sekejap di malam itu tak mungkin lagi aku miliki. Dengan tegar namun hampa, kubuka gorden kamar; kubuka jendela. Kubiarkan matahari menerobos langsung menerpa kulitku. Dan sepertinya bukan hanya matahari yang akan menerpaku, tapi akulah yang akan menyongsong dan menantangnya dengan segala ketegaran yang kumiliki.

Kutatap hari dengan penuh kehampaan. Kubiarkan rasa di hatiku hancur berkeping-keping hingga aku berharap tak akan ada lagi rasa dalam diriku. Biarlah rasa ini mati; biarlah gulita selalu menyelimuti hidupku karena bagiku bersinar atau tidaknya matahari tak berarti banyak.

“Kapan seminarnya berakhir, Ma? Cepat pulang ya, Nia kangen…,” rengek suara dalam telpon genggamku. Aku tertegun. Mataku menatap tajam, membelah matahari yang kian memerah.

***

Cerpen Singkat dan Menarik: Aku Memang Cantik

Cerpen Singkat dan Menarik Aku Memang Cantik

Perkenalkan, namaku Cantik. Orang tua menamakanku begitu karena mereka menginginkanku menjadi anak yang cantik. Dan mujur, aku memang tumbuh menjadi wanita yang cantik.

Aku memang cantik. Semua orang yang mengenalku mengakui hal itu. Wajahku oval dengan hidung mancung dan mata yang indah. Bibirku merah segar meski tanpa pemoles. Kulitku putih halus dan akan nampak kemerah-merahan jika panas matahari menyengat.

“Laksana buah ranum yang setiap lelaki ingin memetiknya,” kata Om Naryo, salah satu fansku.

Rambutku hitam bergelombang. Tubuhku sintal dengan dada membusung. Badanku akan terlihat gemulai jika aku berjalan.

“Bak gitar atau biola yang setip lelaki ingin memainkannya,” ujar Om Doni, fansku yang lain.

Aku memang cantik. Semua orang pasti mengakuinya. Jika ada yang tidak setuju dengan pendapat itu, maka orang itu biasanya iri dengan kecantikanku. Para lelaki hidung belang sangat memujaku. Mereka selalu memimpikanku untuk mereka miliki. Mereka selalu mendekati dan berharap dapat menikmati tubuhku, membelai kulit putihku, dan merasakan segarnya bibir merahku.

Tetapi, banyak sekali wanita yang membenciku. Mereka tidak suka jika para suami atau ayah mereka mendekatiku.

***

Suatu hari di rumah Pak Nata.

“Pantas saja beberapa hari ini nggak pulang. Rupanya ngebooking perempuan jalang itu lagi,” teriak bu Ria, istri pak Nata.

“Sabar, Bu, sabar. Mana ada aku pergi main perempuan? Aku kan mencari uang untuk kamu. Nih…,” jawab pak Nata tenang. Disodorkannya beberapa lembar uang lima puluh ribuan pada istrinya. Masih dengan cemberut, bu Ria menerima uang itu.

“Ya, sudah. Mandi dulu sana. Air hangatnya sudah siap,” suara bu Ria melunak. Ia tak lagi sewot seperti sebelumnya.

“Untung tak ketahuan,” batin pak Nata sambil mengusap dada. Diingatnya lagi tadi malam saat ia menyalipkan beberapa lembar ratusan ribu pada belahan dada si Cantik.

***

Aku memang cantik. Aku tak bosan mengatakan hal itu karena aku memang cantik. Banyak lelaki bertekuk lutut karena kecantikanku. Tetapi, sebenarnya modalku bukan hanya kecantikan wajah. Ada rahasia-rahasia lain yang kumiliki untuk membuat kaum Adam tak berdaya.

Ingin tahu rahasianya? Ssst…. ini antara kita saja. Orang lain tak usah tahu. Pertama, aku selalu bertutur kata halus dan lembut agar meraih simpati semua orang terutama para pria. Malahan, terkadang aku pun mengenakan kerudung gaul dan baju panjang. Bukan untuk menutupi aurat, melainkan untuk menutupi profesiku sebenarnya.

Kedua, aku selalu memperlakukan lelaki sesuai dengan yang mereka inginkan. Aku tahu pasti dimana letak kelemahan mereka dan aku pun punya cara agar mereka bisa berpaling dari para istrinya.

Dan yang ketiga, Ssst…ini yang paling rahasia, sebenarnya aku menggunakan sedikit pelet, susuk, dan jampi-jampi dari Mbah Dukun kepercayaanku supaya profesiku ini laku keras.

***

Di rumah Pak Ryan

“Prang…”

Suara piring pecah membuka suasana pagi. Wajah pria itu terlihat merah dan membesi. Piring yang barusan di lemparnya pecah berkeping-keping.

“Aku tak suka setiap kali kamu menuduhku berbuat serong,” teriaknya. Bu Noni, isterinya, terdiam dengan linangan air mata di pipi. Piring pecah dan sedikit tamparan dari sang suami cukup membuatnya ketakutan setengah mati.

“Tapi… aku melihat sendiri kamu pergi dengan perempuan itu,” Ujar bu Noni, di sela isak tangis.

“Dengar! Aku pergi dengannya hanya untuk urusan bisnis. Kamu dengar? Hanya untuk urusan bisnis. Tak lebih dari itu. Dasar perempuan tak tahu diuntung!” ujarnya garang. Dibantingnya pintu dan kemudian ia pun pergi. Bayangan si Cantik menari-nari di pelupuk matanya. Ingin sekali hatinya untuk segera memeluk boneka itu.

***

Aku memang cantik. Aku tak takut dengan ketuaan yang menggerogoti karena aku telah memakai susuk dari Mbah dukun. Aku pun tak takut dengan kemarahan suamiku jika ia tahu keberadaanku dengan lelaki lain. Malahan, ia sangat mendukung profesiku karena ia tak perlu capek-capek cari uang. Anak-anakku pun, yang juga sama cantiknya sepertiku, mendukung pekerjaanku.

Dan pada mereka, yang aku sendiri tak tahu lelaki mana yang menjadi bapak mereka, ku ajarkan bagaimana caranya menekuni bidang ini. Siapa tahu mereka tertarik dengan apa yang kulakukan. Karena mereka pun tahu bahwa profesi ini sangat menjanjikan, hi…hi…hi..

Mungkin ada sebagian yang heran kenapa keluargaku begitu kompak. Jawabannya adalah karena aku selalu menggunakan mantra penakluk dari mbah dukun kesayanganku. Selain itu, mungkin karena nasibku yang selalu mujur bahwa aku memiliki wajah cantik dan juga keluarga yang sangat mendukung.

***

Di penghujung malam yang dingin

Bu Dina masih bersimpuh pada sajadahnya. Mulutnya komat-kamit dengan kedua angan terangkat. Butiran air mata membasahi kelopak dan bulu-bulu matanya.

“Ya Allah. Sadarkanlah suamiku dari apa yang selama ini diperbuatnya. Yang dia lakukan telah lebih dari sekedar menyakiti hamba sebagai istrinya, tetapi juga telah keluar dari jalan-Mu, yaitu selalu berzina dengan perempuan jalang.

Kehidupan kami pun menjadi hancur setelah ia sering pergi pada perempuan itu. Hati ini terasa sangat sakit dan hamba yakin bahwa banyak wanita-wanita lain yang merasa sakit karena perselingkuhan suaminya. Karena itu, sadarkanlah mereka, suami hamba dan juga perempuan itu. Jika tidak, maka hamba serahkan semuanya pada-Mu, yang Maha Mengetahui dan Menguasai,”

***

Kukatakan sekali lagi, aku memang cantik. Aku tak bosan dan tak akan pernah bosan mengatakan kalimat itu, seperti halnya om Diki yang tak pernah bosan merayuku untuk menjadikanku isteri kesekiannya. Tapi aku tak mau sedikit pun untuk menjadi isteri dari para penggemarku.

Yang kuinginkan dari mereka hanyalah uang, tak lebih dari itu. Masih kuingat kata-kata rayuan Om beristeri tujuh beranak sembilan ini.

“Kamu begitu hebat. Permainanmu lincah dan menggemaskan. Akan kuberikan semua yang kamu minta jika kamu bersedia menjadi istriku,” ujarnya.

Tapi segala rayuan yang ia lontarkan bahwa aku cantik, bahwa aku hebat tak akan mempan bagiku. Aku tak perlu rayuan itu, aku tak butuh kegombalan itu. Aku sudah merasa cukup puas jika berhasil membuat para pria bertekuk lutut, dan para wanita merasa sakit hati dan mengecamku. Ada kepuasan tersendiri jika aku melakukan hal itu.

Dan selain itu, tentu karena uang. Jika uang tersedia, maka si cantik dengan segala kehebatannya menjadi milikmu. Tak percaya?

***

Contoh Cerpen Sedih: Aku Wanita

Contoh Cerpen Sedih Aku Wanita

Kuikat kata dalam mata batinku; kuredam rasa dalam sanubariku; kutelan sakit yang merajai; dan harus kukatakan dengan tegar: aku adalah wanita.

Kurangakaikan kata demi kata, dan setelah sekian lama semua tercipta menjadi sebuah pengungkapan dari alunan kepedihan. Kepedihan yang telah mengeras yang kemudian menjadikan jiwaku membatu.

Ingin kubagi duka-lara, pada siapa aku bisa menyandarkan asa. Ingin kuungkapkan kepedihan, dengan siapa aku bisa merasakan kebahagiaan dan cinta.

Angan adalah tunas dari sebuah asa; khayal adalah impian dan keinginan. Setelah sekian lama aku hidup dalam lumpur kepedihan, dalam sebuah rumah tangga yang membuat rasaku sebagai wanita terhempaskan maka salahkah bila aku berangan untuk mendapat kebahagiaan yang nyata?

Salahkah jika aku berkhayal bahwa aku, wanita, ingin dihargai seutuhnya? Dan salahkah aku jika akibat dari perlakuan mengerikan dari partner hidupku, maka aku lalu memimpikan kasih sayang yang lain?

Aku adalah seorang istri; aku adalah manusia. Kebutuhanku sebagai seorang istri lebih dari sekedar permainan di atas ranjang. Aku butuh lebih dari sekedar materi, kedudukan, ataupun gelar bahwa aku adalah istri yang baik dan penurut. Perasaanku adalah sebagai wanita seutuhnya yang ingin perhatian, kasih sayang dan kelembutan.

Aku merasa kesepian tatkala suamiku sering membiarkan aku kedinginan bermalam-malam. Aku merasa sakit hati tatkala ia dengan sengaja memasukkan perempuan diantara kami yang kemudian semakin menghempaskan perasaanku sebagai seorang istri, sebagai seorang wanita.

Aku bukanlah robot yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhannya, sementara ia mengabaikan kebutuhanku. Aku bukanlah sukarelawan yang harus selalu memperhatikannya dan tak boleh mengharapkan imbalan sedikit pun yang sebenarnya sangat kuinginkan: perhatian dan kasih sayangnya.

Bahwasanya kehidupan yang selama ini kujalani tidaklah begitu menyenangkan sehingga aku berharap seseorang datang mengeluarkanku dari ketidakpastian yang menjemukan ini.

Namun atas dasar apapun, aku, wanita, pada akhirnya tetap harus melalui ketentuan. Aku harus siap setiap kali suamiku membutuhkanku. Aku harus tetap mengurus rumah tangga. Aku harus tetap melakukan semua kewajiban meski suamiku bahkan telah lupa bahwa dia pun harus juga melakukan kewajibannya.

Bahkan akupun harus rela menerima cacian tatkala kutemukan kedamaian dan cinta dari pria lain yang mampu menunjukan kasih sayang sesungguhnya. Ia adalah pria yang bersedia mendekapku di kala aku lelah dan sedih. Ia adalah yang menasehatiku di kala aku melakukan kesalahan.

Bukanlah ia yang membiarkan aku lelah dan sedih. Bukanlah ia yang bahkan tak tahu betapa cantiknya aku, betapa berharganya aku. Bukanlah ia yang memarahi dan menamparku saat aku melakukan kesalahan. Bukanlah ia yang selalu marah dan beringas saat problema melanda.

Kekasih adalah jiwa terindah yang pernah tercipta setiap dekapnya janjikan kedamaian tuturnya adalah untaian cinta dan kelembutan dan semua tentangnya adalah lukisan indah tentang kebahagiaan Dan aku terpasung pada dinding sepi yang mendingin gelap bertaut di setiap relung mengiris dan merambati dinding hati kemudian aku terhempas dalam bimbang dan keputusasaan.

Namun berapa banyak pun perempuan yang menjadi mainan atau bahkan menjadi maduku, maka tak boleh sedikitpun bagiku untuk menerima dan memberi bahkan hanya untuk satu cinta yang lain. Semua perasaan itu harus kuredam karena terbentur oleh norma yang mengikat.

Aku tak butuh orang membenarkan perkataanku. Aku tak butuh justifikasi atas apapun atas apa yang kulakukan. Aku hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama orang yang kucintai, bersama orang yang rela menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.

Dan andai saja tak ada norma apapun yang mengikat, andai saja aku hidup di negri dongeng, negeri angan dan khayal, maka dengan mudahnya aku akan memilih jalanku untuk hidup bersama kekasih dalam kebahagiaan. Dan aku selalu menunggu tibanya kebahagiaan. Mungkinkah ??

***

Cerpen: Atas Nama Cinta, Atas Nama Kesetiaan

Cerpen Atas Nama Cinta, Atas Nama Kesetiaan

ATAS nama Cinta, atas nama kesetiaan dan kasih sayang. Demi tuhan, semua itu telah membelengguku begitu erat. Tanah basah itu perlahan mengering. Rumput dan pucuk-pucuk hijau menguning. Pohon-pohon meranggas dan alam mengerang setiap kali perputaran musim berganti. Namun aku tak bergeming, tetap mematung dalam belenggu cinta dan kesetiaan.

Tanah basah lagi, tanah kering lagi. Rumput hijau lagi, rumput menguning lagi. Alam meradang. Perputaran waktu telah mencekik leher dan menyeretnya kedalam lingkaran ketuaan. Kulitnya semakin mengerut dan wajahnya kusam. Rumput dan pucuk-pucuk telah berganti beberapa generasi.

(Beberapa pinangan datang, namun semua berujung penolakan. Dan pinangan pun pulang sia-sia, namun aku merasa tegar. Dengan senyum kemenangan kukatakan : Atas nama cinta, atas nama kesetiaan).

Atas nama cinta dan kesetiaan. Aku terbelenggu, tanganku terikat, dan kakiku terpasung dalam kesetiaan. Badanku semakin membesar dan tambun. Orok dalam rahimku menendang dan menerjang-nerjang. Sesaat dia menggeliat, kemudian diam. Aku menarik nafas lega.

Aku teringat pada malam-malam terkutuk yang menyeretku pada kenistaan ini. Udara dingi, alam senyap, pekat memukat malam.

“Rebahlah disampingku, Dik. Aku akan menitipkan cinta ini padamu,” ujarnya saat itu.

“Tapi… apakah yang aku kita lakukan ini benar?” tanyaku ragu.

“Tentu saja. Kita saling mencintai. Lantas apa lagi?” ujarnya menenangkanku.

Aku membenarkan perkataannya. Aku tak berkutik. Dan aku tak menolak saat tangannya melucuti kain yang kupakai satu persatu dan kemudian tubuh kekarnya menindihku. Semua itu, setiap gerakan tubuhnya dan juga penerimaanku, kujabarkan sebagai arti cintaku dan cintanya. Aku diam, atas nama cinta, atas nama kesetiaan.

Malam yang indah itu berlalu. Kemudian kutemui malam-malam indah lainnya. Seperti sebelumnya, gulitanya alam pun terlewati dengan penuh gairah. Beberapa adegan percintaan dan kisah romantis tercipta dan terukir menjadi sekelumit sejarah dalam kehidupanku.

Dan setiap suatu malam berujung, aku memulai lagi dengan malam yang baru, dengan adegan cinta yang baru, namun dengan gelora yang tetap membara. Lagi. lagi, dan lagi.

Aku tak perduli pada malam yang mengingatkanku. Aku tak malu pada dinding yang menunduk sendu, pada tanah malam yang basah, pada udara yang meneteskan embun-embun pagi. Aku tak perduli, aku tak merasa malu. Atas nama cinta, atas nama kesetiaan.

Dan bahkan, saat mereka mengingatkanku, dengan lantang aku berteriak.

“Persetan dengan petuah dan nasihat kalian. Matilah. Aku berada pada jalanku,” ucapku penuh kemarahan. Semua atas nama cinta, atas nama kesetiaan.

“Tunggulah aku, Dik. Aku akan kembali suatu saat. Telah kusemaikan benih di rahimmu, pertanda aku akan kembali. Karena itu, setialah padaku, dan waktu akan menguji kesetiaanmu,”

Dengan lugu, aku pun mengangguk. Sompret! Kenapa aku bisa sebego itu?

Demi Tuhan. Cinta itu telah mengekangku. Kesetiaan telah membelengguku. Dan kenistaan mengiringiku. Kecaman datang bertubi-tubi. Mulut-mulut nyinyir menusukku. Sinar mata penuh jijik menamparku berulang-ulang. Aku tertunduk. Rasa malu menggelayut. Perih mengiris-iris.

“Hhhh…” Desah penuh kebingungan keluar dari mulutku. Dadaku tersa sesak dan berat. Orok semakin gencar menendang-nendang perutku. Aku meringis. Atas nama cinta, atas nama kesetiaan. Shit!

Demi malam yang kutaburi dengan kenistaan. Demi perbuatan terkutuk yang kulakukan. Demi cinta dan kesetiaan yang begitu keagungkan. Lihatlah: aku terduduk lesu, terpuruk dalam belenggu cinta dan kesetiaan. Namun, kenapa cinta itu tak memperdulikanku sama sekali? Kenapa ia tak menoleh pada apa yang kusebut dengan pengorbanan?

Pengorbanan yang membelengguku dalam kata kesetiaan, hingga aku tak boleh berpaling; pengorbanan yang menggantungku pada kenistaan seumur hidup; pengorbanan yang membuat kecaman dan mulut nyinyir itu mencabikku. Apakah cinta dan kesetiaan itu adalah ayat-ayat yang harus selalu kuagungkan? Keparat!

Tanah basah lagi, tanah kering lagi. Aku masih tertunduk, merenda penyesalan. Kabar darinya tak kunjung datang, cinta pun tak menyapa. Hanya aku yang terkubur dalam kubangan kehinaan dan keputusasaan. Aku menggigil kedinginan. Aku berteriak kepanasan.

Tak ada yang peduli. Tidak juga dengan dirinya. Nadiku semakin melemah. Namun orok itu semakin menendang keras, pertanda bahwa ia semakin kuat, dan tak lama lagi lahir.

Atas nama cinta, atas nama kesetiaan. Ah…

***

Cerpen Singkat: Dara di Batas Usia

Cerpen Singkat Dara di Batas Usia

Dara berkulit gelap itu termenung dengan tangan kiri tertopang ke dagu. Mata lelahnya menerobos pekatnya malam dari balik gorden yang sedikit tersingkap. Desah kegundahan tak henti keluar dari mulutnya. Sesekali disekanya air mata yang menitik melintasi pipi yang memang tak mulus. Tak mulus memang. Namun pipi tersebut masih bisa merasakan kulit punggung tangannya yang kini mulai mengendur seiring dengan kerut penuaan yang menghiasi bagian wajah.

Malam semakin larut. Semilir angin hinggap di pucuk-pucuk yang kemudian bergoyang pelan. Dingin udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Sang dara meringis. Ada segaris rasa sakit mengiris seiring hembusan angin. Ada setangkup haru mengoyak kala udara malam mencengkram. Ringkih. Pilu.

Dalam nafas yang terhela setiap waktunya, ada doa yang selalu terpanjat, sebagaimana doanya saat itu, akan datangnya seorang pendamping hidup. Seperti menjadi rutinitas, jika alam mulai gelap, ia akan mengintip malam melalui celah gorden yang terbuka, menembus kepekatan diantara gigilnya alam.

Selalu ia berharap, ada rahasia alam yang terkuak di gelap malam, yang dapat memberinya jawaban tentang teka-teki atas penantiannya tersebut. Dan diantara gelapnya semesta, langit raya dan gemintangnya adalah hal yang paling ia rindukan.

Ada banyak kerlipan bintang disana. Sebersit harap kerap terlintas: satu dari ribuan kerlip cahaya tersebut akan jatuh melesat dengan pijaran cahayanya, yang kemudian muncul di hadapannya sebagai seorang pangeran yang datang dikhususkan untuknya. Datang sebagai seorang yang kemudian akan menemani dan menjadi pengisi kekosongan hatinya, menjadi penenang jiwanya yang gundah.

Namun sayang, bintang jatuh dan pangeran hanyalah dongeng belaka, hanya cerita khayal semata. Tak ada bintang jatuh, tak ada pangeran, dan tak ada pula pendamping baginya. Hingga kini, hingga batas usia bagi lazimnya perempuan dewasa untuk berumah tangga, belum juga ia mendapat belahan jiwa.

Empat puluh lima tahun. Ya, di usianya tersebut belum juga Tuhan memberkahinya jodoh. Cukuplah usia setua itu bagi seorang perempuan untuk mempunyai suami dan menimang dua atau tiga orang anak. Sebagaimana kawan-kawannya, kerabatnya, dan bahkan dua adik perempuannya yang sudah menikah melangkahinya.

Dan tadi siang, tepat di tengah hari yang menyengat, adik bungsunya dengan ragu-ragu memberitahu dan meminta izin untuk melangkahinya pula. Sejenak ia terdiam, menatap sang adik yang menunggu dengan kepala tertunduk. Akhirnya ia mengangguk juga. Sang adik bersuka ria yang kemudian memeluknya penuh dengan kegembiraan.

Air mata merembes, membasahi kelopak dan sudut-sudut matanya. Sang adik melepaskan pelukan, mundur perlahan, dan menatapnya dengan haru biru. Kata maaf terlontar dari mulut sang adik. Namun kemudian ia berujar.

“Tak perlu meminta maaf. Tangis ini adalah tangis bahagia untukmu, bukan tangis kesedihan,” Ucapnya. Namun percayalah! Hatinya saat itu meleleh, seperti melelehnya es krim di tangan keponakannya yang terbakar matahari siang tadi.

Sungguh pilu hidup tanpa seorang pendamping. Tak ada tempat untuk mengadu, tak ada penghibur di kala sendu. Dan seperti kebiasaan wanita tanpa pendamping, ia pun sibuk digunjing, menjadi buah bibir orang sekeliling. Dilempar ke sana kemari tak ada henti-hentinya.

Dirinya seolah menjadi cerita menarik yang seperti tak akan pernah usai. Cerita tentang perempuan yang akan tetap menjadi perawan karena tak menikah.

Dulu sewaktu umurnya masih belia dan pipinya masih ranum, beberapa pria ingin mempersuntingnya. Mereka datang dengan berbagai macam janji dan buah tangan. Ada yang datang dengan uang dan perhiasan. Ada yang datang dengan gelar dan kedudukan.

Pun ada yang datang dengan sebongkah cinta yang konon katanya bongkahan tersebut bisa berkuasa atas segalanya. Janjipun terburai dari mulut mereka. Ada yang menjanjikan gunung mas. Ada yang menjanjikan takhta dan kejayaan. Dan pula ada yang menjanjikan lautan cinta dengan romantisme buta di dalamnya.

Namun tak satupun dari mereka mampu menggoyangkan apalagi meruntuhkan hatinya. Ia memandang mereka dengan mata terpicing. Sebuah keyakinan dipegangnya kuat bahwa ini zaman modern di mana seorang wanita akan mampu hidup sendiri setidaknya sampai semua mimpi dan angannya terkejar.

Semua pinanganpun terpental, tak sanggup menembus dinding baja yang melingkupi hatinya. Dan sang dara terus berlari mengejar puncak kehidupan yang sebenarnya tak lebih dari sebuah fatamorgana. Ia meninggalkan semua di bawahnya dan tersenyum penuh kemenangan saat mencapai puncak mimpi.

Detik bergulir, masa berselang. Beberapa letusan pesta kembang api di pergantian tahun telah berulang-ulang berlalu melewatinya. Lambat laun kulitnya mulai mengendur dan penglihatannya merabun. Saat ia sadar, ia mendapati tak seorangpun di sekelilingnya.

Kawan-kawan dan kerabat telah menjauh dan sibuk dengan urusan keluarga masing-masing. Pria pun sepertinya tak ada lagi yang tertarik padanya. Tak ada apapun dan seorang pun ia miliki kecuali sepi yang menikam. Seperti sepinya ubun-ubun malam yang kini selalu ia lalui dalam sesal dan penantian.

***

Cerpen Romantis Sedih: Dari Balik Tirai

Cerpen Romantis Sedih Dari Balik Tirai

 

Di seberang sebuah hotel, saat matahari tertutup awan.

Wanita itu bersimpuh pada jalanan yang becek. Tangannya mempermainkan sisa-sia hujan tadi malam. Rambut kusutnya beriap diterpa angin pagi hingga tampak jelaslah wajah rupawannya.

Sebuah longdress kumal membalut tubuh sintalnya yang kotor. Namun sobekan di beberapa bagian membuat kulit putihnya jelas terlihat. Ia nampak tertegun tatkala seorang pejalan kaki melemparkan kepingan uang receh padanya.

Ditatapnya orang tersebut dengan bibir komat-kamit layaknya sedang melafalkan do’a atau mantra. Mungkin ia mengucapkan terima kasih atau mungkin juga berusaha menyapa dan mengajak berbincang-bincang pada pejalan kaki tersebut, karena di hari sepagi itu belum ada seorang pun yang bisa ia ajak bicara kecuali tetasan-tetesan air hujan yang masih menggenang.

Bahkan mataharipun seakan enggan untuk sedikit beramah-tamah dan menghangatkan alam. Ia tetap bersembunyi dibalik awan hitam yang sejak semalam menggayuti.

“Bukan, bukan,” bisiknya sambil menatap pejalan kaki tersebut. Ia pun segera menundukkan wajah sambil terus mempermainkan genangan air dengan jari-jari tangannya.

Sebuah mobil mewah berhenti di halaman parkir hotel tersebut, dan tampaklah seorang pria dan wanita berjalan menuju pintu hotel.

Ia mengangkat wajah dan memandang kedua insan tersebut. Namun kemudian ia menggelengkan kepala dengan dahi mengkerut.

“Bukan, bukan,” gumamnya. Wajahnya kembali menunduk.

Hari beranjak siang. Hotel mulai ramai oleh para pengunjung dan jalan dipenuhi oleh kendaraan dan para pejalan kaki. Ia segera menegakkan wajah dan matanya meneliti satu persatu dari setiap orang yang dilihatnya.

“Ah, bukan. Tak ada satupun. Tak ada..,” ucapnya lesu. Wajahnya menampakkan kekecewaan namun matanya tetap meneliti. Ia sama sekali tak mempedulikan kepingan-kepingan uang receh yang berhamburan di hadapannya, yang dilemparkan oleh para pejalan kaki

Matahari semakin meninggi dan membakar kulit. Awan hitam musnah seketika. Kesibukan kota siang itu mulai terlihat seperti biasanya. Kendaraan berlalu lalang menebar asap yang menyesakkan. Deru bis kota bersahutan dengan teriakan pengamen yang menyuguhkan tembang-tembang. Para pedagang kaki lima dan kedai-kedai makanan di penuhi pembeli. Harum makanan menggelitik hidung, membuat perut keroncongan di siang hari bolong begitu.

Namun wanita tersebut seperti tak terganggu oleh suasana yang ada. Kedua matanya tetap memandangi dan meneliti para tamu hotel dan setiap orang yang lewat di hadapannya, namun berkali-kali pula ia menggelengkan kepala. Bibirnya terus berkomat-kamit dan sesekali tangannya menggaruk tubuh yang dihinggapi lalat dan nyamuk.

Ketika matahari telah bergulir ke sebelah barat, wanita itu tetap dalam penantian. Raut mukanya terlihat resah. Desisan sesekali terdengar dari mulutnya yang kadang diselingi oleh cipratan ludah.

Hingga warna jingga membayangi langit dan kemudian matahari perlahan mulai tenggelam, kedua matanya masih tetap meneliti dan mencari-cari. Ia tak beranjak dari tempat itu kecuali saat mengais sisa makanan dari tong sampah.

“Dia… mana dia? Mengapa tak datang juga? Kemanakah dia?” Bibir keringnya bergumam. Tangannya mengusap wajah pucatnnya. Matanya dengan nanar memandang orang-orang yang masih tersisa di penghujung hari. Lesu, lelah, putus asa….

Akhirnya dengan lemas ia merebahkan tubuh dan dengan segera matanya terpejam. Rambut kusamnya menutupi wajah dan bagian dada yang sedikit terbuka. Sisa-sisa makanan yang tadi ia dapat dari tong sampah berceceran di sampingnya.

Namun ia tak peduli. Ia tertidur dalam rasa lelah dan penat, beralaskan bumi, beratapkan langit, dan berselimutkan udara malam gemintang berkelip, mengucapkan selamat malam padanya.

***

Di malam itu, di sebuah kamar hotel yang temaram, dua jiwa berpadu rindu, dua raga bertaut dalam cumbu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu pun mereka lewati dengan penuh gairah.

Beberapa adegan percintaan dan beberapa kisah romantis tercipta dalam beberapa malam di kamar itu, dan terukir menjadi sekelumit sejarah dalam kehidupan mereka.

Dan setiap suatu malam berujung, mereka mulai lagi malam yang baru, dengan kisah cinta yang baru, namun dengan gelora yang tetap membara. Seperti halnya malam ini, keduanya terbuai keindahan yang tak berujung.

“Roy..,” terdengar bisikan seorang wanita.

“Hmmm..?” gumam sang peria.

“Apakah yang kita lakukan ini benar?” Tanya wanita tersebut lirih.

“Tentu saja. Kita saling mencintai. Lantas apa lagi?” jawab si peria.

“Tapi, benarkan kau akan bertanggung jawab dan menikahiku?” bisik wanita tersebut.

“Menikahimu? Tentu saja. Tapi sementara, kita nikmati saja yang ada. Kau mencintaiku, aku mencintaimu, itu sudah cukup bagi kita,”

“Tapi… aku ingin secepatnya. Aku ingin kau segera menikahiku,” suara wanita itu terdengar resah.

“Kenapa?”

“Karena… karena aku telah berbadan dua. Benih yang telah kau semaikan di rahimku ini telah tumbuh,”

“Apa?” Tanya pria itu dengan nada terkejut.

“Ya, aku hamil dan aku sangat bahagia. Bukankah kau pun begitu? Bukankah kau pun bahagia?” di balik temaramnya lampu, sekilas terlihat wajah riang wanita tersebut.

Pria itu diam. Pikirannya berkecamuk. Wajahnya berubah pucat dan jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin perlahan membasahi dahi.

“Kenapa diam? Bukankah kau pun bahagia?” ulang wanita tersebut sambil memeluknya erat.

“Ya… ya, aku bahagia.” ucap peria tersebut dengan suara bergetar. Wanita itu tersenyum senang. Namun ia tak menangkap getaran pada suara kekasihnya.

***

Roy memarkir mobilnya di tempat biasa, di depan sebuah hotel di mana ia sering menghabiskan waktu. Tempat di mana ia menikmati dan menjalani hidup sebagaimana adanya tanpa banyak terbebani. Ia menikmati hidupnya sebagaimana ia menikmati berbagai tubuh indah yang berhasil masuk dalam pelukannya.

Saat itu, dari seberang sana, sepasang mata tampak memperhatikannya. Mata itu terbeliak dengan wajah tegang. Kemudian sesaat menyipit dengan kening berkerut. Namun lagi, mata itu terbeliak. Hal itu terjadi berulang-ulang. Mimik wajahnya pun berubah-ubah mengiringi gerakan mata.

Roy membuka pintu mobil dan tangannya menyambut tangan kekasihnya. Sebuah senyum yang memikat dilemparkan Roy saat membuka pintu mobil. Dengan sedikit membungkuk dan seulas kecupan di tangan sang kekasih, Roy mempersilahkan kekasihnya turun.

Sepasang mata itu kembali terbeliak. Digosoknya mata itu dengan tangannya untuk meyakinkan apa yang sedang dilihatnya. Tiba-tiba ia berdiri. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan meyeberangi jalanan yang ramai menuju halaman parkir hotel. Bibirnya meringis kesakitan tatkala ia rasakan perut buncitnya bergerak.

“Roy…Roy,” bibir keringnya berteriak.

Roy, yang sedang menggandeng kekasihnya dengan penuh cinta, menghentikan langkah dan menoleh seketika. Dilihatnya seorang wanita dengan langkah tertatih-tatih menghampirinya. Pakaiannya kumal dan tubuhnya menebar bau busuk. Kedua tangan wanita itu memegangi perut buncitnya.

“Siapa dia?” Tanya gadis di samping Roy sambil menutupi hidung dengan tangannya.

“Tau! Orang gila kayaknya,” jawab Roy.

“Tapi, kenapa dia tahu namamu?” gadis itu bertanya lagi. Roy menggedikan bahu dan segera berbalik arah. Namun sebuah tangan meraihnya.

“Roy, aku Lina. Aku menunggumu lama sekali. Bayi kita akan segera lahir,”ujar wanita itu dengan wajah memelas.

“Aku tak mengenalimu, dasar orang gila! Pergi sana, badanmu bau busuk,” Roy menepis tangan itu dengan jijik.

“Satpam, tolong singkirkan orang gila ini. Mengganggu saja,”teriaknya pada satpam.

“Hush… pergi sana. Dasar orang gila,” usir satpam sambil memamerkan pentungannya. Wanita itu pergi dengan tubuh terseok-seok.

***

Wanita itu menyandarkan tubuh pada sebuah pohon besar. Wajahnya kusam dan kotor dengan bibir kering pecah-pecah. Sang bayu mempermainkan rambut panjangnya yang kusut dan sesekali membuat longdress kumalnya tersingkap. Kaki yang telanjang terlihat kotor dan pecah-pecah. Kulitnnya nampak diselimuti debu dan daki yang bertumpuk yang semuanya itu menebar bau tidak sedap.

Bibirnya komat-kamit dan sesekali kepalanya menggeleng. Tangannya menunjuk-nunjuk dan kadang membentak setiap orang yang lewat di depannya. Derai tawa kerap keluar dari mulutnnya yang dipenuhi busa ludah.

Langit gelap, kilat menyambar, halilintar menggelegar. Tak terelakkan, air hujan mengucur dengan derasnnya, membasahi setiap benda yang berada di bawahnya.

Wanita itu berdiri tegak dengan wajah menantang langit. Kedua tangannya terentang keatas. Rambut panjangnya beriap mengikuti arah sang bayu. Derai tawa, yang sebenarnnya mirip lengkingan, keluar dari bibir mengiringi gemuruhnya air hujan.

Di seberang sana, dari balik tirai pada sebuah kamar hotel yang hangat, sepasang mata memperhatikannya.

“Tunggulah, seseorang akan segera menyusulmu dan kau tidak akan sendirian lagi,” gumamnya sambil menoleh pada tubuh indah di atas ranjang yang sedang tertidur lelap. Kemudian ia tersenyum aneh, senyum penuh misteri.

Cerpen Romantis Sedih

***

Itulah beberapa cerpen singkat dan menarik yang dapat kami berikan. Dari contoh cerpen di atas, kita dapat mengambil pelajaran hidup sehingga tidak gegabah dalam mengambil keputusan yang hanya mengikuti hawa nafsu sesaat. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar