Cara Ternak Ayam Broiler

Ayam broiler adalah salah satu jenis ternak ayam yang mudah dipelihara, paling cepat pertumbuhannya, dan murah biaya pemeliharaannya. Dalam waktu singkat, daging ayam broiler bisa segera dipasarkan dan dikonsumsi. Broiler adalah ayam penghasil daging yang berkualitas dan bisa dipasarkan pada usia 6-9 minggu.

Jadi, broiler adalah istilah untuk menyebut jenis ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhannya cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada usia relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak.

Ada beberapa cara ternak ayam broiler (pedaging) yang perlu diperhatikan bagi seorang pemula yaitu sebagai berikut:

  1. Lokasi kandang;
  2. Pemilihan bibit;
  3. Pemberian pakan;
  4. Cara pemeliharaan;
  5. Panen, dan
  6. Sanitasi hama kandang.

Baca penjelasan tiap-tiap bagian di atas, selengkapnya melalui penjelasan di bawah.

Sukses beternak ayam broiler pedaging
Ayam broiler pedaging.

Di Indonesia, ayam broiler biasa disebut sebagai “ayam potong” atau “ayam pedaging”.

Beternak ayam broiler bisa dilakukan dengan modal besar maupun kecil, sebagai usaha pokok maupun sambilan. Usaha ayam broiler bisa ditangani oleh tenaga kerja keluarga dan areal yang dibutuhkan tidak begitu luas. Untuk itu, banyak orang berminat beternak ayam broiler.

Karena ayam broiler bisa berkembang biak dalam waktu yang sangat singkat, maka peternaknya bisa untung yang berlipat-lipat. Bahkan, banyak peternak ayam broiler yang asalnya kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan menjadi kaya raya.

Pemasaran ayam broiler terbilang mudah, karena sangat banyak orang yang mengonsumsinya. Rumah-rumah makan dari yang berskala kecil, menengah, dan besar adalah salah satu konsumen rutin ayam broiler.

Daging ayam broiler mengandung gizi yang lumayan tinggi, sebagai salah satu sumber protein dan vitamin. Karena memiliki nilai gizi, nilai kesehatan dan nilai ekonomi yang tinggi, maka ayam broiler sangat layak untuk dibudidayakan.

Kandang Ayam Broiler

Faktor iklim harus diperhitungkan dalam pembuatan kandang ayam broiler, sehingga tingkat kenyamanan ruangan kandang bisa tercapai.

Hal-hal yang perlu diperhitungkan dalam pembuatan kandang adalah: suhu, kelembapan udara, pengaturan udara (ventilasi) dan seberapa besar tingkat radiasi panas matahari yang masuk. Ruangan kandang sebaiknya mempunyai suhu udara kira-kira 26°C.

Kandang Ayam Broiler
Kandang ayam broiler.

Atap Kandang

Kita sebaiknya memilih bahan atap kandang yang memiliki daya serap rendah terhadap panas, hal ini bertujuan agar bisa mendukung indeks kenyamanan yang direncanakan.

Bahan atap yang memiliki warna muda adalah salah satu alternatif yang pantas dipilih, karena warna muda mempunyai daya serap panas yang relatif rendah.

Ventilasi Kandang

Ventilasi kandang ayam harus baik. Pertukaran udara yang berlangsung terus-menerus tentu memunculkan suasana segar bagi ayam broiler yang dikandangkan. Ventilasi yang baik bisa mengalirkan oksigen yang dibutuhkan dan mengeluarkan karbondioksida.

Perencanaan ventilasi harus memperhitungkan kapasitas kandang dan oksigen yang tersedia. Setiap 1 ekor ayam yang beratnya 1 kg minimal membutuhkan oksigen 739 ml/jam dan dalam waktu tersebut sekurang-kurangnya 711 ml karbondioksida dikeluarkan.

Bila ayam dalam kandang aktif bergerak, maka kebutuhan oksigennya meningkat hingga tiga kali lebih besar. Jika suhu dalam ruang kandang naik dan kelembaban udara di atas batas kenyamanan, maka ayam bisa megap-megap, banyak minum, dan nafsu mengonsumsi makanan berkurang.

Kandang yang terlalu luas tanpa didukung kecepatan angin yang cukup akan menyebabkan sirkulasi udara di dalam kandang kurang baik.

Untuk itu, kandang perlu dipersempit dan diperpendek atau kita bisa menggunakan kipas angin untuk memacu pertukaran udara yang lebih baik.

Angin yang terlalu cepat juga kurang efektif untuk menjamin pertukaran udara dalam kandang. Untuk itu, kecepatan angin perlu dikendalikan dengan membuat ventilasi silang.

Kandang Sistem Lantai

Kandang ayam broiler sistem lantai

Kandang sistem lantai secara umum menjadi pilihan pertama para peternak broiler, karena memiliki berbagai kelebihan. Keuntungannya adalah lebih mudah, lebih murah, terutama di lokasi peternakan yang banyak diperoleh bahan alas lantai, seperti kulit gabah dari sisa penggilingan beras.

Namun, sanitasi kandang sistem lantai harus lebih baik dan lancar. Kelemahan kandang sistem ini justru timbul dari lantai yang basah. Alas lantai harus diaduk-aduk secara teratur dan ditambah ketebalannya.

Bila alas kandang kurang baik untuk menyerap air, maka ruangan kandang mengalami kelembaban terus-menerus, sehingga mengganggu pertumbuhan ayam broiler.

Jika tingkat kebasahan sudah sulit dikendalikan, maka alas kandang harus diganti. Alas kandang yang basah akan meningkatkan kadar amonia dalam kandang. Kadar amonia yang tinggi bisa menyebabkan ayam terserang penyakit.

Agar kadar amonia dalam kandang menjadi rendah, kita bisa menggunakan bahan alas lantai yang dicampur dengan pasir dan kapur, dengan perbandingan 3 : 1 : 1. Pasir berfungsi menyerap kebasahan, sedangkan kapur berfungsi menetralisasi amonia.

Kandang Sistem Panggung

Kandang Ayam Broiler Sistem Panggung

Pengelolaan ayam broiler dalam kandang sistem panggung sangat efisien. Kandang ini tidak membutuhkan alas lantai kandang.

Secara ekonomis, biaya pembuatannya memang lebih mahal daripada kandang sistem lantai, tetapi untuk peternakan yang sulit mencari alas, lantai kandang sistem panggung merupakan pilihan utama. Keuntungan yang diperoleh bisa dilakukan secara terpadu.

Lantai panggung kandang bisa dibuat dari kayu-kayu pipih atau bambu yang di belah. Jarak antar bambu sebaiknya tidak lebih dari 1,75 cm agar ayam tidak terperosok atau terjepit dalam jeruji lantai.

Usaha ternak ayam broiler dengan kandang sistem panggung bisa dilakukan secara terpadu dengan usaha perikanan.

Dalam peternakan terpadu ini, usaha peternakan broiler dijadikan usaha pokok, sedang perikanan menjadi usaha sampingan, yakni memanfaatkan kotoran ayam yang terbuang atau makanan yang tercecer.

Pakan Ayam Broiler

Pakan Ayam Broiler

Kondisi lingkungan biasanya memengaruhi banyak-sedikitnya pakan yang dikonsumsi ayam broiler. Jika kondisi lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh atau terlalu dingin, maka ayam broiler akan mengonsumsi pakan lebih banyak untuk menjaga panas badannya.

Sebaliknya, bila suhu lingkungan terlalu tinggi, maka ayam broiler akan mengurangi jumlah pakan yang dikonsumsi, tetapi lebih banyak minum.

Bila ayam broiler diberi pakan dengan kadar protein dan energi tinggi, maka broiler akan mengonsumsi pakan dengan jumlah yang lebih sedikit.

Sebaliknya, bila pakan yang dikonsumsi memiliki protein tinggi dan energi rendah, maka broiler akan mengonsumsi pakan lebih banyak. Tetapi, biasanya, menu yang memiliki protein tinggi juga mempunyai kadar energi tinggi.

Pada pemeliharaan ayam broiler periode awal (1-5 minggu), sebaiknya diberi pakan yang mengandung protein tinggi dan energi rendah. Alasannya, dalam periode tersebut, broiler lebih suka menyimpan energi dalam bentuk protein.

Sebaliknya, pada pemeliharaan ayam broiler periode akhir (6-8 minggu), sebaiknya diberi pakan yang mengandung protein rendah dan energi tinggi. Alasannya, dalam periode tersebut, broiler lebih suka menyimpan energi dalam bentuk lemak.

Bahan baku pakan ayam broiler berdasarkan bentuk dan fisiknya bisa digolongkan menjadi empat, yaitu:

  1. Bahan baku pakan berbentuk butiran, seperti jagung, gandum, sorghum, dan lain-lain, yang merupakan sumber karbohidrat.
  2. Bahan baku pakan berbentuk tepung, seperti bekatul, dedak gandum, tepung tulang, tepung ikan, dan lain-lain, sebagai sumber protein dan karbohidrat.
  3. Bahan baku pakan berbentuk pipih, seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dan jenis bungkil-bungkilan lainnya sebagai sumber protein dan asam amino.
  4. Bahan baku pakan berbentuk cair, seperti minyak ikan, minyak kedelai, dan lain-lain sebagai sumber energi.

Cara Memelihara Ayam Broiler

Memelihara Ayam Broiler

Persiapan yang baik adalah modal pertama yang harus kita miliki sebelum mendatangkan bibit broiler yang berkualitas.

Yang mula-mula diperlukan adalah boks atau kandang kutuk (anak ayam). Untuk 100 ekor kutuk dibutuhkan boks berukuran 2 m². Boks kita letakkan 1 m di atas lantai kandang. Tirai plastik kita pasang pada keempat sisi boks, sedangkan bagian atas kita biarkan terbuka.

Lampu pemanas kita gantung 15 cm dari lantai boks. Lampu pemanas sebaiknya berkekuatan 100-125 watt untuk 100 ekor kutuk. Termometer untuk mengontrol panas bisa kita gantung atau kita ikat pada sisi boks. Usahakan pemanas secara konstan memberi temperatur 35°C atau 95°F.

Minggu Pertama

Pada minggu pertama, kutuk sedang mengalami tahap penyesuaian dengan tempat yang baru. Untuk itu, diperlukan pengawasan yang khusus.

Kutuk broiler yang baru dibeli, satu per satu dipindahkan ke boks dengan pemanas yang sudah disiapkan. Jangan diberi minuman dan makanan lebih dahulu, biarkan selama 25 menit mengenal lingkungan yang baru.

Sesudah mengenal lingkungan, kutuk boleh diberi minum air putih campur gula pasir. Perbandingannya adalah 20 gram gula pasir dan 4 liter air putih untuk 100 ekor kutuk.

Gunakan tempat minum ukuran 1 liter yang terdiri atas 4 tabung kecil untuk 100 ekor kutuk. Gula berperan sangat penting untuk mengembalikan kondisi kutuk selama dalam perjalanan.

Tabung air minum sebaiknya digantung sebatas kemampuan kutuk untuk mencapainya. Jika tabung air minum diletakkan di lantai boks, sering menyebabkan kecelakaan, seperti kutuk tercebur, air minum tercampur tinja sehingga kurang hegienis lagi, dan lain-lain.

Setelah puas minum, kutuk bisa diberi makanan yang diletakkan di lantai boks. Tempat makanan berbentuk baki dari plastik, terdiri atas 4 baki untuk 100 ekor kutuk. Agar tidak tumpah atau dikorek-korek, makanan sebaiknya diberikan secara bertahap.

Jatah pemberian makanan hari pertama sampai ketujuh adalah 13 gram per ekor atau 1,3 kg untuk 100 ekor per hari. Makanan sebaiknya berbentuk remah (crumbles). Makanan khusus kutuk ini bisa didapatkan di toko pertanian atau peternakan.

Pemeliharaan hari kedua masih sama seperti yang dilakukan pada hari pertama, tetapi air minum diganti dengan campuran air putih dengan antibiotik.

Pemeliharaan hari ketiga sama seperti hari kedua.

Pemeliharaan hari keempat sama seperti hari ketiga, tetapi ditambah vaksinasi ND yang pertama untuk imunisasi terhadap penyakit tetelo (ND).

Vaksinasi hanya dapat dilakukan terhadap ayam yang sehat. Tiga hari sebelum dan sesudah vaksinasi, air minum dicampur dengan antibiotika agar ayam bebas dari stres, baik sebelum maupun sesudah divaksin.

Vaksinasi ayam broiler usia 4 hari bisa menggunakan vaksin ND strain BI. Caranya, bisa dilewatkan air minum, bisa dilakukan melalui tetes mata atau tetes hidung, bisa juga lewat cara semprotan (spray). Yang paling praktis adalah melalui air minum. Alat dan bahan vaksinasi bisa diperoleh di toko pertanian atau peternakan.

Dua jam sebelum dilakukan vaksinasi, ayam jangan diberi air minum dulu agar haus. Dalam kondisi haus, air minum yang dicampur vaksin akan diminum oleh ayam secara cepat.

Tempat air minum yang akan digunakan untuk tempat vaksin sebaiknya dicuci bersih tanpa menggunakan disinfektan. Penggunaan disinfektan dapat memengaruhi efektivitas vaksin.

Untuk membuat larutan vaksin dianjurkan menggunakan air suling yang dapat dibeli di apotek atau poultry shop. Jika sulit didapat, bisa juga menggunakan air biasa yang bersih.

Caranya, larutkan vaksin dosis 100 ekor ke dalam campuran air suling/air bersih 950 cc dan 50 gram susu kental manis. Jumlah 1000 cc (1 liter) larutan vaksin dibagi untuk 4 tabung tempat minum, dan langsung diberikan kepada ayam yang telah dipuasakan (tidak minum) selama 2 jam.

Selama vaksinasi, usahakan air minum tidak terkena sinar matahari atau terlalu dekat dengan alat pemanas.

Sesudah dipakai, botol kemasan vaksin yang kosong sebaiknya dimusnahkan, dibakar atau direndam dalam larutan disinfektan. Bila larutan vaksin sudah habis terminum, segera tambahkan air minum yang segar. Vaksinasi pertama selesai.

Cara pemeliharaan ayam pada hari kelima hingga ketujuh sama persis dengan pemeliharaan pada hari ketiga.

Minggu Kedua

Pemeliharaan minggu kedua, meskipun masih memerlukan pengawasan, namun lebih ringan dibandingkan minggu pertama. Pemanas pada minggu ini masih diperlukan.

Tirai plastik salah satu penutup sisi boks bisa dibuka untuk memperlancar pertukaran udara. Pemanas bisa diturunkan temperaturnya menjadi 32°C atau 90°F dengan cara meninggikan gantungan lampu pemanas.

Berat badan ayam bisa ditimbang dengan sampel 10 ekor bersama-sama, kemudian dibagi 10 untuk memperoleh gambaran berat badan rata-rata.

Pertumbuhan normal minggu pertama untuk broiler yang dipelihara di lingkungan tropis harus mencapai berat 275 gram. Bila berat badan rata-rata melebihi 275 gram berarti pertumbuhan cukup baik.

Pada hari pertama minggu kedua yang perlu dilakukan adalah menambah jatah pemberian makanan dan minuman. Ayam sudah membutuhkan pakan 33 gram per ekor, jadi 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.

Tabung bisa ditambah menjadi 2 buah. Kebutuhan air minum pun bertambah menjadi rata-rata 5,7 liter per hari sehingga diperlukan 6 tabung kecil yang masing-masing diisi air minum kira-kira kurang sedikit dari 1 liter.

Pada hari kedua hingga hari ketujuh, cara pemeliharaan tetap sama dengan hari pertama.

Minggu Ketiga

Pemeliharaan pada minggu ketiga masih memerlukan alat pemanas. Ayam sudah lincah dan nafsu makan tinggi. Pertumbuhan bulu juga sudah baik sehingga dua tirai plastik penutup sisi boks bisa dibuka.

Temperatur diturunkan hingga suhu 29° C atau 85° F. Bola lampu bisa diganti 100 watt atau gantungan lampu agak ditinggikan. Berat badan ayam yang normal pada minggu kedua di lingkungan tropis adalah 483 gram per ekor. Bila berat badan rata-rata lebih tinggi, berarti pertumbuhan ayam cukup baik.

Pada hari pertama minggu ketiga, yang perlu dilakukan adalah menambah jatah pemberian makanan dan minuman. Ayam membutuhkan pakan 48 gram per ekor, jadi 4,8 kg untuk 100 ekor ayam. Kebutuhan air minum tiap hari rata-rata 7,6 liter.

Kaitannya dengan hal itu diperlukan tempat makan berbentuk tabung besar sebanyak 2 buah dan tempat minum tabung besar 4 buah dengan kapasitas 2 liter per tabung.

Sampai hari ketujuh, menu pakan dan minum serta porsinya sama dengan hari pertama. Cuma, pada hari kelima, air minum dicampur antibiotika. Sementara, pada hari ketujuh, ayam diberi vaksinasi ND yang kedua.

Vaksinasi ayam broiler yang berusia 21 hari menggunakan vaksin ND strain Lasota. Vaksinasi dilakukan melalui suntikan di bagian paha di bawah kulit.

Caranya, satu kemasan vaksin dosis 100 ekor ayam dilarutkan ke dalam 50 ml larutan garam faal (Na CI fisiologis) yang steril. Dosis penyuntikan per ekor ayam kira-kira 0,5 ml disuntikkan di atas otot daging.

Minggu Keempat

Pada minggu keempat, ayam broiler bisa dipindahkan ke kandang lantai atau kandang panggung. Pada minggu keempat, bulu ayam sudah lebat sehingga tidak diperlukan pemanas lagi. Pemindahan bisa dilakukan setelah melakukan vaksinasi ND kedua pada hari ketujuh minggu ketiga.

Berat badan ayam yang normal pada minggu ketiga di lingkungan tropis adalah 733 gram atau 0,733 kg per ekor. Bila berat badan rata-rata lebih tinggi, berarti pertumbuhan ayam cukup baik.

Pada minggu keempat ini, jatah makan dan minum ayam harus ditambah lagi. Ayam sudah membutuhkan pakan 65 gram per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor. Kebutuhan air minumnya rata-rata 9,90 liter sehingga diperlukan 4 tabung tempat makan dan 5 tabung tempat minum.

Nafsu makan ayam tergolong baik jika jatah makan yang diberikan tidak tersisa. Untuk itu, pada malam hari tidak perlu diberi penerangan. Dan sebaliknya, bila jatah makan tidak habis, ayam dianjurkan untuk diberi penerangan mulai jam 18.00. Penerangan dihentikan, jika jatah makanan telah habis.

Minggu Kelima

Pada minggu kelima, jumlah ransum yang dikonsumsi semakin banyak, begitu juga jumlah minumnya. Untuk itu, lantai kandang perlu diaduk setiap hari atau sering diganti dengan alas lantai yang baru.

Tanpa pengadukan dan penambahan alas lantai, lantai akan basah dan berdampak negatif bagi ayam broiler, khususnya disebabkan meningkatnya kadar amonia dalam kandang.

Berat badan ayam yang normal pada minggu keempat di lingkungan tropis adalah 1,033 kg per ekor. Bila berat badan rata-rata lebih tinggi, berarti pertumbuhan ayam cukup baik.

Pada hari pertama minggu kelima yang perlu dilakukan adalah menambah jatah pemberian makanan dan minuman. Ayam membutuhkan pakan 88 gram per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor.

Adapun, kebutuhan air minumnya rata-rata 12,90 liter sehingga diperlukan 5 tabung tempat makanan dan enam tabung tempat minuman.

Sama seperti pada minggu keempat, penerangan diperlukan jika jatah ransum masih tersisa dan dihentikan jika jatah pakan sudah habis. Hari kedua dan ketiga sama seperti hari pertama.

Pada hari keempat, pemeliharaan dilakukan sama seperti hari ketiga, tetapi untuk persiapan pemberian makanan broiler akhir, diperlukan penyesuaian bertahap 4 hari sebelumnya.

Jatah makanan masih tetap sama, tetapi dibagi menjadi dua-menggunakan makanan awal 80% dari jatah dan makanan akhir 20% dari jatah. Untuk jatah pakan 8,8 kg, berarti makanan broiler awal sebanyak 7 kg dan makanan broiler akhir 1,8 kg.

Selain itu, air minum ayam perlu dicampur dengan obat cacing untuk menyiapkan periode pertumbuhan yang pesat. Obat cacing cukup diberikan sekali saja dengan dosis sesuai aturan penggunaan merek obat cacing yang dibeli.

Pada hari kelima, pemeliharaan dilakukan sama seperti hari keempat, tetapi air minum tidak dicampuri obat cacing. Jatah makanan tetap sama, tetapi menggunakan makanan awal 60% dari jatah dan makanan akhir 40% dari jatah. Untuk jatah pakan 8,8 kg, berarti makanan broiler awal sebanyak 5,3 kg dan makanan broiler akhir 3,5 kg.

Pada hari keenam, pemeliharaan dilakukan sama seperti hari kelima. Jatah makanan masih tetap sama, tetapi menggunakan makanan awal 40% dari jatah dan makanan akhir 60% dari jatah. Untuk jatah pakan 8,8 kg, berarti makanan broiler awal sebanyak 3,5 kg dan makanan broiler akhir 5,3 kg.

Pada hari ketujuh, pemeliharaan dilakukan sama seperti hari keenam. Jatah makanan tetap sama, tetapi menggunakan makanan awal 20% dari jatah dan makanan akhir 80% dari jatah. Untuk jatah pakan 8,8 kg, berarti makanan broiler awal sebanyak 1,8 kg dan makanan broiler akhir 7 kg.

Minggu Keenam

Pada minggu keenam, ayam harus diawasi secara cermat dan rutin, khususnya bagi ayam yang akan dipasarkan pada akhir minggu keenam. Dengan pengawasan rutin dan program yang baik, ayam broiler bisa mencapai berat badan yang optimal.

Pengadukan lantai dan penambahan alas lantai masih tetap diperlukan. Selain itu, perlu dilaksanakan program penerangan tambahan pada malam hari.

Penimbangan berat badan rata-rata ayam broiler bisa dilakukan sebagaimana pada minggu kelima. Berat badan ayam yang normal pada minggu kelima di lingkungan tropis adalah 1,378 kg per ekor. Bila berat badan rata-rata lebih tinggi, berarti pertumbuhan ayam cukup baik.

Pada hari pertama minggu keenam yang perlu dilakukan adalah menambah jatah pemberian makanan dan minuman. Ayam membutuhkan pakan 117 gram per ekor atau 11,7 kg untuk 100 ekor.

Adapun kebutuhan air minumnya rata-rata 16 liter sehingga diperlukan 6 tabung tempat makanan dan 6 tabung tempat minuman dengan kapasitas 3 liter pertabung.

Program penerangan tambahan pada malam hari dianjurkan mulai jam 02.00 – 06.00 dengan

intensitas cahaya lampu 30 watt/20 meter persegi luas kandang. Untuk 100 ekor ayam broiler dengan kandang ukuran 3 x 4 m cukup dengan bola lampu 150-175 watt.

Pada hari kedua hingga hari ketujuh, perawatan sama seperti hari pertama.

Bila ayam broiler akan dipasarkan atau dipotong pada akhir minggu keenam, maka penerangan tambahan pada malam hari dianjurkan mulai jam 18.00-06.00. Jatah makanan ditambah 20% dari yang dianjurkan.

Cara-cara menangkap ayam yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Keluarkan dahulu alat-alat kandang sehingga memudahkan penangkapan.
  2. Penangkapan ayam hendaknya dilakukan pada malam hari.
  3. Penangkapan dilakukan dengan penerangan lampu pijar warna biru atau hijau.
  4. Hindarkan perlakuan kasar.
  5. Ayam sebaiknya diambil satu persatu dan pegang kedua kakinya.
  6. Tempatkan ayam yang ditangkap pada keranjang yang bertepi bulat.
  7. Isilah keranjang sesuai kapasitas, jangan terlalu padat.

Minggu Ketujuh

Cara pemeliharaan pada minggu ketujuh tidak jauh berbeda dengan cara yang dikerjakan pada minggu keenam. Pengadukan lantai dan penambahan alas lantai kandang masih harus dilakukan.

Penimbangan berat badan rata-rata ayam broiler bisa dilakukan sebagaimana pada minggu keenam. Berat badan ayam yang normal pada minggu keenam di lingkungan tropis adalah 1,500 kg per ekor. Bila berat badan rata-rata lebih tinggi, berarti pertumbuhan ayam lebih baik.

Pada hari pertama minggu ketujuh yang perlu dilakukan adalah menambah jatah pemberian makanan dan minuman. Ayam membutuhkan pakan 135 gram per ekor atau 13,5 kg untuk 100 ekor. Adapun kebutuhan air minumnya rata-rata 18,60 liter.

Program penerangan tambahan pada malam hari dianjurkan mulai jam 02.00-06.00 seperti minggu keenam.

Pada hari kedua hingga ketujuh, perawatan ayam dilakukan sama seperti hari pertama.

Minggu Kedelapan

Cara pemeliharaan pada minggu kedelapan tidak jauh berbeda dengan cara yang dikerjakan pada minggu ketujuh. Pengadukan lantai dan penambahan alas lantai kandang masih harus dilakukan.

Penimbangan berat badan rata-rata ayam broiler bisa dilakukan sebagaimana pada minggu ketujuh. Berat badan ayam yang normal pada minggu ketujuh di lingkungan tropis adalah 1,715 kg per ekor. Bila berat badan rata-rata lebih tinggi, berarti pertumbuhan ayam lebih baik.

Pada hari pertama minggu kedelapan yang perlu dilakukan adalah menambah jatah pemberian makanan dan minuman. Ayam membutuhkan pakan 148 gram per ekor atau 14,8 kg untuk 100 ekor. Adapun, kebutuhan air minumnya rata-rata 20,8 liter.

Program penerangan tambahan pada malam hari dianjurkan mulai jam 1800-2200 dengan intensitas cahaya lampu 40 watt/20 meter persegi luas kandang. Untuk 100 ekor ayam broiler dengan kandang ukuran 3 x 4 cm cukup dengan bola lampu 225-250 watt.

Berat badan ayam broiler yang normal pada usia 8 minggu adalah 2,112 kg. Jika ayam tidak mencapai berat tersebut, maka peternak perlu meneliti kembali hal-hal yang berkaitan dengan tata laksana, strain broiler, kualitas makanan, kenyamanan ruang kandang, dan sebagainya.

Peternak sebaiknya melakukan pencatatan dan pendokumentasian di sekitar perkembangan peternakannya yang kelak berguna sebagai bahan pertimbangan untuk memilih bibit, makanan broiler, kandang broiler, maupun perbaikan tata cara beternaknya.

Meningkatkan Kualitas Ayam Broiler

Meningkatkan Kualitas Ayam Broiler

Untuk memacu produktivitas dan meningkatkan kualitas ternak broiler, ada beberapa hal yang harus ditangani dengan baik. Berikut akan diuraikan sebagian di antaranya yang dianggap sangat penting.

Penerangan

Sistem penerangan yang tepat mempunyai pengaruh yang baik bagi pertumbuhan ayam broiler, yakni membantu meningkatkan performa ayam sampai masa pemasaran.

Kaitannya dengan hal itu, sinar matahari sebaiknya tidak masuk ruang kandang secara langsung agar temperatur tidak melonjak menjadi tinggi. Secara alami, sinar matahari sangat dibutuhkan oleh ternak dalam jumlah terbatas, terutama untuk mengubah 7 dehydrocolesterol ke dalam D3 aktif.

Selain itu, penggunaan penerangan tambahan pada malam hari mempunyai peranan untuk membentuk cholecalciferol, seperti halnya sinar ultra violet dari matahari.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam program penerangan:

  • Jangan memberikan penerangan tambahan dengan intensitas cahaya terlalu kecil atau terlalu besar selama masa pertumbuhan. Intensitas penerangan harus benar-benar proporsional dan sesuai kebutuhan ayam berdasarkan usianya.
  • Jangan mengurangi lama penerangan tambahan selama pertumbuhan.
  • Dua hari sebelum ayam broiler dipotong atau dipasarkan, sebaiknya diberi penerangan tambahan secara penuh, mulai pukul 18.00 – 06.00.

Sanitasi

Sanitasi dan penyakit mempunyai hubungan sebab akibat yang tidak terpisahkan. Sanitasi yang buruk bisa menimbulkan berbagai penyakit pada ternak broiler.

Dalam program sanitasi, fumigasi kandang secara berkala mempunyai arti penting. Dari segi teknis, fumigasi adalah usaha membebaskan kandang dari sumber penyakit, seperti jamur, parasit cacing, kuman, bakteri dan semacamnya.

Fumigasi tidak identik dengan penyemprotan disinfektans, karena disinfektans tidak bisa menyusup ke seluruh jaringan yang disuci-hamakan. Salah satu cara fumigasi adalah pemakaian gas beracun.

Gas beracun akan mencemari udara yang dipergunakan sebagai pernapasan kuman dan bakteri, sehingga kuman dan bakteri menjadi mati.

Beberapa fumigan yang sering dipakai untuk menyucikan kandang maupun gudang, di antaranya Acryonitrile, Carbon disulphide, Carbon tetrachloride, Chloropicrin, Dichloryos (DDVP), Ethylene dibromide, Ethylene dichloride, Ethylene oxide, Ethyl formate, Hydrocyanic acid gas, Methyl bromide, Methyl formate, Paradichlorobenzene, Phospine, Sulphuryl flouride, Trichloroethylene, dan lain-lain.

Di antara sekian banyak fumigan tersebut, salah satu yang cukup populer dan sering dipakai adalah Methyl bromide. Methyl bromide sangat efektif membunuh serangga, bakteri, kuman, dan mikro organisme seperti jamur. Fumigan ini tidak berwarna, tidak berbau, sukar terbakar, dan sulit larut dalam air.

Fumigan phospine atau hidrogen phospide (PH3) juga cukup populer di kalangan peternak. Dalam pasaran, fumigan phospine biasanya dikemas dalam kaleng. Satu kaleng berisi 16 tabung, masing-masing tabung berisi 30 tablet. Berat per tablet adalah 1,440 gram.

Cara memakainya: taruhlah 12 tablet fumigan phospine di atas kandang secara merata. Waktu yang dibutuhkan minimal 3 hari. Dinding dan sela-sela kandang harus ditutup rapat dengan kertas koran atau plastik agar fumigasi kandang berlangsung cukup sempurna.

Penyakit Ayam Broiler dan Obatnya

Penyakit Ayam Broiler

Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak ayam broiler akan coba diuraikan di bawah ini.

Penyakit Tetelo

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1926. Tetelo merupakan penyakit pernapasan pada ayam yang sangat ganas. Penyebabnya adalah virus, cara kerja dari virus ini adalah dengan menggumpalkan sel-sel darah merah.

Angka kematian cukup tinggi bagi ayam yang terkena penyakit ini. Ayam yang terserang penyakit tetelo akan memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Megap-megap kekurangan oksigen, batuk, bersin, dan ngorok.
  • Lesu dan nafsu makan berkurang, bahkan ayam tak mau makan samasekali.
  • Kotoran cair kehijau-hijauan atau kekuning-kuningan, kadang bercampur darah.

Penyebab:

  • Kontak langsung dengan ayam yang sakit, melalui kotoran, pakan, air minum, kandang, dan peralatan yang tercemar virus tetelo.

Pencegahan:

  • Vaksinasi ND dan menjaga sanitasi kandang yang baik.

Penyakit Alat Pernapasan Menahun

Penyakit ini menyerang ayam broiler bagian saluran pernapasan atas dan bawah, umumnya pada kantong udara ayam.

Ayam yang teserang penyakit ini akan memperlihatkan gejala-gejala, antara lain:

  • Batuk-batuk.
  • Hidung keluar cairan.
  • Ngorok.

Penyebab:

  • Mycoplasma gallisepticum (Mg), mycoplasma synoviae (MS), dan Escherichia coli (E.coli) yang berkomplikasi dengan bakteri atau virus sekunder lainnya.

Penyebaran:

  • Kontak langsung dengan ayam yang sakit, khususnya melalui pernapasan.

Pencegahan:

  • Mengelola sanitasi yang baik.

Penyakit Berak Kapur

Penyakit ini gampang menular, terutama sesama anak ayam. Anak ayam yang terserang penyakit ini akan memperlihatkan gejala-gejala, antara lain:

  • Anak ayam bergerombol di bawah alat pemanas.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Sayap terkulai.
  • Kotoran mencret warna putih.

Penyebab:

  • Bakteri salmonella pullorum.

Penyebaran:

  • Dari induk melalui telur tetas, sehingga merupakan tanggung jawab perusahaan pembibitan.

Pencegahan:

  • Mencari bibit ayam (kutuk) dari perusahaan pembibitan yang benar-benar terpercaya.
  • Mengelola sanitasi yang baik.

Penyakit Berak Darah

Penyakit ini tergolong ganas dan mudah menyebar di antara anak ayam.

Anak ayam yang terserang penyakit ini akan memperlihatkan gejala-gejala, antara lain:

  • Mengantuk.
  • Sayap terkulai.
  • Bulu kasar.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Kotoran cair bercampur darah.

Penyebab:

  • Protozoa eimeria Spp. yang menyerang saluran pernapasan.

Pencegahan:

  • Penyelenggaraan sanitasi yang baik.

Penyakit Bronchitis

Penyakit ini mudah menular, khususnya di antara anak ayam. Anak ayam yang terserang penyakit ini akan memperlihatkan gejala-gejala, antara lain:

  • Megap-megap.
  • Batuk.
  • Hidung keluar ingus.
  • Nafsu makan menurun.

Penyebab:

  • Virus yang berjangkit dalam saluran pernapasan, khususnya paru-paru.

Penyebaran:

  • Kontak langsung antara anak ayam dan peralatan yang tercemar.

Pencegahan:

  • Vaksinasi IB yang bisa dilakukan bersama dengan vaksinasi ND yang kedua.

Penyakit Avian Leukosis Complex

Penyakit ini termasuk kelompok penyakit yang sering menyerang ayam, meliputi: viceral lymphomatosis, neural lymphomatosis, ocular Iymphomatosis, dan osteopetrotic lymphomatosis.

Penyebab:

  • Virus tipe RNA.

Gejala pertama yang diketahui:

  • Viceral lymphomatosis; menyerang hati, ginjal, testis, ovary dan lympha. Warna hati ayam menjadi pucat dan membesar sampai empat kali ukuran normal.
  • Neural lymphomatosis; menyerang otot dan di bawah kulit dalam bentuk tumor. Ayam mengalami kelumpuhan pada sayap, kaki dan koordinasi kaki abnormal.
  • Ocularlymphomatosis; menyerang iris pada mata dan menyebabkan kebutaan, sehingga mata ayam berwarna seperti mutiara.
  • Osteopetrotic lymphomatosis; Menyerang tulang kaki ayam, sehingga terjadi pembesaran pada tulang sayap dan kaki.

Penyebaran:

  • Sering tersebar melalui telur tetas yang tercemar virus tipe RNA.

Pencegahan:

  • Mencari bibit ayam (kutuk) dari perusahaan pembibitan yang benar-benar terpercaya.
  • Penyelenggaraan sanitasi yang baik.

Penyakit Mareks

Ayam yang terserang penyakit ini gejala pertamanya mirip terkena penyakit avian leukosis komplex. Tetapi, penyakit ini berbeda dengan penyakit avian leukosis komplex.

Penyebab:

  • Virus tipe DNA.

Penyebaran:

  • Melalui ayam yang terserang dan lingkungan yang tercemar virus tipe DNA.

Pencegahan:

  • Pemberian vaksinasi mareks, pada umumnya sudah dilakukan oleh perusahaan pembibitan ketika anak ayam dikeluarkan dari mesin tetas.

Penyakit Aspergillosis

Penyakit ini pada umumnya menyerang anak ayam. Anak ayam yang terserang penyakit ini tingkat kematiannya tinggi.

GejaIa-gejala yang tampak:

  • Anak ayam sulit bernafas.
  • Nafsu makan berkurang.

Penyebab:

  • Jamur (fungus).

Penyebaran:

  • Melalui lantai kandang yang tercemar serta alas lantai yang berjamur.

Pencegahan:

  • Penyelenggaraan sanitasi yang baik.
  • Fumigasi kandang.

Penyakit Cacing Askaris

Penyakit ini merugikan secara ekonomis, karena menyebabkan pemborosan penggunaan makanan. Ayam yang terserang penyakit ini akan menampakkan gejaIa-gejala:

  • Pucat.
  • Kurus.
  • Sayap terkulai.

Penyebab:

  • Cacing askaris.

Penyebaran:

  • Melalui kotoran ayam yang mengandung telur cacing askaris.

Pencegahan:

  • Memberi obat cacing pada pemeliharaan minggu kelima.

Penyakit Gumboro

Penyakit ini pertama kali ditemukan di daerah Gumboro, Delaware, Amerika Serikat, pada 1957. Penyakit ini menyerang kelenjar pertahanan ayam, yaitu bursa frabisi yang terletak di bagian atas kloaka.

Ayam yang terserang penyakit ini akan menampakkan gejala-gejala:

  • Bulu tampak kusut.
  • Kotoran berwarna putih dan cair.
  • Nafsu makan berkurang.

Penyebab:

  • Virus yang umumnya menyerang ayam yang usianya kurang dari 3 minggu.

Penyebaran:

  • Melalui kontak langsung atau lewat makanan dan minuman yang tercemar virus gumboro.

Pencegahan:

  • Penyelenggaraan sanitasi yang baik.

Demikianlah panduan sukses cara ternak ayam broiler, semoga bermanfaat.

Source
Suhaeni, Neni. 2007. Petunjuk Praktis Beternak Ayam Broiler. Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia

Akmal Bahtiar

Menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, aktif menulis berbagai topik populer, seperti sains, sastra, dan hiburan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close