Pedoman Cara Penulisan Daftar Pustaka yang Benar

Daftar pustaka dari internet adalah salah satu elemen penting dalam sebuah karya ilmiah. Namun, banyak orang yang masih bingung cara menulis daftar pustaka dari internet. Mereka mengeluh dan menyatakan menyusun daftar pustaka adalah sesuatu yang rumit.

Mengingat hal tersebut, kami merasa perlu membahas cara menulis daftar pustaka dari internet di halaman tersendiri ini. Di halaman lain, kita juga sudah membahas contoh penulisan daftar pustaka dan hal-hal penting yang harus diperhatikan.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas masalah penulisan daftar pustaka ini dengan lebih terperinci. Di halaman ini kita tidak hanya membahas penulisan daftar pustaka dari internet, tetapi juga pustaka dari buku, majalah, dan surat kabar.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Internet

Selain dari media cetak (buku, majalah, surat kabar), acuan dalam penulisan karya ilmiah bisa diperoleh dari internet. Standar penulisan daftar pustaka dari internet biasanya berbeda antara satu instansi dengan instansi lain.

Meskipun demikian, ada ketentuan yang berlaku umum dalam penulisan daftar pustaka yang berasal dari internet, yaitu cara menulis unsur-unsur alamat situs web. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut.

  • Protokol (protocol). Unsur ini menunjukkan metode yang dipakai seorang web browser dalam bertukar data dengan file server tempat dokumen yang dicari. Jenis-jenis protokol yang populer adalah hypertext transfer protocol (http), hypertext transfer protocol secure (https), dan file transfer protocol (ftp). Penulisan protokol dalam daftar pustaka diikuti dengan tanda titik dua dan garis miring ganda.
    Contoh:
    http://
  • Nama host. Unsur ini menunjukkan server tempat file berada. Nama host tidak terikat pada keharusan ditulis dengan huruf kapital maupun huruf nonkapital. Agar konsisten dan mudah diingat, nama host sebaiknya ditulis dengan huruf nonkapital.
    Contoh:
    http://www.kompas.com
  • Lokasi file (directory path). Penulisan bagian ini harus mengikuti penulisan seperti aslinya, baik menyangkut penggunaan huruf kapital, huruf nonkapital, maupun tanda baca. Meskipun ada yang berpendapat bahwa bagian ini tidak harus dicantumkan dalam daftar pustaka, akan lebih baik jika Anda tetap mencantumkannya dalam daftar pustaka karena halaman depan (home pages) dan halaman menu (menu pages) lazimnya hanya memuat aneka tautan (link) dan hanya salah satu di antaranya yang menuju ke dokumen yang dicari.
    Contoh:
    http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1048/1/siapa di balik gayus?

Cara penulisan daftar pustaka dari internet sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penulisan sumber pustaka dari media cetak.

Unsur yang harus ditulis dalam daftar pustaka meliputi nama pengarang (jika tidak ada bisa ditulis Anonim), tahun dokumen (bisa tahun penerbitan, bisa tahun pembaruan alias update), judul dokumen, dan alamat situs web tempat dokumen tersebut dipungut. Ada juga yang mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun dokumen itu dipungut.

Urutan penulisan daftar pustaka adalah dimulai dengan nama penulis (sesuai ketentuan penulisan nama penulis dalam daftar pustaka) diikuti tanda titik. Setelah itu tahun yang juga diikuti tanda titik.

Selanjutnya judul artikel yang diapit oleh tanda petik dan diikuti dengan tanda titik. Baru alamat lengkap situs web yang dijadikan acuan (protokol, nama host, dan lokasi file) diakhiri dengan tanda titik. Jika keterangan tanggal saat mengakses dokumen tersebut ingin ditampilkan, tulis tanggal tersebut dan letakkan di bagian paling akhir.

Berikut contoh cara daftar pustaka yang bersumber dari internet.

  • Daryono, Yono. 2011. “Representasi Demokrasi dari Bahasa”. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/01/13/134440/ Representasi-Demokrasi-dari-Bahasa. Diakses pada tanggal 13 Januari 2011.
  • Latief, M. 2010. “Tiga Daya Tarik Kuliah ke China”. http://edukasi.kompas. com/read/2010/11/29/15310189/Tiga.Daya.Tarik.Kuliah.ke.China. Diakses pada tanggal 13 Januari 2011.
  • Santika, Prasiddha. 2011. “Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/01/13/inflasi-dan-pertumbuhan-ekonomi-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 13 Januari 2011.

Cara Menulis Daftar Pustaka dari Buku

Urutan penyebutan keterangan tentang buku dalam membuat daftar pustaka adalah:

  1. Nama pengarang,
  2. tahun terbit,
  3. judul buku,
  4. tempat terbit, dan
  5. nama penerbit.

Setiap penyebutan keterangan (kecuali penyebutan tempat terbit) diakhiri dengan tanda titik. Setelah tempat terbit diberi tanda titik dua.

Jika yang dicantumkan bukan nama pengarang, melainkan nama lembaga yang menerbitkan, urutan penyebutannya adalah

  1. nama lembaga/badan/instansi yang menerbitkan,
  2. tahun terbit,
  3. judul terbitan, dan
  4. tempat terbit.

Jika yang dicantumkan bukan nama pengarang dan nama lembaga yang menerbitkan, urutan penyebutannya adalah

  1. kata pertama judul buku/karangan,
  2. tahun terbit,
  3. judul buku/karangan secara lengkap,
  4. tempat terbit, dan
  5. nama penerbit.

Di bawah ini diuraikan penjelasan lebih rinci mengenai setiap butir pada penulisan daftar pustaka dari buku yang disebutkan di atas.

1. Penulisan Nama Pengarang

  • Nama pengarang ditulis selengkap-lengkapnya, tetapi gelar kesarjanaan tidak dicantumkan.
  • Penulisan nama pengarang dilakukan dengan menyebutkan nama akhir terlebih dahulu, baru nama pertama (first name). Nama akhir yang ditulis lebih dahulu itu dipisahkan dengan tanda koma dari nama pertama. Nama ini dipakai untuk menuliskan nama Barat dan nama Indonesia yang terdiri atas dua kata atau lebih.
    Contoh:
    – Pradopo, Rachmat Djoko.
    – Stanton, Robert.
    – Sugiarto, Eko.
    Aturan ini tidak berlaku jika nama pengarangnya adalah Tionghoa karena pada nama Tionghoa unsur nama yang pertama merupakan nama famili. Jadi, nama-nama Tionghoa di dalam daftar pustaka tidak perlu dibalik urutannya.
    Contoh:
    – Jong Jek Siang
    – Tan Sie Gie
  • Jika di dalam buku yang diacu yang tercantum nama editor, penulisannya dengan menambahkan singkatan Ed. di belakang nama. Cara penulisan singkatan Ed adalah diawali dengan huruf kapital, diakhiri dengan tanda titik, tidak digarisbawahi, tidak dicetak miring, diletakkan dalam tanda kurung dengan jarak satu ketukan dari nama editor.
    Contoh:
    Koentjaraningrat (Ed.)
  • Jika pengarang terdiri dua orang, nama pengarang pertama ditulis dengan mengikuti ketentuan pada butir b, yaitu nama akhir ditulis lebih dahulu (kecuali nama Tionghoa), sedangkan nama pengarang kedua dituliskan menurut urutan biasa (tidak dibalik). Di antara kedua nama pengarang diberi kata hubung dan (tidak digarisbawahi dan tidak dicetak miring).
    Contoh:
    Soemardjan, Selo dan Marta Susilo.
  • Jika pengarang terdiri tiga orang atau lebih, ditulis nama pengarang pertama saja dengan mengikuti aturan butir b. Setelah nama pengarang pertama, diikuti singkatan dkk (dan kawan-kawan) yang penulisannya tidak digarisbawahi dan tidak dicetak miring.
    Contoh:
    Mubyarto dkk.
  • Jika beberapa buku yang diacu ditulis oleh satu orang, nama pengarang disebutkan sekali saja pada buku yang disebut pertama. Selanjutnya, cukup dibuat garis sepanjang sepuluh ketukan (atau dengan pertimbangan estetis perwajahan) yang diakhiri dengan titik.
    Contoh:
    Pradopo, Rachmat Djoko.

2. Penulisan Tahun Terbit

  • Tahun terbit ditulis sesudah nama pengarang dan diakhiri dengan tanda titik.
    Contoh:
    – Pradopo, Rachmat Djoko. 1995.
    – Stanton, Robert. 1965.
  • Jika beberapa buku yang dijadikan acuan ditulis oleh satu orang pengarang dan diterbitkan dalam tahun yang sama, penempatan urutan didasarkan pada urutan abjad judul bukunya. Pembedanya adalah pada tahun terbit, yaitu dengan menambahkan huruf a, b, c sesudah tahun terbit dan ditulis tanpa spasi.
    Contoh:
    – Pradopo, Rachmat Djoko. 1997a.
    – _________________ . 1997b.
    – _________________ .1997c.
  • Jika beberapa buku yang dijadikan acuan ditulis oleh satu orang pengarang, tetapi tahun terbitnya berbeda, penyusunannya didasarkan pada umur tahun terbit (sesuai urutan tahun terbit).
    Contoh:
    – Pradopo, Rachmat Djoko. 1995.
    – _________________ . 1997.
  • Jika buku yang dijadikan acuan tidak menyebutkan tahun terbitnya, dalam daftar pustaka ditulis Tanpa Tahun. Penulisan kedua kata ini (Tanpa Tahun) diawali dengan huruf kapital, tidak digarisbawahi dan tidak dicetak miring.
    Contoh:
    – Giriputra, Kameswara (Ed). Tanpa Tahun.
    – Giritirta, Daneswara. Tanpa Tahun.

3. Penulisan Judul Buku

  • Judul buku ditempatkan setelah tahun terbit dan dicetak miring. Judul ditulis dengan huruf kapital pada awal kata (termasuk unsur ulangan), kecuali kata tugas dan diakhiri dengan titik.
    Contoh: Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.
  • Laporan penelitian, disertasi, tesis, skripsi, atau artikel yang belum diterbitkan, di dalam daftar pustaka penulisannya diapit tanda petik.
    Contoh:
    Sugiarto, Eko. 2003. “Si Taram Versus Syekh Wahab dalam Konteks Budaya Melayu: Konflik Internal Tokoh Sentral dalam Kasih Tak Terlarai Karya Soeman Hs”.
  • Penulisan judul artikel yang dimuat di dalam buku antologi (kumpulan karangan), surat kabar, atau majalah ditulis dengan mengikuti ketentuan butir b.
    Contoh:
    Sugiarto, Eko. 2001. ”Agama sebagai Tertuduh”.
  • Unsur-unsur keterangan, seperti jilid dan edisi, ditempatkan sesudah judul. Keterangan itu ditulis dengan huruf kapital pada awal kata (kecuali kata tugas) dan diakhiri dengan tanda titik.
    Contoh:
    – Syukur, Abdul. 1996. Cara Belajar Efektif. Jilid I.
    – Kiyosaki, Robert T. dan Sharon L. Lechter. 2000. Rich Dad Poor Dad. Alih bahasa J. Dwi Helly Purnomo.
  • Jika sumber acuan itu berbahasa asing, unsur keterangan diindonesiakan, seperti edition menjadi edisi, volume menjadi jilid.
    Contoh:
    Rowe, D. dan I. Alexander. 1967. Selleing Industrial Products. Edisi Kedua.

4. Penulisan Tempat Terbit dan Nama Penerbit

  • Tempat terbit sumber acuan (baik buku maupun terbitan lainnya) ditempatkan setelah judul dan keterangan judul (misalnya edisi, jilid). Setelah tempat terbit, ditulis nama penerbit yang dipisahkan oleh tanda titik dua dari tempat terbit dengan jarak satu ketukan. Setelah penyebutan nama penerbit, dibubuhi tanda titik.
    Contoh:
    Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Jika lembaga penerbit dijadikan pengarang (ditempatkan di urutan paling depan), tidak perlu disebutkan nama penerbitnya lagi.
    Contoh:
    Biro Pusat Statistik. 1963. Statistical Poocketbook of Indonesia. Jakarta.

Penulisan Daftar Pustaka dari Majalah

Jika majalah dijadikan sebagai sumber pustaka, urutan penulisannya adalah

  1. nama pengarang,
  2. tahun terbit,
  3. judul artikel,
  4. nama majalah,
  5. tahun terbitan keberapa (kalau ada),
  6. nomor majalah atau bulan terbitan,
  7. nomor halaman, dan
  8. tempat terbit.

Tiap-tiap penyebutan nama pengarang, tahun terbit, dan judul artikel diakhiri dengan tanda titik. Nama majalah dan tahun terbit dipisahkan oleh satu ketukan, sedangkan nomor majalah ditempatkan di dalam kurung. Nomor halaman dipisahkan dengan tanda titik dua dari nomor majalah.

Penulisan nama pengarang sama dengan cara penulisan nama pengarang buku sebagai acuan. Penulisan tahun terbit majalah pada prinsipnya juga sama dengan penulisan tahun terbit buku sebagai acuan. Judul artikel ditempatkan di antara tanda petik. Huruf awal kata-kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata tugas.

Nama majalah dicetak miring dan didahului oleh kata Dalam (tidak ikut dicetak miring). Huruf awal kata-kata di dalam nama majalah ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata tugas.

Jika tahun terbitan dicantumkan di majalah yang diacu, dalam daftar pustaka diletakkan sesudah nama majalah dengan diberi jarak satu ketuk dan tidak dipisahkan oleh tanda baca apa pun. Keterangan tahun terbitan ditulis dengan angka romawi.

Nomor majalah ditempatkan di dalam kurung dan ditulis dengan angka arab dengan jarak satu ketuk dari tahun terbitan, sedangkan nomor halaman ditulis setelah nomor majalah dengan dipisahkan oleh tanda titik dua tanpa jarak.

Setelah nomor halaman, ditulis tempat terbit dan diakhiri dengan tanda titik. Keterangan tempat terbit adalah keterangan terakhir tentang majalah sebagai sumber acuan.

Contoh daftar pustaka dari majalah:

Sugiarto, Eko. 2001. “Agama sebagai Tertuduh”. Dalam Suara Muhammadiyah LXXXVIII (23):12. Yogyakarta.

Penulisan Daftar Pustaka dari Surat Kabar

Jika surat kabar dijadikan sebagai sumber acuan, urutan penulisannya adalah

  1. nama pengarang,
  2. tahun terbit,
  3. sumber artikel,
  4. nama surat kabar,
  5. tanggal terbit, dan
  6. tempat terbit.

Setiap penyebutan keterangan (kecuali penyebutan nama surat kabar) diakhiri dengan tanda titik. Nama surat kabar dan tanggal terbit dipisahkan oleh tanda koma.

Pada prinsipnya penulisan nama pengarang, tahun terbit, judul artikel, nama surat kabar, dan tempat terbit surat kabar sama dengan penulisan majalah sebagai sumber acuan. Bedanya hanya terletak pada tanggal terbit.

Keterangan mengenai tanggal terbit berisi tanggal, bulan, dan tahun terbit. Nama bulan ditulis lengkap, tanggal dan tahun terbit ditulis dengan angka arab. Nama surat kabar dan tanggal dipisahkan oleh tanda koma, sedangkan sesudah tanggal terbit digunakan tanda titik.

Contoh:

Rachman, M Fadjroel. “Bush dan Kepentingan Kita”. Dalam Kompas, 21 November 2006. Jakarta.

Satu hal yang perlu diingat, yaitu tentang kata tugas. Kata tugas tidak ditulis dengan huruf kapital (misalnya dalam penulisan judul). Kata tugas adalah kata yang menyatakan hubungan gramatikal (tata bahasa) yang tidak dapat bergabung dengan afiks (imbuhan) dan tidak mengandung makna leksikal, misalnya serta, dan, dengan, yang, dan sebagainya.

Untuk penulisan daftar pustaka dari internet, ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa berbagai sumber dari internet tersebut dikelompokkan menjadi satu dan diurutkan sesuai dengan ketentuan penulisan daftar pustaka yang bersumber dari media cetak (buku, majalah, dan surat kabar).

Urutan Daftar Pustaka

Daftar pustaka sebagai tajuk atau judul ditulis dengan huruf kapital semua (DAFTAR PUSTAKA) dan diletakkan di tengah sehingga jarak dengan margin kiri dan margin kanan seimbang. Untuk lebih mudahnya Anda bisa mengklik ikon center (rata tengah) di program pengolahan kata (MS Word) komputer Anda. Daftar pustaka sebagai tajuk tidak diberi garis bawah.

Buku, majalah, atau surat kabar yang hendak dicantumkan dalam daftar pustaka disusun menurut abjad nama nama pengarang atau lembaga yang menerbitkan jika tidak ada nama pengarangnya. Jika nama pengarang atau lembaga yang menerbitkan karangan itu tidak ada (meskipun hal ini bisa saja terjadi, namun sangat jarang) penyusunan daftar pustaka didasarkan pada kata pertama judul.

Satu hal yang harus diperhatikan ketika menyusun daftar pustaka yang didasarkan pada kata pertama judul adalah jika judul itu diawali dengan kata sandang. Dalam kasus semacam ini, penyusunan daftar pustaka didasarkan pada kata kedua di dalam judul. Adapun yang termasuk kata sandang di antaranya the atau a (bahasa Inggris); le, la, un, une (Perancis); de, het, een (bahasa Belanda); al (bahasa Arab).

Daftar pustaka tidak diberi nomor urut. Semua buku yang dijadikan acuan harus dicantumkan di dalam daftar pustaka.

Jika sumber acuan tidak cukup ditulis dalam satu baris, digunakan baris kedua dan seterusnya. Baris kedua dan seterusnya ini menjorok ke dalam sepuluh ketukan dari margin kiri (atau disesuaikan dengan pertimbangan estetis perwajahan). Jarak antar sumber acuan dua spasi, tetapi jarak antar baris yang tidak cukup dalam satu baris adalah satu spasi.

Setelah dikelompokkan menjadi satu, berbagai sumber dari internet tersebut diletakkan di bawah urutan terakhir sumber pustaka media cetak dengan alasan teknologi internet adalah teknologi yang muncul lebih akhir dibanding media cetak.

Dengan kata lain, daftar pustaka yang bersumber dari internet dicantumkan di bawah semua sumber yang berasal dari media cetak.

Meskipun demikian, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa tidak perlu membeda-bedakan mana sumber dari media cetak dan mana pustaka dari internet.

Patokan yang digunakan untuk menulis daftar pustaka adalah nama penulis yang disusun secara alfabetis sehingga meskipun sumber tersebut dari internet, jika memang ditulis oleh orang yang secara alfabetis memiliki nama akhir yang harus berada di posisi paling atas, sumber tersebut harus diletakkan di posisi paling atas.

Model mana yang akan dipilih di antara keduanya, bergantung kepada kesepakatan di lembaga yang bersangkutan dengan catatan harus konsisten.

Demikian pembahasan tentang pedoman penulisan daftar pustaka yang benar. Pedoman penulisan daftar pustaka ini adalah pedoman yang bersifat umum, namun sudah cukup detail. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar