Puisi Untuk Ibu Kartini

Puisi untuk Ibu Kartini di bawah ini cocok untuk ucapan hari Kartini yang diperingati setiap 21 April. Kumpulan puisi dikutip dari puisi pilihan event 2nd anniversary paper ink.

Pahlawan Peradaban

Oleh: Abu Bakar Al Lailul Qodry

Dik, taukah peradaban kini berubah?
Taukah dulu kaum wanita tertindas oleh kaum laki-laki?
Dengan tutur manis memandang kaum wanita itu lenyai
Dengan tabiatnya berpandangan wanita bagaikan benalu kehidupan!
Sebab peradaban buruk menimpa kaum wanita yang memicu kesengsaraan

Dik, tauhkah pahlawan peradaban telah terbit?
Dengan berjuang menuntut emansipasi wanita
Memicu kesetaraan kaum wanita berdiri tegak di atas dunia dalam berbagai bidang
Membuat asmanya melambung diatas dunia dengan perjuangannya mendulang kemerdekaan kaum wanita

Dik, taukah kamu dibalik tabir kemerdekaan kaum wanita berkat darah juang siapa?
Tentu ibu Kartini sang proklamator kemerdekaan kaum wanita Sang pahlawan dalam peradaban emas Indonesia
Sebab berbuah mengorbitkan pendidikan sebagai landasan masa depan kaum wanita
Memicu generasi emas sontak berhamburan
Sehingga peradaban tak seperti zaman jahiliah
Melahirkan kehidupan mencapai puncak kejayaan
Sebab pahlawan peradaban mengonveriskan habis gelap terbitlah terang

Nostalgia

Oleh: Aenullael Mukarromah

Tentangmu sang pahlawan nasional, juga tentangku sang pejuang asa
Terlahir di Jepara, kemudian menghembuskan nafas di Rembang Kau sang pelopor kebangkitan perempuan pribumi
Sedangkan aku masih merangkak mengejar mimpi untuk dapat mengabdi pada Negeri
Kau memperjuangkan wanita
Kau bekerja keras
Lalu apa yang terjadi saat ini?
Mari bernostalgia
Tentang sebuah perjalanan
Aku perempuan, namun aku tidaklah sehebat dan sekuat perjuanganmu
Aku perempuan, namun belum dapat mengabdi kepada Negeri Namun, embusan nyanyian motivasimu menjadi pembakar diri untuk tetap berjuang
Habis gelap terbitlah terang
Di manapun bumi dipijak di sanalah langit dijunjung
Perempuan haruslah tetap bekerja keras, kerja cerdas dan berjuang dengan usaha yang keras
Seperti perjuangan Ibu kita Kartini yang telah melewati badai dan coba.

Kartini Pengejar Mimpi

Oleh: Afif Maulana

Kartini-kartini pengejar mimpi
Menyusuri bukit penuh duri
Memikul mimpi yang terangkai suci
Semangatnya membelah langit dan bumi
Menggoreskan pena di dalam hati

Kartini-kartini pengejar mimpi
Terbangkan nama ibu pertiwi
Melangkah kaki di atas lautan api
Tak gentar walau musuh menghalangi
Melangkah kaki dalam kesunyian diri

Kartini yang senantiasa mengejar mimpi
Takkan lupa akan janji suci nan abadi
Senantiasa menari sepanjang khatulistiwa
Senantiasa mengukir seluas samudera
Senantiasa bersimpuh dalam doa

Kartini-kartini pengejar mimpi
Ciptakan sejarah sepanjang masa
Tiupkan seruling syahdu irama
Sinarkan lentera terangi cakrawala
Berjuang dalam sepenuh nyawa

Kartini-kartini pengejar mimpi
Engkaulah wajah-wajah ibu pertiwi

R.A. Kartini

Oleh: Ahmad Maulana

Engkau adalah puteri yang berjiwa pahlawan
Rela mengorbankan jiwa, serta ragamu
Tak gentar melawan takdirmu
Untuk memajukan negera ini

Engkau adalah sosok srikandi
Yang rela mengorbankan harta, dan bendamu
Tidak pernah merasa letih dalam
Memperjuangkan negara ini

Engkau adalah pahlawan dari kaummu
Cita-citamu amatlah mulia
Demi mewujudkan tunas bangsa
Kebanggaan agama serta negara;

Inspirasi Ibu Pertiwi

Oleh: Aim Azhura Aslamia

Di kala sunyi…
Aku sendiri hanya sepi yang menghampiri
Engkau datang menginspirasi

O0.. Ibu pertiwi…
Dengarlah puisiku ini
Engkau laksana sebatang pohon
Yang tumbuh di tanah kelahiranku,
Kekuatan akarmu
Mampu menahan ketegaran batang pohonmu
Dari terjangan angin sekaras apapu

Oh… Ibu pertiwi…
Sosokmu… Menginspirasi
Para pemuda pemudi
Sedikitpun kau tak akan lari
Meskipun maut menghampiri

Oh… Ibu pertiwi…
Namamu selalu di hati
Abadi tak kan terganti…
Ibu… Kartini… Ibu pertiwi

Kesatria Wanita Indonesia

Oleh: Aisyah Nabilla

Ketika mereka menganggap wanita rendah
Di situlah kau memendam amarah
Ketika mereka berargumen wanita tak pantas sekolah
Kau datang berusaha mematahkannya

Kau datang menyelamatkan negeri ini
Dari tangisan wanita yang merindukan edukasi
Cita-citamu murni untuk negeri
Berjuang mengedepankan emansipasi

Kartini bagi perempuan laksana pahlawan
Kartini bagi perempuan laksana bintang
Kartini bagi perempuan laksana perwira
Kartini bagi perempuan laksana ksatria

Tak ada yang lebih berani darinya
Sang wanita perwira pahlawan Negara
Sang wanita yang pantang mundur sebelum setara
Memperjuangkan hak-nya dengan jiwa dan raga

Wanita Berkebaya

Oleh: Alfaro Mohammad Recoba

Dua puluh satu April Tahun 1879 ia dilahirkan.
Bocah kecil bermata bulat berbinar memancarkan
Cahaya cemerlang, seolah menatap masa depan yang
Penuh dengan tantangan. Trinil, si ayah beri ia julukan

Ia datang mempelopori kesetaraan derajat,
Menumpas ketidakadilan mengenai adat.
Dengan pemikiran cerdas penuh inisiatif,
Dia akhirnya menjadi wanita inspiratif.

Wanita berkebaya, Raden Ajeng Kartini namanya.
Sang sosok pahlawan emansipasi wanita Indonesia.
Habis gelap terbit terang, inspirasi dari suratnya,
Dibaca sebagai sebuah roman kehidupan wanita.

“Aku mau.” Motto hidupnya.
Di dalam hati wanita Indonesia,
Semangatmu masih tetap membara.
Walaupun memang engkau telah tiada.

Demi Aku, Kartinimu, dan Bianglala

Oleh: Ali Mufti

Nak, lawanlah tidurmu
Redup nyala lilin itu rayuan waktu,
agar lelapmu kian bersemayam
Mimpi-mimpi itu pun kebohongan,
darinya (waktu), si jahat yang mengincarmu

”Tak ada bedanya dengan apa yang ada di luar sana, begitu kejam,
biarkan saja, Bu!
Kupeluk waktu, dipapah Ibu.”

Jangan, Nak!
Ingatlah betapa ibu paksakan senyum dahulu,
dalam payah menyajikan riangmu
Karena aku Kartinimu

Lekaslah melompat,
langkahi sanubari yang merundung
Sambutlah doa-doaku yang dijawab-Nya
Lekaslah, Nak!
Demi aku, Kartinimu

Kasih Lembut Ibu Pertiwi

Oleh: Alif fia Wiraninda

Kartini…
Siapa yang tak mengenalmu, wahai Kartini.
Wanita yang tangguh , wanita yang tak pernah merasa takut
Untuk melawan kejinya dunia ini.
Lembut kasihmu

Ramah tutur katamu
Membuat dunia ini menangis bersimbah darah atas kepergianmu.
Kau adalah wanita terhebat bagiku
Kau adalah ibu dari milyaran wanita di dunia ini
Kau mampu mempertaruhkan nyawamu demi negeri ini
Demi wanita Indonesia
Juga demi Bangsa Indonesia.
Terima kasih Kartini.

Mengenang Kartiniku

Oleh: Alifia Intan Karima

Temgaung akan sebuah figur elok
Meraut nama dalam lintas sejarah
Tertutur indah santun dalam suatu pokok
Terajut keselarasan, membantang duka lara

Membungkam keselarasan sang ibunda
Menyakralkan kehangatan bunga negara
Terangi gelapnya isi bumi
Tentramkan hati, kaum insani
Bagai pendongkrak dunia
Runtuhkan ancaman kaum jahiliyah
Tegak kan kewajiban

Tuk hapus kemunafikan
Terlintas bayangan sosok Kartini
Menguras problematika negeri nan pilu
Robohkan fitur anarki
Goreskan sejarah bak harum mewangi di bumi pertiwi

Ibu Kartini…

Penyelamat Negeri dan Kaumku

Oleh: Alifiyah Nurrohcmani

Di kala bumi pertiwi tengah terombang ambing
Berporak poranda hancur tiada keping
Tembak, jerit, tangis bahkan darah telah beraduk
Beraduk meleleh dialas bumi pertiwi nan suci
Tatkala kaum adam dijunjung
Sedang kaum hawa ditindas tak berujung
Tiada lagi nilai diri yang tersisa
Hanyalah larutan duka yang bersemayam
Namun…
Secerca cahaya terang mulai menyeludup
Mengangkat puing-puing kehancuran
Pengobar kembali nilai diri kaum hawa
Dialah sang anugerah tuhan
Perempuan mulia tanpa tanda jasa
Sang pembangkit negeri di ambang musnah
Sang pembela nasib hawa tanpa kenal lelah Terima kasih ibuku…

Ibu kartiniku…
Atas segala jerih payahmu
Sebagai penyelamat negeri dan kaumku.

Sumber:
Clarisa, dkk. 2018. Puisi untuk Ibu Kartini: Puisi Pilihan Event 2nd Anniversary Paper Ink. Sukabumi: CV Jejak

Kategori Sastra

Tinggalkan komentar