Contoh Cerpen tentang Persahabatan, Pendidikan, dan Kehidupan

Kumpulan cerpen singkat dan menarik yang kami sajikan di bawah ini mengandung nilai-nilai dan pesan di dalamnya. Ada contoh cerpen persahabatan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari yang ditulis dari pengalaman pribadi.

Beberapa contoh cerpen di antaranya sedikit panjang tetapi masih memenuhi kriteria sebagai cerpen. Silakan disimak.

Contoh Cerpen Persahabatan

Contoh Cerpen Persahabatan

DALANG, SEBUAH IMPIAN
Oleh: Yunanda Martina

Malam ini adalah malam yang indah, langit bertabur bintang. Di bawah bulan yang bersinar terang tepatnya di lapangan desa warga berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit.

Penonton merasa senang dan terhibur, tetapi tidak untuk anak yang sedang duduk di pinggir jalan samping lapangan. Anak itu menunduk, butiran air mata mulai menetes membasahi pipi kanan dan kirinya yang kini terlihat merah menyala.

Nampaknya anak itu terlihat sedih karena dua hari yang lalu dia telah kehilangan sesosok ayah yang sangat dia cintai. Panggil saja anak itu Jono.

Dia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Jono mempunyai dua adik yang bernana Eva dan Nia. Eva saat ini baru menginjak kelas 2 SD dan Nia baru memasuki TK. Saat itu Jono bingung, bagaimana cara dia untuk menyelesaikan masalah ini, tetapi Jono masih tetap kuat dan bersemangat.

Jono memang anak yang sabar, di saat Jono akan berdiri untuk menyaksikan Wayang, Jono dipanggil oleh seseorang.Ternyata itu adalah Pak Tono, dia terlihat sangat tergesa-gesa.

“Pak ada apa?” tanya Jono.

“Itu, ibu kamu!” jawab Pak Tono gugup.

“Kenapa , ibu saya kenapa?” tanya Jono lagi.

“Ibu kamu pingsan, Jono!” kata Pak Tono lagi.

“Ibu saya pingsan pak?”

“Iya, ayo cepat pulang!”

Lalu Jono berlari menuju rumahnya. Jono sangat kaget dengan perkataan Pak Tono tadi, dia takut jika terjadi sesuatu dengan ibunya, di sepanjang jalan Jono hanya memikirkan ibunya. Setelah berjalan cukup jauh Jono sampai di rumahnya dan disusul oleh Pak Tono.

“Eva, Nia, ibu kenapa?” tanya Jono

“Tadi ibu pingsan, Mas!” jawab Eva

Jono bergegas pergi ke kamar ibunya untuk melihat keadaan ibunya. Jono membelai rambut ibunya. Di kamar ibu ternyata telah ada ibu Tias. Sambil melihat keadaan ibunya tak terasa air mata tak dapat dibendung lagi .

“Sudah Jono, jangan menangis lagi!” hibur bu Tias.

“Iya, Jono, jangan menangis, ibu sudah sembuh!” kata ibu Jono.

“Iya Bu, Jono tidak akan menangis lagi !”

“Ya sudah, lebih baik kamu istirahat dulu !”suruh ibu.

“Baiklah, Bu!”

Jono bergegas ke kamar, lalu dia merebahkan tubuhnya di ranjang kusam miliknya. Di saat dia akan memejamkan matanya dia teringat pada ibunya lagi. Jono terbangun, lalu duduk di pinggir tempat tidurnya.

Jono sangat ingin memeriksakan keadaan ibunya ke dokter tapi bagaimana caranya? Saat Jono melihat jam ternyata waktu telah menunjukkan pukul 10.00. Jono bergegas tidur mengistirahatkan lelah.

Tak terasa hari telah pagi dan waktu telah menunjukkan pukul 05.00. Jono bergegas mandi lalu segera berangkat ke sekolah. Tetapi sebelum berangkat, Jono berpamitan kepada ibunya. “Bu, Jono berangkat ke sekolah dulu!” kata Jono sambil menyodorkan secangkir teh hangat untuk ibunya

“Iya, kamu hati hati di jalan ya!” balas ibu.

“Baik bu!”

Jono bergegas berangkat ke sekolah bersama kedua sahabatnya Tino dan Paijo. Mereka berangkat selayaknya sahabat yang tak akan pernah terpisahkan. Setelah mereka sampai di sekolah, mereka masuk ke kelas masing masing. Mereka menyelesaikan pelajaran pada hari ini. Pada akhirnya bel pulang sekolah berbunyi dan para siswa pulang menuju rumah masing masing begitu juga dengan Jono, Tino, dan Paijo.

Saat mereka sampai di tengah perjalanan, Pak Tono, tetangga Jono menghampiri mereka bertiga .

“Jono, Pujo, Tino!” teriak Pak Tono

“Iya, ada apa pak ”

“Ayo sini, kalian duduk sebentar saja saya traktir minum es cendol ini,” kata Pak Tono memesankan es cendol untuk mereka.

“Begini. bapak mau mengajari kalian belajar jadi dalang. Biar budaya wayang ini tidak punah. Kalian tahu kan, kalau kalian menjadi sangat piawai, bahkan beberapa dalang bisa keliling dunia dan makmur hidupnya. Bagaimana? Kalian bertiga kan anak cerdas dan sering membanggakan, jadi kalau kalian bersedia, anak-anak lain juga akan tertarik untuk ikut belajar?”

Tino menunjukkan binar matanya. “Wah, senengnya bisa ikut mendalang, pakai blankon dan baju jawa dan menceritakan berbagai kisah pewayangan dengan nama-nama unik dan kisah-kisah menarik!” Ia berdiri dan kedua tangannya menepuk satu sama lain.

“Oh, kau tertarik untuk belajar Tino? Bagaimana dengan yang lain?”

“Mau..mau!” Jono meyakinkan.

“Kalau begitu. kita mulai Jumay sore bagaimana? Di rumah bapak!”

“Iya, Pak! Baik Pak Tono!” Pujo kali ini menyahut.

Sehabis mereka meminum es cendol traktiran Pak Tono, mereka berpamitan untuk pulang dengan perasaan yang sangat senang. Mereka tak sabar jumat depan belajar menjadi dalang. Mereka boleh menyentuh seperangkat wayang milik Pak Tono dan juga mungkin memainkan beberapa alat musik Jawa di rumah joglo besar tersebut.

Pak Tono selalu baik sama siapa saja, tetapi rasanya menyentuh semua benda benda di rumah joglo Pak Tono merupakan kesempatan emas. Tak sembarang orang diperbolehkan melakukannya.

Pada saat kebahagiaan melanda dua temannya, terlihat Jono masih menyimpan kemurungan.

“Kamu kenapa Jono, kamu masih sedih ?” tanya Pak Tono

“Saya memikirkan keadaan ibu saya!” jawab Jono

“Jono, kamu harus sabar!”

“Iya Pak, saya akan berusaha!”

Setelah sampai di rumah, Jono demikian tak sabar untuk ketemu ibunya.“Bu, maaf Jono pulang terlambat!”

“Iya. ayo masuk. Segeralah makan. Tapi maaf, ibu hanya memasak apa adanya!”

“Iya, Bu!”

Setelah makan, Jono membantu adiknya menyapu halaman. Jono melakukan tugasnya itu dengan senang hati, dan tetap bersabar, lalu Jono meminta untuk adiknya agar istirahat saja, karena Jono tidak mau adiknya kecapekan. Tetapi adik Jono menolaknya karena adik Jono; Eva dan Nia juga adik yang baik.

Sore itu, saat Jono tengah asyik menyapu, Jono tak menyangka akan kedatangan Tino. “Ada apa Tino? Tumben sore sore begini kamu ke rumahku?”

“Begini, tadi saat aku sampai di rumah Joglo, Pak Tono memberi kabar bahwa akan diadakannya lomba menjadi Dalang!“

“Wah, itu kesempatan yang bagus. Kapan dilaksanakannya?”

“Tiga bulan lagi!”

“Oh, jadi begitu? Terus, berarti kita akan latihan lebih sering?”

“Iya, betul. Dua kali seminggu. Nanti malam ini kita latihan juga!”

“Baiklah, aku siap.”

Joko bisa merasakan semangat Tino demikian besar dari gerak tubuhnya saat ia meninggalkan kebun rumahnya. Penglihatannya mengikut kepergiannya di atas sadel sepeda.

Demikian pula di relung hatinya, ia berharap dan berandai andai, mungkin ini adalah jalan Jono mencapai cita-citanya menjadi seorang dalang yang trampil dan dibutuhkan banyak orang untuk pentas.

Setelah Jono selesai menyapu karena hari juga sudah petang Jono memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk segera mandi .

Ia menjelaskan pada ibu dan kedua adiknya mengenai lomba mendalang dan kebaikan hati Pak Tono yag akan melatih mereka dua kali seminggunya. Dengan sangat sabar Jono menjelaskan semua kepada adiknya mengenai kemungkinan jalan prestasi untuknya.

Untung saja adik Jono juga adik yang bisa menerima impiannya mendalami seni budaya tradisional yang sudah kian ditinggalkan orang orang muda belakangan ini. Tapi dari penjelasan Pak Tono yang kini ditirukannya dalam penjelasannya pada kedua adiknya, keduanya ikut menaruh harapan atas impian Jono. Bahkan juga dalam diri ibunya.

Di saat Jono akan menuju kamarnya Jono melihat ibunya yang sedang duduk di ruang tengah. Ibu Jono terlihat sangat sedih. Jono menghampiri ibunya.

Ibunya memulai berbicara.“Kau boleh memiliki cita-cita yang bagaimana pun tingginya, tapi sungguh ibu minta maaf tidak bisa memberi dukungan sebaik baiknya.”

“Ibu tidak usah berfikir begitu. Pak Tono tidak meminta jasa apa pun dari kami. Beliau orang kaya yang baik hati. Apalagi beliau hanya memiliki harapan mengenai lestarinya dunia pewayangan saja. Nah, jika salah satu dari kami menang, itu sudah membahagiakan beliau. Saya akan berusaha, Bu.”

Ibunya mengusap-usap pundak Jono memberi semangat. *

Pagi itu, persis pada hari Sumpah Pemuda, Sang Fajar telah bersinar menampakkan kecerahannya. Seperti biasa, keluarga Jono bergegas beraktivitas seperti biasa.Adik adiknya berangkat sekolah. Tetapi ada yang beda bahwa hari ini ibunya mengantarkannya mengikuti lomba mendalang di kabupaten.

“Jono, jangan lupa, nanti sebelum kamu main, kamu baca basmalah dahulu!”

“Baik, Bu!”

Mereka berangkat,wajah ibu masih terlihat pucat. Meski begitu ia berusaha memberikan kekuatan semangat untuk anak mbarepnya yang selalu berperangai menyenangkan.

Hampir tengah hari, nomor undian Jono membawanya melangkahkan kaki menuju panggung tempatnya berpentas. Pujo dan Tino sudah melewati gilirannya agakawal.“Bu Pujo hebat sekali ya!” celetuk Jono usai temannya itu pentas tadi.

“Iya, jika kamu mau berusaha pasti kamu akan lebih baik darinya!”

“Iya, Bu, Jono pasti akan berusaha membanggakan ibu!”

Sekarang saatnya Jono membuktikan kemampuannya. Ia mencoba memainkan sebuah bagian perang Baratayudha antara Pandhawa dan Kurawa. Di hitungan sepertiga pentas Jono memainkan pertunjukan, ibu Jono pingsan.

Bergegas Jono meninggalkan pertunjukan itu. Ia tak lagi peduli dengan sebuah iming-iming kemenangan. Beberapa orang mengantarkan keduanya ke rumah sakit dengan mobil panitia.

Untunglah, hasil pemeriksaan dokter menyebutkan bahwa Ibu Jono boleh rawat jalan sembari menunggu rujukan yang dapat digunakannya ke rumah sakit di kota. Bahkan ibunya membujuknya untuk kembali ke tempat lomba tersebut demi mengetahui dan menyemangati teman-temannya.

Tiba di sana, sudah sangat sore. Jono demikian perhatian terhadap suara dewan juri yang mengumumkan peraih juaranya. “Yang menjadi juara pertama adalah …!”

Seperti biasa, Sang Juri memberi jeda untuk memberikan efek rasa penasaran dan kejutan.“Ia bernama Pujo Satriyo!” Seketika Pujo melonjak dan Jono memeluknya erat dari belakang hingga keduanya hampir jatuh bersamaan.“Pujo, selamat ya!”

“Iya, Jono aku berhasil! Ini semua berkat Pak Tono.”

“Kau memang layak mendapatkannya, Pujo!” Tino menepuk nepuk pipi Pujo.

“Kemenangan ini aku persembahkan buat pak Tono dan buat kalian!” muka Pulo bersemu merah, hendak menangis karena kebahagiaan itu.

Entah dari mana, Pak Tono tiba tiba sudah berada dekat dengan ketiganya. Roman muka Pak Tono demikian bahagia. Ketulusan dari kerja kerasnya menghasilkan buah kemenangan.

“Pak Tono, uang itu nanti saya akan berikan separuh buat ibu Jono untuk membeli beras,” Pujo langsung saja menyatakan keinginannya.

Memang di antara ketiga sahabat tersebut, Jono lah yang hidupnya sering berkekurangan.

“Kamu memang berhati mulia, Pujo. Kalian semua memang anak-anak yang bersedia untuk belajar. Bapak membanggakan kalian.“

Jono terkejut mendengar perkataan Pujo.“Terima kasih Pujo!” Sekali lagi ia memberi pelukan pada temannya tersebut.

“Iya, sama sama!” Pada ajang perlombaan itu, ternyata bukan saja kemenangan yang berarti, tetapi sebuah nilai persahabatan dan kepedulian sesama teman.

Contoh Cerpen Pendidikan

Contoh Cerpen Pendidikan

GATHOT DAN KACA
Oleh: Faiszal Ibnu Idayat

Sekolah SMA dekat rumahku mengadakan perlombaan science. Di tempat tersebut terdapat banyak sekali penemuan yang sangat bagus. Aku hanya terdiam melihatnya. Aku melihat di dekat pohon tak jauh dari tempat perlombaan tersebut.

Dengan membawa penemuan yang aku buat, aku tak segan-segan melangkahkan kakiku di tempat tersebut. Aku mendekat ke panitia perlombaan yang berada tak jauh dari pohon tempatku melihat perlombaan science itu.

“Siapa namamu? Apakah kau ingin mendaftarkan hasil penemuan yang kamu buat?” panitia tersebut bertanya padaku

“Memang kenapa, Pak? Apakah aku salah?” aku menjawabnya dengan sangat penasaran.

“Kamu masih usia SD kan? Baru sekali ini anak SD ikut perlombaan science dari sekian kali perlombaan.”

Aku hanya mengangguk kepadanya.

“Ya. tapi baiklah… akan kutulis di kertas ini.”

“Namaku Gathot,” nada suaraku penuh percaya diri. Aku juga memompa semangat, pasti bisa mendapatkan sesuatu dari perlombaan science ini.

Saat aku merasa kehausan karena telah lama menunggu giliranku, aku meninggalkan penemuanku dekat panitia. Tak lama kemudian aku mengambil milikku tersebut dengan bangga, tetapi terkejut karena punyaku tersebut sedikit rusak.

“Siapa yang telah merusak penemuanku ini?” Aku bertanya kepada panitia, tetapi mereka juga tidak tahu siapa sebenarnya yang merusaknya. Aku merasa sangat marah dan kecewa.

“Gathot…!” panitia memangilku.

Sekarang giliranku untuk menjelaskan penemuan yang kubuat ini. Tetapi bagaimana membuktikannya karena sekarang temuan itu dirusak oleh seseorang. Bagaimana pun aku memutuskan untuk naik ke atas panggung dan berbicara di depan semua orang bahwa penemuanku telah rusak.

Lalu semua orang menyorakiku bahwa aku tidak bisa membuat penemuan baru. Aku berjalan perlahan turun panggung dengan perasaan yang campur aduk. Aku pulang dengan sangat sedih. Harapanku untuk mendapat pengakuan prestasi dalam perlombaan science tersebut, musnah.

Setelah aku merasa harapanku berakhir, tiba-tiba seorang teman memberitahuku akan adanya perlombaan science hanya selang beberapa hari dari perlombaan pertama. Aku memperbaiki temuanku tersebut, dan aku bersiap untuk menjadi pemenang perlombaan science.

Aku menjaga penemuanku yang susah payah aku buat.

Akhirnya tiba giliranku untuk memperkenaalkan penemuan baruku.

“Namaku Gathot. Aku membuat alat untuk memotong sayur tanpa khawatir tangan kita keiris. Alat ini mudah dibuat dan mudah pula menggunakannya. Tentu saja tetap harus menggunakan bahan kayu pilihan agar tidak ada resiko yang dapat berdampak buruk.”

Kini saatnya pengumuman pemenang perlombaan science.

“Pemenang perlombaan science tahun ini iyalah… Gathot”

Saat mendengarnya, aku sangat bahagia sekali. Kali ini impianku terwujud. Usahaku selama ini ada hasilnya. Melewati sekali perlombaan tersebut, berturut turut aku mencoba berbagai kerajinan kayu dan pisau untuk membuat berbagai alat keseharian yang memudahkan penggunanya.

Lama-lama namaku dikenal orang banyak dan mereka memesan alat-alat tersebut padaku. Kini aku seorang juragan alat rumah tangga.

Waktu berlalu begitu terburu. Kini aku memiliki satu orang anak dan ia kuberi nama Kaca. Ibu Kaca meninggal pada saat melahirkan Kaca. Kini aku dan anakku saja yang ada. Kaca selalu tampak aktif dan bakat yang ada padaku agaknya menular pada Kaca.

Ia suka sekali melakukan percobaan-percobaan terhadap pemikirannya.Terhadap beberapa idenya, ia berharap itu akan menjadi temuan besar yang berguna bagi banyak orang.

Pada suatu waktu, tepatnya saat siang hari ketika orang orang sedang tengah sibuk bekerja atau di sekolah, terdapat suara gemuruh di lautan. Aku masih tidak yakin apakah itu adalah suara air atau mesin diesel atau suara suatu mesin tertentu.

“Suara apakah itu? Seperti suara ….” Aku merasa heran dengan suara yang tak terbiasa tersebut. Aku menghampiri suara itu. Di saat aku melihat pandanganku kedepan, ternyata ada pesawat yang mengangkut galon air dan melayang ke udara menyiram sebagian kampung kami.

Pada saat itu anakku sedang tidak ada di rumah. Aku berharap itu adalah buah pikiran yang ia wujudkan; sebuah alat penyiram yang dapat mengambil air sungai dengan tenaga baterai. Apakah benar dia yang melakukanya?

“Apa itu siapa yang melakukan semua itu…?” teriak salah satu warga.

“Pak Gathot, apakah bapak yang melakukan semua ini?” salah satu warga bertanya ke padaku.

“Yang benar saja kamu, coba lihat betapa sibuknya aku belakangan ini, tidak lagi sempat berpikir menciptakan alat alat baru,” aku menjawab dengan yakin.

Sesudah kejadian itu Kaca lalu datang menghampiriku.“Ada apa Bapak?

Seluruh desa seperti kena hujan.“Kaukah yang melakukannya? Halah… tak usah mengelak, pasti kau yang melakukan semua ini. Saat kejadian itu kau tak ada. Dan saat kejadian ini selesai kau datang dan berpura pura bertanya tentang kejadian tadi,” aku mencoba mencari tahu dari roman mukanya.

Ia senyum-senyum menanggapi perkataanku.

“Ah, Le, sekarang aku tahu bahwa kau itu memang memiliki bakat besar dalam temuan temuan peralatan sepertiku. Syukurlah anakku bisa memberi manfaat untuk sesama.Awalnya aku sering sekali memarahimu karana kekhawatiran bapak akan keselamatanmu. Aku sendiri bahkan sering lupa bahwa aku juga dulu melakukan hal-hal itu tanpa mengindahkan keselamatan diri. Sekarang bapak tidak akan marah lagi.”

Kaca senyum senyum saja seperti kebiasaannya.

Pekan ini, dengan anakku, keinginanku untuk menemukan sebuah gagasan baru terbit lagi. Aku berfikir untuk membuat alarm jika ada orang yang membuang sampah di sungai kampung kami. Kami bekerja keras selama tiga bulan dan pada akhirnya, bersama Kaca, kami bawa penemuan ini ke hadapan Pak Kades. Sambutan beliau begitu menggembirakan. Bahkan untuk pengumuman tersebut, ada upacara khusus dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat desa.

Sebenarnya, Pak Kades mengusulkan untuk membawa temuan tersebut ke kecamatan, kemudian ke kabupaten, boleh jadi bupati kami memiliki perhatian khusus mengenai hal ini dan membawa kami pada sertifikat hak paten dan seterusnya.

Tapi kami bertahan untuk melihat manfaatnya terlebih dahulu di kampung kami sebelum kami membawanya lebih jauh ke lingkungan yang lebih luas.

Akhirnya bersama Pak Kades dan beberapa orang penting lainnya, kami menempatkan alarm itu di dekat sungai di mana sering sekali orang orang kampung membuang sampah dari tepian di situ. Pemasangan itu bahkan diawali dengan upacara disertai pemecahan kendi dengan dihiasi rangkaian bunga memanjang.

Aku demikian bangga bahwa anakku yang masih kecil itu memiliki ide ide yang cemerlang dan tak terlalu mahal untuk mewujudkannya dengan uang kami sendiri, sehingga alat itu pada akhirnya berguna bagi sesama. Semua orang mengucapkan selamat atas capaian Kaca mengenai alarm untuk membuat sungai lebih bersih.

Betapa pun, selalu saja ada orang iri terhadap capaian seseorang. Aku melihat anak Pak Kades sepertinya tidak merasa senang. Ia mulai memasang muka permusuhan.Aku curiga pada gerak-geriknya yang sinis padaku dan terutama pada Kaca. Ia bahkan dalam beberapa hari ini lewat depan rumah dengan sepeda motor yang knalpotnya demikian bising. Dua karyawanku mengumpat panjang tiap kali ia lewat dengan suara gaduh yang mengganggu.

“Wah, Pak Gathot, Dik Kaca, sungguh terima kasih. Agaknya berkat alarm itu, orang orang sudah enggan dengan sendirinya karena ternyata dalam seminggu ini, sampah plastik dan barang yang tak dapat diurai alam itu tak lagi berdatangan ke sungai tersebut.”

“Wah, ikut senang Pak Kades. Tapi itu ide Kaca, bukan ide saya. Saya malah nggak tahu bahwa sampah-sampah itu sering datang ke sana mengotori sungai. Kaca lah yang sering mengeluhkannya. Sampah-sampahnya ada berbagai macam plastik dan benda pecah belah. Kaca bilang, dia punya ibu guru yang selalu menasihatkan hal baik tentang menjaga lingkungan sehat dan bersih. Mungkin dari situ ide itu datang,” jelasku sembari pandanganku mengikuti Kaca sedang menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa warga yang hadir.

Begitulah, hari itu seolah menjadi pengumuman adanya alarm mengenai larangan pembuangan sampah sembarangan. Beberapa orang sudah melapor bahwa dalam seminggu ini sungai bersih dari sampah. Agaknya, dengan upacara peresmian alarm tersebut saja sudah cukup menjelaskan bahwa pembuangan sampah di sungai itu perbuatan tidak sehat dan mengotori lingkungan secara langsung maupun tidak langsung.

Bahkan sekarang muncul adanya bank sampah, di mana sampah yang tidak dapat terurai dikumpulkan pada sebuah bak besar di balai pedukuhan untuk kemudian diserahkan pada pengepul yang dapat menyalurkannya ke perusahaan pengurai.

Aku tidak tahu yang sebenarnya, apakah kebersihan sungai yang sekarang ini sangat terjaga itu berkat kami atau tidak. Tetapi di dekat alarm tersebut ditulis dengan huruf besar “RINTISAN HIDUP SEHAT GATHOT KACA”.

Sekian minggu kemudian, di bak sampah besar balai dusun juga tertulis demikian. Padahal kami tidak pernah menuliskannya, atau bahkan meminta menuliskannya.

Cerpen Singkat tentang Kehidupan

Cerpen Singkat tentang Kehidupan

Judul: ANTARA ACEP DAN ARMAN
Karya: Martina Indah Purnamasari

Namaku Arman, aku tinggal di jakarta seorang diri. Ibu dan ayahku sudah lama meninggal. Aku tak mempunyai satu pun saudara di kota.

Siang ini hujan mengguyur Kota Jakarta. Aku berteduh di warung terdekat dan memesan segelas teh untuk menghangatkan tubuhku.

“Bu tehnya satu.” Pintaku kepada pemilik marung

Aku menatap hampa jalan seberang, kulihat anak sedang menawarkan payung.

“Payungnya pak, bu biar gak kehujanan.”Tawarnya

Bajunya sudah tak layak pakai lagi. Ia sungguh dekil. Tiba-tiba ibu pemilik warung itu datang membawakan teh pesananku. Membuat lamunanku buyar.

Segera kuseruput tehku dan kuambil gorengan yang berada di depanku, kemudian aku kembali mengamati anak itu. Sesekali anak itu balas menatapku. Anak itu terlihat sangat kelaparan. Kuseruput habis tehku lalu kubayar. Aku mencoba mendekati anak itu. Anak itu menawarkan hal yang sama padaku.

“Payungnya mas biar gak kehujanan.”Tawarnya kepadaku

Hujan semakin deras didampingi angin yang bertiup kencang. Kilat dan suara gemuruh guntur pun tak mau kalah. Kuajak anak itu berteduh di warung tadi. Anak itu mengiyakan ajakanku. Sesampainya di warung aku memesan teh dan nasi.Aku bertanya pada anak itu.

“Siapa namamu?”

‘Saya Acep, mas sendiri siapa?”Tanya balik anak itu

“Saya Arman.” Jawabku

Ibu pemilik warung itu kembali datang membawa pesanan keduaku. Aku mempersilakan anak itu untuk makan.

Anak itu tidak memakannya. tetapi meminta pada Ibu penjual nasi itu untuk membungkusnya.“Bu, aku dirumah mempunyai ibu,” kata Acep menatapku sejenak, lalu melihat pada Si Penjual.

Si Penjual itu tersenyum dan melakukan apa yang dimaui Acep.

Aku tak sepenuhnya paham dengan apa yang dilakukan Acep. Aku menyelanya:“Kau bisa memakan itu dan membungkuskan lagi untuk ibumu. Aku akan membayarnya.”

Acep menatapku dengan sangat sopan. “Tapi saya sudah sangat berterima kasih dengan traktiran sebungkus saja. Saya tidak menggantungkan diri terlalu banyak dari belas kasihan orang.”

Aku terkejut dengan jawaban Acep. Kukontrol diriku sendiri untuk tak menunjukkan keterkejutan sepenuh keheranan tersebut. Akan tetapi mau tak mau aku tak bisa berhenti menatapnya begitu saja. Malahan kian aku menolak keinginan tersebut.

Kemudian aku ingin mengikuti keberadaannya. Tak lama kemudian kami bertatapan lagi sangat lekat, lalu Acep berpamit kepadaku dengan sangat sopan sembari mencium tanganku.

“Kenapa buru-buru?”Tanyaku.

“Duluan mas.” Jawab Acep tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Kenapa dengannya? Apa aku membuatnya takut? Apa aku telah menyingung perasaannya? Kenapa dia langsung pulang?

Arlojiku menunjukkan jam 3 sore. Aku segera pulang ke rumah. Seperti biasa aku di rumah hanya seorang diri. Kuambil handuk dan segera mandi. Jam berlalu sangat cepat. Aku menuju kamar untuk tidur. Aku merebahkan tubuhku ke kasur dan terus memikirkan apa yang di maksud acep. Apa hari ini aku hanya bermimpi.

Hari demi hari telah kulewati. Kejadian itu telah aku lupakan. Aku melalui hariku seperti biasannya. Malam berganti pagi. Aku bangun untuk lari pagi. Kuambil handuk kecilku dan kukalungkan di leherku. Kubuka pintu rumahku.

Dari kejauhan, kulihat seorang ibu berbalutkan kain dengan baju atasan kumal sedang menuntun sepeda tua. Sepeda itu membawa dua bagor dan tumpukan kardus pada boncengannya. Sesosok anak remaja mengikuti di sebelahnya.

Ia mencoba turut membantu mendorong beban sepeda yang berat tersebut. Ibu dan anak itu tampaknya bahu membahu mencari barang rongsokan dan membawa ke pengepul atau membawa pulang. Entahlah, ke mana mereka membawanya.

Aku teringat pada sosok Acep yang kutemui pekan lalu. Ah, kukira Acep tidak cukup makan bergizi, tapi memiliki ibu. Mungkin juga sepasang ibu dan anak di kejauhan tersebut juga demikian; mereka tak memiliki rumah nyaman, makanan bergizi dan mampu membeli pakaian bagus.

Tapi kebersamaan itu? Hati yang dapat bicara satu sama lain; berbagi kepedulian, kesedihan dan kegembiraan kecil. Betapa indahnya saat saat kebersamaan dengan seseorang yang siap mendengar keluh kesah kita dan siap menyentuh bahu kita ketika kita ingin merasakan betapa dalam perhatian itu. Sekarang ini aku sangat ingin merasakannya. Kenapa aku memikirkannya begitu dalam?

Sebenarnya siapa yang harus mengasihani siapa? Aku kah yang harus mengasihani Acep karena tidak dapat hidup layak dengan memiliki rumah, makanan dan pakaian yang layak serta kesenangan lain seperti anak anak di usiaku dulu?

Aku memiliki banyak sekali mainan di rumah, bisa lihat TV dengan layar yang lebar, bepergian dengan mobil ke tempat tempat menyenangkan, membeli pakaian dan makanan yang bagus bagus dan enak-enak dengan harga yang mahal dan di tempat tempat yang bagus.

Tetapi pada akhirnya, ibuku meninggal karena tak tahan menahan malu, dan bapakku mengakhiri hidupnya sendiri di luar kewenangan Tuhan yang menghidupkannya karena sebuah kecurangan demi uang. Beberapa waktu kemudian aku merasa tak nyaman untuk bertemu orang lain.Aku perlu hampir setahun untuk dapat berdiri tegak kembali.

Bagaimana pun seorang temanku pernah menasihatkan :“Kau lelaki, dan kau harus tabah hidup sendiri. Kendati pun suatu ketika kau memiliki keluarga, lelaki harus tetap sendiri memikirkan pertahanan hidup.”

Temanku ada benarnya. Aku sudah melewati masa tersulit melepas kepergian kedua orang tua yang menghancurkan reputasi dinasti kakek nenek. Aku tidak bisa membaca pikiran mereka, tetapi sekurangnya aku bisa memperkirakan, betapa mereka menanggung malu atas ulah bapakku.

Aku mendongakkan wajah, berusaha meyakinkan diri bahwa hidup tak sepatutnya menyerah pada penderitaan. Hidup itu hadiah Tuhan. Si Kecil Acep begitu tabah menjalani hidupnya yang keras. Maka aku yang sedewasa ini, semestinya menjadikannya teladan.

Kuambil apel di dalam kulkas. Kubawa apel itu ke kamarku dan kubuka jendela kamarku. Semribit angin menerpa wajahku. Di kamarku yang biasanya kudinginkan dengan AC, aku melihat diriku sendiri dalam diri Acep.

Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi

Cerita singkat tukang ojek online yang bijak

Cerita singkat tukang ojek online yang bijak
Ditulis oleh: Muh. Sugiono (dengan sedikit editan agar sesuai EYD)

Kalau sudah marah, terkadang saya bisa menjadi sangat ramah. Pukul 6.42 nyantol ride di Jln. Sekokan Mataram dekat Westlake, dengan titik jemput Ringroad Barat sebelah utara Unisa.

“Oke. Silahkan ditunggu”

Baru saja mau take off jemput, costumer bales chat; “Saya butuh driver yang lebih cepat”

Sringg! Ada sesuatu yang terasa menggores hati, tapi tidak apa-apa. Jadi driver Gojek tidak boleh baperan (bawa perawaan). Saya jawab saja chat itu sambil senyum: “Saya yang tercepat di Jogja mas.. ”

Lalu gas poll untuk jemput sang costumer. Perlu dua kali putar balik memotong ringroad karena posisi dia berada di belakang saya dalam jalur searah.

Sekitar 200 meter sebelum titik jemput, dia chat lagi dan saya sempatkan berhenti untuk membacanya. “Awas kalau kamu sampai telat jemputnya, gojek songong.” Gandrik!

Hampir saja jari tangan bergerak memencet tombol cancel. Tapi saya urungkan. Ada sesuatu yang mendorong saya untuk melihat seperti apa bentuk costumer pemilik bahasa luar biasa itu.

Motor saya gas lagi. Seorang mas-mas berseragam karyawan entah perusahaan apa, berdiri di pinggir jalan dengan raut muka terburu-buru. Melihat saya berhenti di dekatnya, ia seperti meloncat duduk di jok belakang dan memijit pundak saya sebagai isyarat agar segera melaju cepat.

Tapi saya tak beranjak, bahkan mesin motor lalu saya matikan. Kalau mau marah, biar marah sekalian. Tapi sebelum dia mengatakan sesuatu, saya sudah lebih dulu mengusirnya. “Silahkan sampeyan turun dari motor saya, order sudah saya cancel.”

Mas-mas itu pun turun dari motor dengan mulut melongo. Biar saja, sekali-kali orang memang perlu diberi sedikit kejutan agar tahu arti pentingnya bangun lebih pagi hingga tak gedandapan jika harus pergi. Dan menjaga lisannya hingga tak lepas kendali.

Tapi ternyata saya hanyalah laki-laki lemah hati. Melihat wajahnya yang panik karena terburu-buru, saya langsung jatuh iba dan menawarkan untuk mengantarnya secara manual. Singkat cerita, akhirnya mas-mas itu saya antarkan dengan selamat sampai tujuan – Stasiun Tugu. Tanpa aplikasi, dan gratis.

Dia memaksa memberi uang, tapi saya berkeras menolaknya. Jujur bukan sepenuhnya karena saya tulus ingin membantu, bukan. Melainkan saya hanya ingin agar dia juga paham, bahwa uang bukanlah satu-satunya yang dicari orang dalam bekerja. Ada keinginan di hati setiap manusia untuk juga dihargai sewajarnya sebagaimana yang lainnya. Itu saja!

Cerpen Singkat Gadis Bergingsul

Cerpen Singkat Gadis Bergingsul

Oleh: Hanamiko

“Ai, itu namanya gadis manis penuh ceria. Ada saja kelakuannya hingga disukai semua orang. Ah… Ai… Aku menyukainya.”

“Apa yang kamu tulis Joe?” tiba-tiba Ahmad menepuk pundakku. Membuatku refleks menutup lapiku.

“Ha! Tak ada.” jawabku gugup.

“Jangan bohong! Aku seperti membaca satu nama di situ.” selidik Ahmad.

“Tak ada, sudah sana jangan ganggu aku.” usirku sambil membalikkan tubuh.

“Aku tau kok, kamu suka Ai.” tebak Ahmad.

“Enggak. Kata siapa?” kilahku.

“Kata mata dan tubuhmu.” jelas Ahmad.

“Dasar vangke, aku memang tak bisa menyembunyikan apapun dari sahabat kecilku ini.” decit hatiku.

~~~

Semua tengah asik mengikuti pelajaran. Termasuk Ai dan aku. Ahmad sedari tadi melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh.

Aku tak perduli. Ai memang murid yang aktif dan kritis, hampir di semua pelajaran bibirnya yang manis selalu membuat guru-guru mati gaya menghadapi semua pertanyaannya. Sedang aku, aku hanya pengagum dari kepintarannya.

Dan kapan yah aku bisa menyatakan rasa suka di hati ini padanya. “Ai! Sini.” lambai Kiky.

“Ya.” balasnya setengah berlari.

Dukk..

Tanpa sengaja kami saling bertabrakan. Jantungku seperti jatuh ke lantai impian. Buku-buku yang kubawa berjatuhan di lantai. Bagai bunga segar di taman surga. Ya Allah, kami saling beradu pandang.

“Maaf ya, Joe. Ai tak melihat Joe tadi.” pintanya lembut.

“Ia tak apa.” balasku.

Sumpah berpapasan dengannya aku bisa seperti ini senangnya, bagaimana kalau memang aku jadi pacarnya. Dunia pasti sungguh indah rasanya.

Tapi itu nanti, aku akan mendekatimu lagi Ai, setelah aku sukses dalam hidupku dan akan kupastikan. Engkau akan jadi milikku. Kita sekolah dulu aja ya Ai.

“Hey, Joe apa yang kamu fikirkan?” tanya nya saat terus kutatap wajah teduh itu, yang sedang mengambil buku-buku di lantai.

“Ah, nggak apa-apa kok, aku hanya melihat seorang gadis manis sedang merapikan buku-buku.” Jelasku.

Wajahnya lalu memerah, malu. Tapi aku menyukainya gadis bergingsulku.

Cerpen Singkat: Belahan Jiwa

Cerpen Singkat Belahan Jiwa

Karya: Triandira

Pagi itu aku menunggunya dengan hati gelisah. Selama dua jam berdiri di pinggir jalan dekat tempatku bekerja. Sebenarnya aku mulai bosan, tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya-gadis penjual nasi bungkus yang berhati mulia.

Aku mengenalnya setelah kami mengalami peristiwa yang begitu menyedihkan. Ia kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya, sedangkan aku kehilangan sesuatu dalam diriku sebab alasan yang menyakitkan.

Tak jarang aku menyesali apa yang sudah terjadi, tapi sekarang justru sebaliknya. Aku bersyukur karena keadaan mulai membaik. Semangatku untuk menjalani hari-hari kembali tumbuh, merasakan lagi kebahagiaan yang telah lama menghilang, juga menemukan secercah harapan yang selama ini kuimpikan. Dan semua itu berkat gadis bernama Nara. Ia yang kini tengah berjalan mendekatiku dengan sebuah keranjang berisi nasi bungkus di tangannya.

“Syukurlah, aku kira kau tidak akan datang,” ucapku dengan senyum yang tersungging di wajah.

“Aku terlambat bangun jadi baru selesai membuatnya.”

“Kalau begitu ini masih hangat?”

“Tentu saja.” Ia menyodorkan sebungkus nasi dengan lauk yang kusuka,

“sepertinya kau benar-benar lapar.”

“Apa aku tidak salah dengar? Sudah menunggumu cukup lama, tentu saja aku merasa lapar.”

“Lalu kenapa tidak membeli di tempat lain saja?” “Kau yakin ingin kehilangan satu pelangganmu?”

Kami tertawa. Duduk berdampingan di sebuah bangku panjang yang terletak di dekat pohon rindang. Tempat di mana ia menjajakan dagangannya setiap hari. Menanti para pembeli yang datang dengan suka rela demi mendapatkan nasi bungkus yang enak dan murah.

Ia memang tak berniat mencari keuntungan yang banyak. Baginya, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari itu sudah cukup. Membawa pulang rupiah untuk ia tukarkan dengan sembako dan kebutuhan kecil lainnya. Sementara untuk mencukupi kebutuhan yang membutuhkan biaya lebih, ia mengandalkan kemampuannya dalam menjahit baju. Beberapa orang sudah menjadi pelanggannya, begitu pun denganku.

Biasanya aku datang ke rumah Nara dengan membawa celana yang sudah robek di beberapa bagian, lalu meminta gadis berparas ayu itu untuk memperbaikinya.

“Apa celanamu robek semua?” ujarnya heran. Sebulan belakangan aku memang sering menghampirinya. Bukan semata-mata karena celanaku robek, melainkan ada sesuatu yang belum bisa kujelaskan kepadanya.

Aku tahu Nara adalah gadis yang baik, karena itulah aku tidak siap kehilangan dirinya. Sebuah risiko yang kemungkinan akan terjadi jika aku berkata jujur – perihal alasan di balik sikap yang kutunjukkan. Apalagi jika peristiwa tiga bulan yang lalu kembali muncul di benakku.

Waktu itu hal yang menyakitkan terjadi. Aku pulang dari rumah sakit dalam keadaan frustrasi. Kata dokter aku menderita penyakit leukemia. Keadaanku yang cukup parah membuatku putus asa. Aku bingung, resah, dan takut. Tak mampu mengontrol emosi hingga akhirnya aku kehilangan konsentrasi saat mengemudi.

Tanpa sengaja aku menabrak Nara dan ayahnya yang sedang menyeberang jalan. Mobil yang melaju kencang membuatku kesulitan untuk menghentikannya, hingga kecelakaan pun tak dapat dihindari.

Nara tergeletak di aspal jalanan dalam keadaan pingsan, sedangkan ayahnya terpental tak berdaya dengan banyak luka di tubuhnya. Merasa panik, aku bergegas membawa mereka pergi ke rumah sakit terdekat.

Beberapa hari kemudian Nara sudah diijinkan pulang, tapi tidak dengan ayahnya. Karena itulah Nara memutuskan untuk tidak pulang dan menemani sang ayah di sana.

Menyadari hal itu aku semakin tak berani untuk mengakui kesalahanku. Aku tetap ke rumah sakit setiap hari, melihat kondisi mereka dari kejauhan tanpa Nara sadari.

“Bagaimana keadaannya, Yah?”

“Sudah mulai membaik,” jawab lelaki bermata sipit ayahku. “

Bersikaplah layaknya seorang lelaki, dan selesaikan masalah ini secepatnya.”

Akhirnya kalimat tersebut terlontar dari mulutnya. Membuatku sadar agar segera keluar dari persembunyianku selama ini. Meskipun aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, tapi aku sudah berniat untuk berkata jujur pada Nara. Namun di luar dugaan, sebelum aku mengatakan apa pun, Nara telah lebih dulu membuatku terkejut.

“Kau tidak perlu berpura-pura lagi,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“A-apa maksudmu?”

“Aku tahu ayahmu bukanlah penyebab kecelakaan itu terjadi, bukan?” Aku terhenyak. “Jadi, hentikan semua ini.”

“Maafkan aku.”

Kami terdiam. Tenggelam dalam benak masing-masing dengan raut wajah menegang. Ketika aku baru saja ingin mengatakan sesuatu, gadis itu meraih tongkatnya. Perlahan berdiri, lalu mendekat ke arahku dan menyodorkan celana yang sudah dijahitnya tadi.

“Aku menghargai apa yang sudah kau lakukan untuk kami. Pelunasan biaya rumah sakit itu….” Ia menghela napas sejenak, “terima kasih.”

Aku bergeming. Menatap wajahnya lekat-lekat dengan rasa sesal di hati. Tanpa harus mendengar ucapannya lagi, aku sudah mengerti bahwa ia menginginkan agar aku segera pergi. Menjauhinya atau bahkan lebih dari itu.

“Kita masih bisa bertemu lagi, bukan?” ucapku cemas.

“Aku rasa kita tidak perlu melakukannya.”

“Kenapa? Bukankah…”

“Aku mohon jangan pemah menemuiku lagi.”

Ia membuka pintu dan berdiri tanpa sedikit pun menatapku. Tak lama kemudian, aku berjalan menghampirinya. Sekali lagi mengucapkan kata maaf padanya, sebelum berdiri di teras dengan perasaan tak karuan.

Pelan, aku membalikkan badan dan menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Berharap ia kembali lalu mengijinkanku masuk lagi. Tapi tidak. Ia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Sedikit pun.

Bagaimana aku bisa menjauhimu, jika namamu saja sudah bersemayam kuat di hatiku? Nara.

Cerpen tentang Persahabatan

Cerpen tentang Persahabatan

Judul: Tragedi
By: Triandira

“Lihatlah, bagaimana menurutmu?” ucapmu antusias. “Aku terlihat cantik, bukan?”

“Ya, kau selalu terlihat cantik.”

“Lantas apa lagi yang kau tunggu? Ayo, bantu aku berdandan sekarang.”

Kau menyodorkan peralatan make-up, juga sisir yang sebelumnya tertata rapi di atas meja rias. Memintaku agar membantumu merias diri di hari yang sudah kau nantikan selama ini.

Sebagai calon pengantin kau terlihat sangat bahagia. Senyuman manis bahkan selalu tersungging di wajahmu. Mungkin kau sudah tidak sabar untuk melewati setiap rangkaian acara yang akan menjadi bukti penyatuan cinta kalian berdua. Saling mengucapkan janji suci untuk setia sehidup semati. Menjalani hari-hari dalam keadaan suka maupun duka.

Andai saja aku bisa merasakan juga kebahagiaan itu, pasti sudah kulakukan apa yang kau inginkan. Tapi pada kenyataannya, justru kesedihanlah yang kurasakan saat ini.

“Ah, sepertinya warna ini terlalu terang. Aku tidak suka.”

Aku terpatung. Menatap wajahmu dari cermin dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu kau masih saja meracau tanpa menyadari sesuatu dan hatiku semakin sakit mendengar apa yang kau ucapkan.

“Hey, apa yang kau lakukan?” katamu membuyarkan lamunanku. “Cepatlah, atau aku akan terlambat nanti.”

“Lis….”

“Ah, kau ini benar-benar lamban. Berikan padaku!”

“Hentikan, Lis!”

Kau terhenyak. Menatap wajahku dengan tubuh yang gemetar usai aku membentakmu. Sebenarnya aku tidak bermaksud demikian, tapi aku tidak punya pilihan selain melakukan hal itu.

Trauma yang kau rasakan sudah cukup menyedihkan, dan aku tidak ingin melihatmu semakin terluka.

“Sadarlah,” bisikku sambil memelukmu dengan erat. “Kumohon jangan seperti ini lagi.”

Seketika keheningan menyergap di antara kita. Tak ada lagi yang terdengar selain isak tangis yang mendera. Saat itu mungkin kau sudah mengingat apa yang telah menimpa Roni calon suamimu, di hari pernikahan kalian.

Kita sama-sama tahu bahwa takdir telah merenggutnya darimu, tapi terpuruk dalam waktu yang lama bukanlah sebuah jawaban.

Hidup terus berjalan, dan masa lalu yang kelam seharusnya tidak menjadi penghalang bagimu untuk merasakan kebahagiaan. Apalagi sampai membuatmu berputus asa.

“Cobalah untuk mengikhlaskan kepergiannya,” bisikku. Kau mengangguk sambil terus terisak.

Setelah puas menumpahkan air mata, aku menyuruhmu duduk di tepian ranjang. Di saat kau mulai tenang, aku bergegas merapikan gaun pengantin dan peralatan make up yang berserakan. Sejurus kemudian, kamarmu sudah rapi seperti sedia kala.

“Aku ambilkan minum dulu, ya. Tidak apa-apa kan, kutinggal sebentar?”

Kau mengangguk, menyetujui ucapanku. Tak ingin membuatmu menungggu terlalu lama, aku segera menuju dapur. Mengambil segelas air minum dan semangkuk sup hangat sesuai permintaan ibumu.

Kata beliau, beberapa hari ini kau tidak bersemangat saat makan. Suka mengurung diri di kamar, dan tiba-tiba saja kau bersikap aneh sejak tadi pagi. Karena itulah aku datang menemuimu usai perempuan paruh baya itu meneleponku.

“Bangunlah, Lis. Aku membawakan ini untukmu,” ujarku sambil meletakkan nampan di atas meja.

Tak ada jawaban. Khawatir makanan yang kubawa menjadi dingin, aku membangunkanmu. Menggoyang tubuhmu perlahan sampai akhirnya menyadari sesuatu.

“Aaaa!!!”

Ibumu datang begitu mendengar teriakanku. Menangis tersedu-sedu di samping tubuh anaknya yang sudah terbujur kaku.

Sedangkan aku masih sibuk menyumpal darah yang keluar dari pergelangan tanganmu.

“Bangun, Lis!” jeritku dengan suara parau. “Banguuun!!!”

Aku termangu saat kau tak kunjung membuka mata, juga setelah aku menyadari bahwa kau telah pergi. Menyusul Roni yang telah meninggalkanmu sebelum pernikahan kalian terjadi, seminggu yang lalu. Kenyataan pahit itulah yang akhirnya membuatku kehilanganmu – sahabat tercinta, untuk selamanya.(*)

Cerpen singkat Semesta dan Dua Hujan

Cerpen singkat Semesta dan Dua Hujan

Karya: M Da’i Kuncoro

Bumi

Apa itu rindu? Adalah sesaknya dada setelah lama tak bersua.

Hujan bukti cintamu. Hidup bukti kasihku. Inilah kita. Bumi dan Langit.

Sayang seribu kali sayang. Telah lama sudah tak kunikmati sejuknya Hujan yang membasuh tanahku. Ia kini tandus, wahai Langit. Tidakkah kau melihatnya?

Aku sungguh merindukan Hujan. Rinduku berbuah Kemarau. Perasaanku menjadi petaka yang menghancurkan kehidupan. Andai engkau tahu, Kemaraulah yang merontokkan hutan hingga gundul. Ia pulalah yang menyebar kelaparan hingga jutaan nyawa manusia gugur di atas wajahku yang tak lagi subur. Berbulan sudah kurasakan sakit ini. Tanpa Hujanmu. Tanpa cintamu.

Katakan, Langit. Benarkah engkau tak lagi cinta padaku? Benarkah engkau tak lagi sudi berhubungan denganku? Sesungguhnya aku masih menunggu keajaiban darimu.

Oh, Semesta.

Diceritakan pada zaman dahulu kala, Bumi dan Langit dicipta bersama oleh Semesta Yang Maha Kuasa. Keduanya hidup bersisian selama jutaan tahun atas kehendak-Nya. Kala itu belum ada kehidupan sejati seperti yang kita-manusia kenal sekarang.

Hari-hari mereka lalui dengan saling menatap ke wajah masing-masing. Bumi tahu ia jatuh cinta pada birunya Langit. Begitu pun Langit yang terpana oleh indahnya wajah Bumi. Semesta sungguh sadar bahwa mereka memang diciptakan untuk mendampingi satu sama lain, tetapi tidak untuk dipersatukan. Cepat atau lambat mereka akan mengetahui hal itu.

“Wahai Bumi dan Langit. Sesungguhnya aku memang menciptakan kamu berdua untuk saling mencintai, tapi tidak untuk bersatu.”

Baik Bumi maupun langit terpana mendengar firman Sang Semesta. Yang Maha Kuasa tahu betul apa yang mereka rasakan walau tak pernah mereka tunjukkan.

“Benih cinta yang tumbuh di antara kalian terlampau indah. Sebab itulah, dimulai dari sekarang, kehendak-Ku akan mengizinkanmu, Langit, untuk menurunkan Hujan sebagai bukti jika engkau benar-benar mengasihi Bumi.”

Langit sontak menggemuruh sebab senangnya. Wajahnya yang semula biru lantas menggelap diikuti hembusan angin kencang yang menyejukkan. Hujan akan segera turun.

“Terimalah buah cintaku, Sayang.” Bumi teramat gembira. Lihatlah, bahkan Semesta pun merestui hubungan mereka. Ia sangat menikmati setiap tetes air yang diturunkan kekasihnya. Perlahan samudera mulai terisi bersamaan dengan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan. Kini Bumi merasa hidup dan dipenuhi kehidupan.

Hujan akhirnya mereda, tetapi masih menyisakan tirai tipis gerimis yang membiaskan cahaya Mentari. Hadiah terakhir dari Langit. Namanya adalah Pelangi.

Sejak peristiwa Hujan Pertama, Langit mulai menurunkan Hujan di berbagai wilayah di Bumi. Lambat laun sistem kehidupan kompleks pun terbentuk, hingga pada akhirnya memunculkan manusia sebagai penguasa di atas dunia.

Milyaran tahun lamanya dua sejoli kosmik itu menjalin kasih. Dan selama itu pula kehidupan berlangsung sebagaimana mestinya. Sampai suatu ketika datanglah Kemarau panjang. Kehidupan musnah dalam hitungan bulan. Sebaliknya, kematian seolah menjelang tepat di ujung pandangan.

Tak ada yang bisa mereka lakukan. Bumi mulai menyalahkan dirinya sendiri yang menyebabkan Langit tak mau lagi menurunkan Hujan. Ia menjadi sangat putus asa melihat suburnya hidup lenyap dalam sekejap.

Di lain sisi, Langit hanya dapat diam dan menyaksikan pula. Hujan ada di luar kendalinya. Hanya atas izin Semestalah Hujan dapat turun. Bahkan meski Bumi di hadapannya hancur, walau kehidupan di depan wajahnya musnah, ia tetap tak punya kekuasaan apa-apa.

Namun, Semesta sesungguhnya tengah menguji mereka.

***

Langit

Bersabarlah, Kasih.

Sesak itu tak akan lama.

Bukan berarti aku tak cinta. Mungkin memang keadaanlah yang tak sayang kita.

Siang malam aku berdoa pada Semesta. Meminta izin pada-Nya agar lekas menurunkan Hujan. Agar segera dapat menyampaikan perasaan yang tak tertahan, wahai Bumi. Tidakkah engkau menyadarinya?

Aku putus asa.

Ketika hari ini akhirnya datang, aku hampir benar-benar putus harapan. Wajahku mulai menggelap tatkala angin berhembus kencang dari empat penjuru. Tetesan bening perlahan jatuh dari tubuhku. Aku bersyukur. Hari ini, Semesta mengabulkan segala harapan kita yang hanya satu : kesempatan untuk mencinta dan dicintai segenap hati.

Kulihat tanahmu berangsur subur. Kusaksikan kehidupanmu kembali tumbuh. Inilah kekuatan cinta. Biarlah ia tak menghidupkan yang mati. Tapi satu yang pasti, ia selalu menyembuhkan yang terluka.

Kuharap kau bahagia di bawah sana.

Oh, Bumi.

***

Cerpen Persahabatan dan Cinta

Cerpen Persahabatan dan Cinta

Judul: Kata terakhir
Karya: Araa Yasiz

Suara petir menggelegar, memekakan telinga bahkan mirip suara hantu yang menakutkan. Rintikan air hujan terdengar bising, mengalahkan isak tangisku yang tertahan.

Bayang-bayang kenangan dulu, menguar tak terelakan.

“Bara, gue kangen.”

Kata itu tercekat, tak tahu harus ku katakan pada siapa. Bara Fauzan, sahabat kecilku sekaligus cinta pertamaku.

Cinta yang tak pernah aku sadari, cinta yang ku kira takkan pernah hadir terselip di antara dua orang sahabat.

“Ai, lo tahu gak?” tanya Bara suatu hari.

“Tahu apaan?”

“Kalo gue sebenarnya suka sama… ”

Kupotong kalimatnya cepat, merasa heboh sendiri perihal Bara menyukai seseorang. Pasalnya sampai SMA pun ia tak pernah singgah dalam zona pacaran. Dan seharusnya kusadari sejak dulu, Bara berada dalam zona Friendzone bersamaku.

Aku tidak peka memang.

“Gimana sih cara bikin orang peka?” tanya Bara dua bulan lalu. Aku hanya tertawa keras mendengar pertanyaan konyolnya waktu itu.

“’Kenapa main kode sih, tembak aja langsung! Cemen lo.” ejekku membuat Bara termenung, berpikir keras.

Tapi entah kenapa sampai detik terakhir, Bara tak pernah mengatakan cintanya untukku. Di detik terakhir, di atas bangsal rumah sakit, Bara hanya mengucapkan “Ai, jangan kangen sama gue ya!”.

Ingin rasanya aku mengutuk penyakit kanker ganas yang menggerogoti tubuh Bara, membuatnya pergi meninggalkanku. Meninggalkan rasa yang datang terlambat.

Sehari seusai pemakaman Bara, mamanya datang menemuiku. Memberikan kertas lusuh.

Dear Ainara, sahabatku

Tak banyak yang ingin kutulis, karena ingin sekali rasa ini kuungkap.

Aku mencintaimu, Ai.

Mungkin ini semua berakibat fatal bagi persahabatan kita. Aku takut semuanya berubah, tapi memang itulah akibatnya.

Aku tidak meminta sebuah jawaban, karena mungkin aku tak pernah bisa lagi duduk di sampingmu, mendengar celotehmu dan menghapus air matamu.

Aku pergi. Dan ingat satu kataku ‘jangan merindukanku ‘.

Bara Fauzan

Isakku semakin keras bahkan hampir mengalahkan rintikan hujan yang semakin deras. Aku menyadari rasa ini memang terlambat dan aku takkan pernah lupa kata terakhir yang Bara ucapkan padaku.

Meski realitanya aku tetap merindukan Bara.


Itulah beberapa contoh cerpen singkat yang bisa kami sajikan. Semoga bermanfaat. ^.^

Tinggalkan komentar